"Permisi! Aku mau lewat," ucapku memecah percakapan dua sosok manusia itu di teras. Mas Arya menoleh, wajahnya begitu terkejut mendapatiku membawa pakaian dan menggendong Via yang syukur, tak pernah rewel atau cengeng dan menurut saja saat kugendong setelah kubangunkan paksa dari tidurnya. Gadis kecilku itu seakan tahu kondisiku yang sedang tidak baik-baik saja dengan papanya sehingga hanya diam saja dalam gendonganku. "Kamu mau ke mana, An?" tanya Mas Arya dengan nada suara khawatir dan cemas. Cemas aku pergi dan meninggalkannya dalam kesulitan sendirian. "Urusan di antara kita sudah selesai, Mas. Jadi, biarkan aku pergi. Kamu urus saja perempuan ini. Aku biar mengurus diriku sendiri dan Via, biar kamu juga bisa fokus mengurus istri dan keluarga barumu. Oke?" ucapku dengan nada dingi

