Teman Tidur

1638 Kata
Bermimpi indah mungkin menjadi harapan setiap orang ketika meletakkan kepala di atas bantal. Begitupun denganku. Sebagai seorang wanita yang memasuki usia menikah, kadang  berharap bunga tidur menghiasi malam.   Mungkin peri tidur sedang ingin berbaik hati denganku, seorang pemuda tampan, yang memiliki fisik nyaris sempurna, hadir setiap mata terpejam.   Aku merasakan semua itu nyata. Sangat nyata. Lelaki itu berhasil memikat hatiku. Dalam mimpi, kami melalui hal indah bersama-sama.   Sampai pada malam itu ...   “Hahh!” Aku terbangun dengan napas terengah-engah. Mendadak, mata bersirobok dengan kegelapan. Spontan, aku bangkit dari pembaringan, meraba-raba mencari saklar lampu.   Syukurlah. Aku mengembus napas kuat-kuat. Menyadari yang terjadi tadi hanya mimpi.   Mimpi yang ... entahlah. Aku sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. Mengerikan atau justru ... menyenangkan?   Sekali lagi, aku hanya wanita normal.   Aku meraba-raba seluruh badan. Memastikan pakaian masih terpakai rapi. Tidak ada kejanggalan. Namun, mimpi itu terasa sangat nyata. Lelaki itu, pemuda tampan itu menjamah tubuhku.   Ada sensasi menggelikan, menjijikkan. Sekaligus mendebarkan. Aku bisa merasakan jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.   Ini hanya mimpi. Ya, ini hanya mimpi.   Aku meyakinkan hal itu berulang kali.     Pernahkah kau merasakan sesuatu yang ingin kau tolak kuat-kuat, tetapi justru tak berdaya?   Itulah yang kualami akhir-akhir ini. Kala badan sudah rebah di atas ranjang, dan mata terpejam rapat, aku seakan kehilangan kendali atas diriku sendiri.   Dia datang sekali lagi. Setiap hari.   Seolah-olah dia menjadi teman tidurku. Pemuda itu. Lama-kelamaan, aku menjadi terbiasa.   Aku menganggap semua ini hanya mimpi. Ya, seperti itu. Dia akan memudar seiring waktu. Namun, rupanya aku salah duga.   Bahkan hingga aku berkeluarga, dia tetap datang dan mencumbui setiap malam, dalam mimpi. Aku risih, tentu saja. Aku sudah memiliki suami yang sangat kucintai. Tidak mungkin selingkuh darinya, meski dalam impian.   “Dik, kamu kenapa?”   Aku merasakan tangan diguncang pelan, mendengar suara khawatir suami, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu tidak akan melepaskan sebelum usai melaksanakan tujuannya.   Aku menangis. Lelehan air mata kurasakan mengalir membasahi pipi.   “Dik, bangun! Hei, kamu kenapa? Hei, bangun!”   Guncangan semakin keras seiring kepergian lelaki misterius itu, aku berhasil terbangun. Suami segera kupeluk erat-erat, menumpahkan segala keresahan di dadanya.   “Aku mimpi buruk, Mas. Aku takut.” Aku tidak berani mengatakan hal sebenarnya. Anggaplah aku pengecut karena takut dia tersinggung dan marah.   Suami hanya membelai punggung, lalu melepaskan pelukan. Ia mengusap air mataku.   “Itu Cuma mimpi. Ayo, kita tidur lagi. Pasti kamu lupa baca doa. Aku kaget tadi tiba-tiba kamu mengerang.”   Aku terdiam, tak berani menjawab. Menurut saja saat ia membantuku berbaring. Lelaki 30 tahun ini sangat sabar menghadapiku. Aku tidak ingin menyakiti hatinya.   Hingga malam beranjak pagi, aku tidak berani melelapkan diri.     Tanganku bergerak membilas satu demi satu piring yang baru saja disabun. Sementara itu, bibirku menggumam menyanyikan sebuah lagu kesukaan.   Sejak awal menikah, aku dan Mas Hardi—suamiku—menempati sebuah rumah yang berdampingan dengan kediaman mertua dan kakak ipar. Tak mengapa, mereka sangat baik kepadaku. Aku merasa sangat beruntung mendapatkan mereka sebagai keluarga baru.   Pernikahan kami memasuki usia setahun. Namun, belum ada tanda-tanda aku hamil. Meski begitu, Mas Hardi selalu men-support dan mengatakan, semuanya pasti akan indah pada waktunya.   Kami pasti akan memiliki keturunan, toh hasil pemeriksaanku dan suami sama-sama normal. Mas Hardi bilang, Allah menitipkan anugerah-Nya pada saat yang tepat. Aku beruntung sekali mendapatkan lelaki itu sebagai suami.   Lamunanku terhenti, seiring lagu yang berdendang dari bibir. Diam, aku mengernyit heran. Suara wanita lirih menyenandungkan kelanjutan lirik nyanyian tersebut terdengar.   Perlahan, aku mengusap tengkuk yang terasa dingin. Tidak, aku tidak boleh berpikiran aneh-aneh. Mungkin saja dia kakak ipar atau istri tetangga yang kebetulan lewat.   Memastikan hal itu, aku membuka pintu dapur, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Nyanyian itu masih berlanjut. Penasaran, aku mengelilingi rumah. Tidak ada siapa-siapa. Menjelang maghrib begini, tentu setiap orang memilih berkumpul di dalam rumah bersama keluarga.   Aku masuk kembali ke dalam rumah dengan perasaan was-was. Tidak dipungkiri, aku mulai takut. Mana Mas Hardi berpesan bahwa ia pulang agak larut.   Azan maghrib berkumandang. Salatku tidak khusyuk akibat kejadian baru saja. Zikir usai ibadah terhenti, saat samar-samar aku mendengar tawa anak kecil.   Apa lagi ini?   Penasaran, aku membuka pintu kamar. Melangkah keluar, entah mengapa rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Oh ayolah, tentu setiap orang pernah mengalami hal-hal ghaib. Sebelum hari ini pun, aku pernah mengalami beberapa kali, tetapi hawa mencekam tak sepekat sekarang.   Tawa cekikikan itu semakin terdengar jelas. Kali ini bersamaan dengan derap kaki. Aku menutup pintu buru-buru, lalu merebahkan tubuh ke atas ranjang. Bantal menjadi tutup kepala. Berulang kali seruan zikir kukumandangkan, sampai tanpa sadar, aku terlelap.     Pria itu lagi. Fisik gagah dengan wajah rupawan tiada tandingan, siapa yang tak tergoda. Namun, kali ini, aku ingin menghentikan semua.   Lelaki itu mendekat. Aku berusaha berlari sekuat dan secepat mungkin. Semuanya terasa sia-sia. Dia semakin dekat.   “Kau tidak bisa berlari dariku, Tanti. Aku adalah pasanganmu. Kita akn menghabiskan malam ini bersama-sama.” Suara lelaki itu seperti meneror pikiran.   Payah. Aku merasakan langkah kaki semakin melambat. Air mata mulai mengalir.   Ada apa ini, Ya Allah? Kenapa aku mengalami hal ini?   Tiba-tiba lariku tersandung sesuatu. Aku menjerit sejadi-jadinya saat lelaki itu menangkap dan membawa tubuhku pergi.   Aku lemah. Aku tidak berdaya. Lagi, lelaki itu menjadi teman tidur semalaman ini.     “Aku lelah, Mas. Aku sudah tidak kuat.” Pipiku basah oleh air mata. Namun, sepertinya lelaki di hadapanku itu masih bersikeras. Menganggap mimpi burukku sekadar bunga tidur.   “Kamu hanya kecapekan, Sayang. Kamu terlalu lelah. Gimana kalau kita jalan-jalan besok?” Mas Hardi mengusap kepalaku lembut.   Aku terdiam. Sejujurnya, ingin sekali bibir mengeluarkan semua yang terpendam. Lagi-lagi, aku terlalu takut.   Aku hanya bisa mengangguk menanggapi tawarannya.   Keesokan harinya, Mas Hardi mengambil cuti untuk mengajakku berlibur. Kami berencana menyewa kamar dekat sebuah tempat wisata yang sangat indah. Pemilik penginapan itu kebetulan teman suamiku semasa kuliah dulu.   Kami disambut hangat. Hanya saja, aku bisa merasakan tatapan tajam Rey, kawan Mas Hardi tersebut padaku. Namun, ia tak berkata apa-apa.   Liburan kami dimulai. Sebuah pemandangan asri terhampar luas dekat penginapan. Benar-benar indah dan menyejukkan mata. Sejauh pandangan, hanya hamparan kehijauan serta warna-warni bunga bertebaran. Aku merasa beruntung tak menolak ajakan Mas Hardi semalam.   Sore hari, Mas Hardi tampak berbincang-bincang serius dengan Rey. Aku memilih menghabiskan waktu di belakang bangunan. Memanjakan telapak kaki telanjangku, menyentuh rerumputan.   Sejenak, aku memejamkan mata. Berusaha menyatu dengan keheningan. Tiba-tiba, suara yang familier tertangkap indra pendengaran. Aku membuka mata cepat.   “Aaarggh!” Aku berteriak cepat saat sosok itu tiba-tiba muncul dengan seringaian di wajahnya. Muka pucat, rambut panjang, berbaju putih lusuh, dan bau amis tercium. Tubuhku kaku. Leher terasa dicekik.   Sosok wanita itu semakin mendekat. Masih dengan suara cekikikan khasnya. Aku ingat betul, suara itulah yang sering kudengar akhir-akhir ini di rumah. Namun, bagaimana bisa ia ada di sini?   Aku kembali berteriak saat tubuh terjengkang ke belakang,  sosok itu menundukkan kepala tepat di atasku. Ingin rasanya memberontak, tetapi  seperti dipaku.   “Dik! Dik! Ada apa?” Tepukan keras di bahu seperti mengembalikan kesadaran. Aku menangis sejadi-jadinya di bahu Mas Hardi. Ia membelai puncak kepala yang terbalut jilbab.   “Sayang, tenanglah.” Mas Hardi tak pantang menyerah menenangkanku. Ia lantas membantu berdiri.   “Ayo, kita ke dalam.”   Aku menoleh. Rupanya Rey bersama kami sedari tadi.     Kami berkumpul di ruangan khusus Rey menerima tamu pribadi selain penyewa kamar. Satu teko kecil berisi teh panas, tiga cangkir, serta setoples biskuit ringan, dihidangkan wanita cantik, istri lelaki tersebut.   Aku hanya mengangguk sekilas menanggapi keramahtamahannya. Mas Hardi masih menggenggam jemariku erat. Seolah menyalurkan kekuatan padaku.   Rey berdeham sebelum memulai pembicaraan.   “Maaf, sebelumnya, Tanti. Apa sebelum ini kamu mengalami kejadian atau mimpi aneh yang menyebabkan kamu terikat dengan makhluk itu?”   Aku membelalak tak percaya. Sejenak, beralih menatap Mas Hardi yang mengangguk padaku.   Dilema. Aku menggigit lidah, mempertimbangkan apakah seharusnya menceritakan mimpi memalukan tersebut? Ragu-ragu, jemari bergetar tanpa sadar.   “Katakanlah, Sayang. Mas di sini buat kamu.” Mas Hardi mengeratkan genggamannya.   “Tanpa kamu bicara sekali pun, aku merasakan aura berbeda darimu. Kamu dibuntuti sesuatu, Tanti. Tapi aku ingin mendengarnya secara langsung darimu.”   Aku menatap mata Rey yang tampak berusaha meyakinkanku.   “Oh, jangan kau berpikir aneh. Anggap saja aku memiliki kemampuan merasakan hal tersebut. Aku tidak berniat apa-apa, selain membantu.” Rey menimpali diamku.   Menarik napas, akhirnya aku mengangguk. Mulailah mengalir cerita tentang mimpi aneh yang kualami sejak lama. Lalu gangguan-gangguan yang kurasakan akhir-akhir ini.   Rey mengangguk. Sementara Mas Hardi terlihat syok. Aku sudah mengecewakannya. Diam-diam, aku menangis dalam hati.   “Tidak. Ini bukan salahmu. Makhluk itu menginginkanmu sejak lama. Dia bisa masuk ke mimpimu karena, maaf, jiwamu lemah. Akhir-akhir ini, pengaruhnya terhadap dirimu memancing makhluk-makhluk lain mendekat.”   Aku mengangguk. Penjelasan Rey terdengar masuk akal. Perbincangan itu berakhir dengan kami yang akhirnya pergi ke tokoh agama setempat. Rey mengatakan, beliau sangat ahli dalam merukyah.   Kata Mas Hardi, aku menjerit-jerit selama rukyah itu berlangsung. Sungguh, aku tidak ingat hal itu.   Satu-satunya yang kuingat, adalah tubuh tinggi besar berbulu yang mendekatiku. Tatapannya terlihat marah. Sebelum akhirnya, perlahan dia menghilang tak berbekas.   Akhirnya, kehidupanku berangsur-angsur normal. Ustaz yang memimpin rukyah kapan lalu  mengatakan, keberadaan makhluk itu yang menjadi teman tidurku setiap malam, menjadi penghalang bagi kesuburan rahimku.   Ia juga menjelaskan, bahwa makhluk itu sudah menempel erat padaku. Susah dipisahkan sepenuhnya. Satu-satunya penghalang agar dia tak kembali adalah memperbanyak zikir dan doa.   Sudah bertahun-tahun berlalu, kami dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Usianya tepat delapan tahun, bulan depan. Ia gadis yang lemah lembut dan cenderung pendiam.   Dia jarang bermain dengan anak seusianya. Lebih suka berada di dalam rumah. Namun, kami tak mempermasalahkan. Toh, di mana saja, asal dia tak tertekan.   Aku sedang merapikan baju-baju putriku saat mendengar ia menggumam.   Aku menoleh. “Rinna bicara sama Mama, Nak?” tanyaku.   Gadisku menggeleng. Masih dengan bonekanya, ia menunjuk ke arahku. Ke belakangku mungkin lebih tepatnya.   “Itu di belakang Mama, temen Rinna.”   Firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk. Perlahan, aku menoleh ke belakang.   “Orangnya tinggi besar, matanya merah. Juga banyak rambut di badannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN