Pukul 23:30 malam, Nayla belum bisa menutup mata. Hatinya gusar, pikirannya melayang ke mana-mana. Dia merasa wajar memarahi Yasa dan mengusir pria itu pergi. Tapi kenapa harus hatinya yang sakit? Dia kesakitan saat berkata kasar terhadap Yasa. Jika saja Yasa tidak membohonginya, mungkin sekarang akan jadi hari bahagia. Nayla sedikit menoleh saat ada sekelebatan cahaya menembus gorden di jendela kamarnya. Seolah ada lampu senter yang sengaja disorotkan ke sana. Dia pun beringsut dari tempat tidur dan memeriksa jendela. Disibaknya gorden berwarna kuning keemasan itu sampai dia lihat jelas dalam gelap malam, seseorang berdiri di halaman rumahnya dengan sebuah tenda kecil yang telah terpasang utuh. “Orang itu!” geram Nayla. Secepat kilat langkah lebarnya keluar kamar dan menuju halaman ru

