Ruqiah Massal

1071 Kata
Ini adalah cerita tentang ruqiah. Ruqiah adalah salah satu alternative metode penyembuhan dengan cara membacakan sesuatu kepada orang yang sedang sakit. Biasanya yang dibaca adalah bacaan-bacaan dari surat Al-Qur’an. Namun seiring perkembangan zaman, selain melalui metode diatas, ada juga melalui penarikan langsung oleh orang yang ahli atau orang yang memiliki ‘kelebihan’, baik itu kiai, ustad atau orang biasa sekalipun. Siapapun orang di dunia ini ingin hidup sehat, termasuk aku, Riris. Perawan ting ting yang ramah dan suka berpetualang. Tidak hanya sehat secara lahiriah, namun batiniah juga. Aku percaya dalam kehidupan semua penyakit pasti ada obatnya, tentunya semua atas ijin Allah SWT. Namun ada juga penyakit tertentu yang penyembuhannya tidak melalui proses medis. Salah satunya melalui RUQIAH. Hari itu aku mendengar kabar bahwa di masjid di kampungku akan diadakan ruqiah massal. Mendengar berita itu hatiku sedikit kegirangan, karena sudah lama aku ingin menyaksikan secara langsung proses ruqiah itu. Ada rasa kepo yang akut mengenai ruqiah ini, apakah sama dengan yang sering ku saksikan di TV. Rasanya sudah tak sabar dengan acara tersebut. Sementara warga dikampung sudah pada heboh dengan berita itu. Apalagi teman-teman se-umuranku, terutama kaum hawanya. Luar biasa antusias. Hingga akhirnya hari yang dinantikan telah tiba. Acara itu sebenarnya di mulai ba’da Isya. Karena khawatir tidak mendapatkan tempat paling depan, aku dan teman-teman sepakat hadir di masjid sebelum magrib, artinya kami sekalian solat magrib berjamaah di masjid. Setelah selesai solat magrib kami tidak langsung pulang, walau jarak rumah kami dari masjid cukup dekat. Kami tetap menunggu di masjid. Menjelang waktu solat isya kami melihat kedatangan beberapa orang asing di mata kami. Semua berpikir pasti ini orang-orang atau praktisi yang akan melakukan ruqiah massal. Ternyata memang benar. Selepas solat isya selesai, para peruqiah yang terdiri dari 5 orang pria tadi mulai beraksi. Awalnya mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan mengenai ruqiah. Setelah panjang lebar cerita, maka dimulailah proses ruqiah tersebut. Semua orang yang mau diruqiah diwajibkan meminum air yang sudah mereka siapkan. Peserta malam itu banyak yang ingin diruqiah, karena keterbatasan maka panitia membatasi hanya 20 orang, termasuk aku salah satunya. Entah kenapa aku juga ditunjuk panitia, padahal aku hanya penasaran bukan mau diruqiah. Tapi dalam hatiku kepo banget, seperti apa sih di ruqiah itu. Setelah minum air yang disiapkan peruqiah, beberapa orang mulai bereaksi. Ada yang langsung kesurupan, ada yang muntah-muntah, ada yang tak sadarkan diri, ada yang kesakitan perutnya, dan reaksi lainnya. Hanya aku sendiri yang belum merasakan reaksi apapun dari air itu. Selang beberapa menit baru dalam tubuhku terasa dingin seperti es, kemudian berubah menjadi panas, terutama badan bagian belakangku. Aku kira reaksi begini adalah hal biasa, aku hanya tertawa kecil berusaha menutupi apa yang kurasakan, karena menjaga gengsi dengan teman-teman sekampung. Dalam sekejap kupandangi teman-teman yang menyaksikan ruqiahku sambil tersenyum. Peruqiah mulai heran dengan reaksiku. Karena hanya aku yang tidak mengalami reaksi apapun. “Maaf mba, apa yang mba keluhkan, apa ada yang sakit?” tanya peruqiah 1. Aku jawab sekenanya “anu anu mas, badan saya sering kesakitan”. Lalu peruqiah 1 memberi kode pada peruqiah 2 agar menangani aku. Sekejap kemudian peruqiah 2 hadir di hadapanku. Aku disuruh membalikkan badan, membelakangi peruqiah tersebut. “Maaf ya mba saya pegang badan bagian belakang” ucap peruqiah 2. Karena kulihat ia menggunakan sarung tangan maka ku perbolehkan “silahkan mas”. Begitu tangan peruqiah menyentuh badanku, ada sesuatu yang tiba-tiba serasa masuk ke dalam tubuhku. Terasa hangat, semakin lama terasa nyaman dalam tubuhku. Mataku terpejam-pejam karena merasakan nikmatnya hawa itu. Selang beberapa menit, akupun tersadar. Ku lihat sekelilingku seketika itu berubah. Bukan orang-orang warga kampung yang biasa ku temui. Wajah-wajah mereka tidak ada satupun yang ku kenal. Malah tampak menyeramkan. Bentuknya bermacam-macam, ada seperti nenek yang separuh wajahnya hancur, ada si mba kunti, ada si om Gun, ada juga sosok seperti kera, ada manusia setengah binatang, dan lain-lain. Begitu juga dengan para peruqiah. Mereka malah tersenyum ke arahku. Wajah para peruqiah itu bukan wajah mereka sesungguhnya. Ya Allah aku hanya bisa tertunduk. Tak berapa lama pundakku terasa ada yang memukul dan memanggilku “mba..mba..mba, sadar mba” kata suara itu. Tanpa banyak bicara, aku langsung pamitan dengan peruqiah tadi. Tak lupa ku ucapkan terima kasih dan ku selipkan selembar tali asih. Padahal acara itu belum selesai. Aku langsung meninggalkan teman-temanku yang hanya termangu melihat kepergianku tanpa pamit dengan mereka. Sampai di rumah, aku langsung masuk rumah tanpa ucapkan salam. Ibuku yang melihat aku, hanya terdiam. Aku langsung masuk kamarku. Ku rebahkan tubuhku di ranjangku. Lalu kututup wajahku dengan bantal. Sulit ku lupakan apa yang terjadi di masjid tadi. Semakin lama semakin jelas. Semua wajah yang kulihat seperti menghantuiku. Tetap ku berusaha memejamkan mataku. Sekuat tenaga kucoba lupakan kejadian tadi. Ku bolak balik badanku beberapa saat, akhirnya malam itupun aku tertidur lebih cepat dari hari biasanya. Aku mengira dengan tidur, aku bisa melupakan kejadian itu, ternyata aku salah. Justru dalam tidur itu aku bertambah sial nasibku. Dalam mimpi kejadiannya sama dengan waktu ruqiah tadi. Hanya di mimpi itu aku di tunjukkan bagaimana proses mereka meruqiah orang-orang warga kampungku. Dan apa tujuan dari ruqiah itu. Apa akibat dari ruqiah itu. Semua sangat jelas di lihatkan dalam mimpiku. Semua wajah para peruqiah dalam mimpiku tampak marah sekali. Aku hanya bisa tertunduk. Berharap ada pertolongan, ada keajaiban. Tak berapa lama akupun tersadar dengan sendirinya. Tapi anehnya badanku tak bisa bergerak sedikitpun. Mataku pun tak bisa ku buka. Dadaku malah berdegup kencang. Ya Allah, apalagi ini dalam hatiku berkata. Kakiku berasa dingin, sementara badan panas. Jadi seluruh tubuh bercampur aduk rasanya. Perlahan-lahan aku berusaha membuka mataku. Pelan pelan dan … Astaghfirullah, ya Allah, kok mereka semua disini batinku sambil menangis ketakutan. Aku berusaha membaca surah-surah Qur’an yang ku tahu. Mereka semua malah tersenyum. Mungkin karena aku bacanya tidak begitu lancar, karena aku tidak konsen lagi. Atau bisa juga karena rasa takutku sudah menyelimuti diriku. Sampai ketika ada yang memanggil namaku. Baru aku tersadar. Ternyata yang tadi juga mimpi. Ibuku sudah berada disisiku. Langsung kupeluk beliau sambil menangis. Mimpi itu sementara ku tutup rapat-rapat. Tak ada seorang pun yang tahu. Ibuku hanya tersenyum melihat tingkahku. Paginya seperti biasa rutinitas sehari hari aku bekerja pada sebuah perusahaan distributor di sekitar pergudangan. Tidak seperti biasanya, hari ini aku tidak terlihat ceria. Karena aku memiliki karakter orang yang periang, tukang celoteh, makanya temenku banyak. Entah kenapa hari itu aku terlihat kusut sekali. Teman-teman kerja yang biasa menyapaku, tidak berani menegurku, kata mereka aku terlihat beda dari biasanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN