“Vano udah tidur?” tanya Yasa saat Nayla sibuk menyiapkan semangkuk bubur untuknya di dapur. Dia tidak bisa makan enak, Nayla melarangnya makan makanan yang mengandung garam berlebihan. “Udah. Kamu makan dulu, Yas. Sebelum tidur jangan lupa diminum obatnya.” Nayla menyodorkan semangkuk buburnya kepada Yasa. Pria itu hanya mengangguk pelan sekaligus meniup sesendok kecil buburnya. “Abis ini gue mau langsung pulang ke apartemen.” Yasa menelan makanannya dengan susah payah. Mulutnya terasa pahit, dan tidak mengizinkannya makan enak. Sedangkan di sampingnya, Nayla memasang wajah muram. Dia kurang setuju jika Yasa pergi dari rumah dalam keadaan seperti ini. “Apa harus malam ini?” “Kenapa emang? Masih betah lama-lama sama gue, ya?” ledek Yasa dengan cengiran lebar. Nayla berdecak kesal. Di

