20

1393 Kata

Aku tidak bisa menahan mual yang mendera setelah naik kereta pertama menuju Bogor. Tekadku bulat, ingin menguak apa yang tengah dimainkan Admiral di belakangku. Perutku sama sekali belum terisi sejak aku meninggalkan apartemen Admiral subuh tadi. Kerumunan manusia yang berjalan melawan arah menambah potensiku ingin mengeluarkan segala gumpalan dalam kerongkongan. Aku memicingkan mata, berusaha fokus pada jalan keluar stasiun. Langit masih cukup gelap dan lalu lalang kendaraan kota ini sudah menyaingi keramaian ibukota. Kakiku bagai jeli dan badanku ditimpa beban ribuan kilo. Tahan, Vhi, motivasi dalam hatiku agar kuat menahan gejolak aneh dalam diri.   OoO   Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit daerah tempat Athar bekerja. Suasananya cukup ramai. Kakiku bergerak menuju sekerumun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN