"Ana, kamu mau ke mana?" tanya ibu saat pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan berpakaian rapi. Pagi ini aku memang berencana hendak ke pengadilan agama setempat untuk bertanya mengenai proses mengajukan gugatan perceraian, mengingat tentu saja ini kali pertama aku akan melakukannya. Kutatap sendu wajah ibu lalu menyahut, "Ana mau ke pengadilan agama, Bu. Mau tanya-tanya proses mengajukan gugatan perceraian di sana. Ana merasa sudah gak bisa lagi bertahan dalam perkawinan yang gak sehat bersama Mas Arya. Maafkan Ana karena sudah salah pilih suami ya, Bu. Semoga selanjutnya gak terulang lagi," ucapku sembari menghela nafas gundah. Ibu tersenyum lalu mengangguk, "aamiin. Gak papa, An. Ibu dan Bapak mengerti kok. Kami menyerahkan semuanya padamu. Sebab kamu juga yang menjalani pernikahan.

