Awal Pertemuan

1032 Kata
Suatu hari tanpa sengaja aku dan suami bertemu dengan mantan teman kerja suamiku. Namanya Mas Rey. Dia dulunya atasan suamiku, tapi sekarang memiliki usaha sendiri. Sempat kami berbincang sebentar, hingga akhirnya suamiku iseng-iseng bertanya mengenai orang yang bisa ruqyah secara syar’i. Rupanya mas Rey sudah mengetahui sejak awal, karena dia sudah merasakan dengan sosok yang ada pada diriku. Dan beliau memberi saran pada saudaranya yang mungkin saja bisa membantu. Obrolan kami berlanjut, dan Mas Rey mengaturkan waktu bertemu dengan keluarganya untuk mengobati aku dan suamiku. Hingga hari yang ku nantikan akhirnya telah tiba. Entah kenapa aku kok merasa sudah nervous duluan, padahal belum bertemu dengan keluarga Mas Rey. Rasa was-was terus menghantui. Bulir-bulir keringatpun mulai membasahi tubuh. Rasanya ingin ku batalkan saja acara hari itu. Aku coba bicarakan lagi dengan suamiku. Sengaja buat alasan, agar suamiku membatalkan acara itu. Suamiku yang merasa iba melihatku, dengan terpaksa menelpon Mas Rey untuk menunda acara hari itu.Setelah dipastikan batal, rasa was-was tadi perlahan mulai mereda. Ku coba sejenak istirahat di kamarku. Tiga hari berikutnya aku dan suami mencoba lagi untuk buat janji dengan Mas Rey. Dan kembali lagi terulang kejadian yang sama. Dadaku terasa sakit. Semakin ku paksa untuk jalan, semakin bertambah juga sakitnya. Suamiku melihat kondisiku kembali terenyuh. Aku lalu dipapah masuk ke kamar. Suamiku langsung menghubungi Mas Rey dan kembali menunda pertemuan kami. Aku dan suami semakin kurang nyaman dengan Mas Rey karena ini sudah yang kedua kali kami membatalkan. Hingga sempat terbersit keinginan untuk mencari jasa ruqiah yang lain. Karena ga enak sudah kedua kalinya membatalkan pengobatan itu. Tapi jauh dalam hatiku juga turut berontak, memaksa ku untuk berobat ke Mas Rey dan keluarganya. Dorongan itu semakin kuat tapi rasa sakitnya juga terasa sekali. Suami ku juga memahami kondisi ku. Kurang lebih hampir 2 pekan kami tidak menghubungi Mas Rey. Hingga suatu hari ketika tiba-tiba ada sebuah suara di telpon yang mengagetkan kami, dimana suara itu adalah suara Mas Rey. Awalnya ia hanya menanyakan kabar kami. Hingga bahasan kami berubah ke soal ruqiah. Mas Rey coba mengingatkan kami kembali agar segera menemui dia dan saudaranya. Entah kenapa ketika beliau yang menelpon aku merasa ada yang beda pada diriku. Semacam ada reaksi untuk menolaknya. Aku coba bicarakan dengan suamiku mengenai sesuatu dalam diriku yang selalu menolaknya. Namun aku cerita juga, jika jauh dalam diriku ada rasa yang mendorong aku untuk datang ke Mas Rey dan saudaranya. Suamiku lalu coba memberi semangat untuk mencoba melawan rasa takut tadi. Tepatnya hari kamis, ba’da isya aku dan suami berusaha menepati janji kami menemui Mas Rey dan keluarganya.  Kali ini aku benar-benar bertekad untuk menemui Mas Rey dan keluarganya. Seharian aku menahan sakit di dadaku. Keringat dingin seluruh badanku mulai membasahi pakaianku. Padahal acaranya malam tapi serangan sudah dimulai sejak pagi. Ketika di bawa shalat kondisinya mulai berubah agak enakan. Sepanjang perjalanan ada saja halangan kami menuju rumah keluarganya Mas Rey. Mulai gangguan mesin motor, arah yang tersesat, sampai penampakan-penampakan yang tidak lazim. Aku terus istighfar sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya kami tiba disebuah rumah sederhana milik keluarga Mas Rey. Disitu kami sudah ditunggu Mas Rey dan saudara-saudaranya. Awal menginjak pelataran rumah, aku mulai bereaksi lagi. Aku coba membujuk suami supaya kita balik kanan saja alias pulang. Suamiku berusaha membujuk agar kita mencoba dulu. Mungkin suami punya firasat sendiri kalau ini mungkin sebuah petunjuk untuk kesembuhanku. Setiap langkahku masuk menuju ke rumah itu, maka semakin bergetar terus badanku. Tidak pernah seumur hidupku aku merasakan getaran seperti ini. Paling maksimal merinding, tapi ini sensasinya sungguh luar biasa. Rumah yang awalnya ku lihat sederhana, tiba tiba samar-samar terlihat megah nan indah. Padahal tadi waktu awal datang rumah itu hanya tampak sederhana. Auranya pun beda. Terasa nyaman dan damai. Benar-benar luar biasa sensasinya. Satu sisi rasa penolakan itu dan satu sisi kebalikannya. “Assalammualaikum…” ucap kami dari luar rumah. “Waalaikumsalam” terlihat seseorang keluar dari rumah, ternyata Mas Rey. “Alhamdulillah akhirnya sampai juga ya” sapa Mas Rey. “Iya mas, maaf agak telat, tadi sempat kesasar,” jawab suamiku. Mas Rey lalu mempersilahkan kami masuk. Aku yang sedari tadi kurang nyaman, bertambah gelisah ketika Mas Rey menyuruh masuk rumah. “Ayo Mba Riris, ga usah malu-malu” kata Mas Rey. Tanpa sadar aku tersenyum kecut dan Mas Rey membalas dengan senyuman, sepertinya Mas Rey sudah paham, kalau itu bukan diriku yang sebenarnya. Tanganku langsung diraih suamiku. Suamiku sedikit memaksa agar masuk rumah. Dan akhirnya aku benar-benar telah memasuki rumah itu. Di ruang tamu itu terlihat agak sempit, terdapat 1 set meja kursi tamu sederhana yang terbuat dari kayu. Dan disitu sudah ada beberapa orang yang telah menanti kehadiran kami. Ada beberapa pria dan juga wanita. Tak ada satupun yang ku kenal. Semua mata tertuju padaku. Entah kenapa aku tidak berani melihat mereka semua, aku hanya tertunduk. Padahal tatapan mereka penuh keramahan, namun dalam diriku tidak merasa demikian. Aku merasa benci dengan mereka yang hadir disitu. Baru beberapa langkah dalam ruangan itu, tanpa kusadari kata suamiku, aku berontak ingin minta pulang tapi suara yang keluar dari mulut ku bukan suaraku. Kata suamiku saat kejadian itu, dalam sekejap orang-orang yang ada di rumah saudara Mas Rey tadi langsung berusaha menenangkan diriku. Aku berusaha melawan terus, berteriak sekeras-kerasnya. Hingga akhirnya ada salah satu saudara Mas Rey yang menyuruh aku untuk tenang. Dari suara yang terdengar sepertinya sosok itu sangat berwibawa. Dan herannya aku tak berani berontak dan kembali tenang setelah mendengar suara tersebut. Setelah aku tersadar, dihadapanku sudah duduk beberapa orang saudara Mas Rey dan suamiku disisiku. Satu persatu memperkenalkan diri. Kami langsung mengakrabkan diri. Banyak hal yang ku ceritakan pada mereka mengenai latar belakang penyakit atau gangguan yang sering kami alami. Baik ketika aku belum menikah hingga akhirnya diobati oleh Mas Erik. Setelah cukup mengobrolnya, aku pun memulai prosesi ruqiah. Namun sebelum itu aku diminta untuk mengambil air wudlu. Kemudian memasang mukena yang telah disiapkan tuan rumah. Aku berhadapan dengan satu orang pria yang kebetulan tuan rumah dan kakak tertua dari mas Rey, namanya Pak Ari. Sebelumnya peruqiah itu juga sudah minta maaf/permisi dengan suamiku, karena harus melalui proses ruqiah ini. Selanjutnya aku disuruh berkonsentrasi sambil membaca Istighfar, Shalawat, dan Fateha 4 bersama-sama Pak Ari. Kedua telapak tanganku ditaruh diatas telapak tangan Pak Ari. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN