Happy reading.
Sudah hampir tiga bulan lamanya, Dira kabur dari rumah. Ia pun akhirnya berinisiatif untuk kembali pulang, namun ketika ingin pulang menuju rumah. Salah satu penjaga villa Aulia mengatakan bahwa villa disamping sedang ada pemiliknya, dan Dira tahu siapa pemiliknya.
"Jadi Raja sedang honeymoon sekarang, pantas saja seperti ada suara orang."
Dira pun menghiraukan keinginan untuk melihat bagaimana keadaan Raja setelah hampir tiga bulan menikah dengan wanita pilihan hatinya, ia melanjutkan perjalanannya menuju kediaman M&D House untuk bertemu dengan Ayah dan Bunda.
"Kalau enggak gue kehabisan ongkos, gue enggak mau balik."
Siang harinya.
Setelah menempuh perjalanan menuju Jakarta yang sedikit macet, akhirnya Dira telah sampai di rumah. Benar apa yang ditakutkan olehnya, Sang bunda memarahi habis-habisan. Bahkan ceramah dari Kanaya berlangsung selama satu jam lebih tanpa jeda sedikitpun.
"Bun, sudah ya ceramahnya. Telinga Dira panas ini,"
Dira memegang kedua telinganya, memang untuk urusan memarahi anak-anak di rumah ini orang terbaik itu adalah Bundanya sendiri.
"Ya sudah kamu istirahat, Bunda mau pergi."
"Eh, Bunda mau kemana? Aku ikut ya?"
"No, bunda mau ke pesantren. Pasti kamu mau bilang sangat membosankan,"
Dira mengangguk pelan, menurutnya pesantren adalah salah satu tempat yang sangat membosankan, sepi, tidak ada sumber keramaian. Dan Dira sangat tidak menyukai semuanya.
"Kirim salam aja Bun sama anak ustadz atau cucu ustadz."
Bunda Kanaya menggeleng kepalanya pelan, kelakuan putri keduanya sangat tidak wajar. Dira sangat berbeda dengan Kakak pertamanya dan adiknya, sepertinya ia memang melahirkan seorang putri dengan dua kepribadian yang dimiliki oleh Dira.
"Anak itu."
***
Dua hari kemudian, setelah mendapatkan hasil dari diskusi bersama suaminya. Kanaya memutuskan untuk mengajak Dira belajar kembali di pesantren, sebagai orang tua Kanaya menginginkan Dira menjadi lebih baik lagi.
"Sekarang aku mau membicarakan ini sama Dira, mas tunggu aja disini."
"Ok, sayang. Jangan lama-lama nanti aku rindu,"
Kanaya keluar dari kamarnya menuju kamar putri keduanya yaitu Dira, tujuan utamanya hanya ingin mengatakan keinginannya untuk membawa Dira ke sebuah pesantren.
"Dira, kamu menangis?" tanya bunda Kanaya.
"Bun, jadi Raja nikah sama Rara? Kenapa sama kakak aku sih?"
Kanaya menceritakan semua masalah yang timbul akibat keegoisan Dira, beruntung putri pertamanya telah ikhlas dengan untuk menjadi pengganti Dira. Ia sebagai orang tua pun menyadari kesalahan yang timbul karena ulah dari Dira sendiri.
"Dira sayang Bunda?"
Putri keduanya menatap sendu, sejak dulu Dira selalu bersedih jika Sang Bunda bertanya seperti itu. Seharusnya Kanaya tidak perlu mengatakan kepada dirinya dengan pertanyaan seperti itu.
"Bun, Dira memang anak yang belum berbakti sama bunda. Tapi bukan berarti nggak sayang sama bunda."
Kanaya meneteskan air mata, suatu kebiasaan yang menurut Dira sangat langkah. Ia tahu pasti sebentar lagi Sang Bunda menginginkan sesuatu darinya.
"Bunda boleh minta sesuatu sama kamu?"
Menghela nafas panjangnya, sudah Dira duga. Kanaya akan meminta sesuatu kepadanya, dan sudah pasti Dira harus melakukan keinginan Bunda Kanaya atau ia akan berhadapan dengan Ayah Alva.
"Apa Bun? Aku akan berikan kepada Bunda apapun itu."
"Kamu sekolah lagi ya di Pesantren, Bunda ingin Dira belajar agama disana."
"Pesantren?" beo Dira.
"Ehm, pesantren milik Nyai haji."
Dira menghela nafas panjang, dan pada akhirnya ia pasrah karena harus menerima keinginan Bunda Kanaya untuk bersekolah kembali di sebuah pesantren.
Keesokan harinya, mereka telah siap untuk membawa Dira menuju pesantren. Dira yang kini sedang berada di dalam kamarnya, menatap sekeliling isi kamar yang akan ia rindukan.
"Gue pasti kangen sama kasur ini, buku ini, sofa ini, dan yang lainnya."
"Dira, ayo! Ayah dan Bunda sudah menunggumu."
Dira menatap seorang wanita cantik yang pagi ini datang, Rara kakak pertamanya akan menemaninya pergi menuju pesantren.
"Bagaimana jadi istri Raja? Enak bukan? Beruntung banget Lo jadi istrinya."
Rara menghirup oksigen banyak-banyak, ia sudah meminta maaf kepada Dira semalam dengan panggilan telepon. Tapi, Dira tidak menjawab permintaan maafnya. Bahkan Dira menutup panggilan telepon darinya dengan cepat.
"Dira, maafkan kakak. Kakak salah sudah menerima Raja sebagai suami Kakak-"
"Stop, sudah ya. Aku sudah ikhlas kok, Kakak jangan merasa bersalah."
"Kakak doain buat kamu, semoga mendapatkan suami terbaik."
"Aamiin."
Perjalanan menuju sebuah pesantren kecil begitu cepat, memang semua tujuan baik pasti akan mendapatkan keringanan dari Sang Pencipta. Dan Dira mendapatkan keringanan dalam perjalanan menuju pesantren.
Setelah Dira memperkenalkan dirinya kepada Nyai Hafsah pemilik pondok pesantren. Dira pun bercengkrama dengan Nyai yang sudah menjadi sepuh itu, mungkin usia Nyai Hafsah sekitar 75 tahun. Dan Dira memang harus menghormati Nyai Hafsah.
"Assalamualaikum, maaf saya terlambat-"
Deg.
Dira terpaku, melihat wajah lelaki yang baru saja memberikan salam. Ia masih ingat betul wajah tersebut, bayangan ketika mereka berada di sebuah rumah kosong kembali teringat. Dan Dira belum sepenuhnya melupakan hal tersebut.
"Astaga, dia yang buat bibir aku enggak perjaka lagi."
"Itu bukankah Zaid, lelaki yang memenangkan lomba balap motor waktu itu."
Baik Dira dan Zaid keduanya masih diam mematung, ingatan kejadian diantara mereka kembali terulang. Dan mereka tidak percaya akan bertemu kembali di tempat ini.
"Astaga, gue baru ingat. Dia yang kasih jaket itu pas lagi tidur," gumam Dira.
"Takdir mempertemukan kita lagi, bebek cantik."
Tepukan pelan membuyarkan lamunan Zaid, Sang Nenek pun memperkenalkan cucu termudanya sekaligus pewaris pesantren ini.
"Kenalkan namamu dulu, nggak sopan Zaid."
"Selamat pagi, saya Zaidan Al-Kahfi. Saya cucu dari Nyai Hafsah."
"Hah? Cucu?" beo Dira.
***
Sepanjang hari, Dira menghindari dari pertemuan bersama Nyai Hafsah. Bukan karena ia tidak sopan dengan pemilik pesantren tersebut, ia hanya tidak ingin bertemu dengan Zaid pria yang sudah memberikan jaket untuknya. Tidak hanya itu saja, kejadian memalukan yang berhasil membuat bibir Zaid tidak perjaka lagi karena ulah Dira.
"Huft, kenapa harus pesantren ini sih! Kenapa juga cucu pemilik pesantren ini Si Zaid itu."
Dira yang saat ini sedang berada di depan kamarnya, sejak kepergian keluarganya. Ia merasakan kesepian kembali, tanpa adanya kedua orang tuanya dan Kakak kandungnya.
"Apa gue kabur aja ya? Gue enggak mau disini-"
"Kamu enggak boleh kabur, bebek."
"Eh, sejak kapan lo ada disitu? Lo menguping pembicaraan gue?"
Zaidan Al-Kahfi atau biasa para sahabatnya memanggil Zaid memberikan satu lembar kertas kepada Dira agar membacanya, Zaid telah menulis untuk Dira baca dan memberikan persetujuan.
"Surat kontrak?"
"Ehm, surat kontrak belajar disini. Asal kamu tahu sebentar lagi, aku yang pegang pesantren ini."
Dira tertunduk lemas, ia sudah tidak sanggup menopang berat beban di hidupnya. Lalu sekarang ditambah harus tinggal di pesantren ini bersama Zaid, sungguh salah ia telah menerima keinginan Sang Bunda untuk belajar disini.
"Gue nggak enggak mau, gue nggak suka diatur sama orang lain."
"Ck, jangan jadi anak durhaka bebek."
Bugh.
Pukulan Dira bisa ditangkap oleh Zaid, kali ini ia tidak akan mengalah dengan gadis yang telah mengambil keperjakaan bibirnya.
"Lepas."
"Nggak, aku nggak akan lepaskan kamu."
"Zaid, lepas!"
"No, disini aku bukan Zaid. Panggil aku Zaidan Al-Kahfi."
Akhirnya Dira mengalah, ia sudah tidak ingin berdebat dengan Zaid lagi. Seluruh tenaga sudah terkuras habis dan ia sudah pasrah dengan surat kontrak itu.
Namun, ia tidak selemah itu. Dira kembali melakukan hal yang diluar nalar Zaid, Dira kembali mencium Zaid secepat kilat.
Cup.
Zaidan kembali merasakan benda kenyal di bibirnya, Dira untuk kedua kalinya telah mencium bibirnya begitu saja. Bahkan lebih parahnya Dira kabur masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dengan cepat.
"Astagfirullah, memang seharusnya mereka menikah secepatnya."
***
Sudah hampir satu Minggu Dira tinggal di pesantren ini, ia mulai belajar membaca iqro terlebih dahulu. Kali ini bukan bersama dengan Zaidan melainkan guru perempuan.
"Kamu sudah lebih baik Dira, semoga bisa lancar."
"Terima kasih Bu Salma, aku sudah bisa mengaji kembali."
Dira bercakap-cakap dengan guru ngajinya, namun percakapannya berhenti kala seorang murid perempuan memanggil Dira untuk segera datang ke dalam rumah Nyai Hafsah.
"Teteh Dira dipanggil sama Nyai, suruh menghadap ke dalam."
Dira pamit kepada Bu Salma, ia lalu bergegas menuju dalam rumah dimana Nyai Hafsah sudah menunggunya.
"Assalamualaikum, Nyai."
"Wassalamu'alaikum, masuk!"
Dira masuk kedalam, ia berjalan sangat hati-hati tidak seperti berada di rumahnya. Pesan dari Sang Bunda sudah ia terapkan disini.
Degh.
"Yah, Bun. Kok ada disini?"
Dira kaget melihat kedua orang tuanya berada di pesantren ini, padahal setahu Dira bukankah jam jenguk dirinya hanya sebulan sekali. Namun, ini baru seminggu kedua orang tuanya sudah datang kembali.
Tidak hanya ada kedua orang tuanya saja, di seberang Dira duduk ada Nyai Hafsah yang tersenyum kepadanya. Lalu disamping ada Zaidan yang tertunduk ketika melihat dirinya.
"Yah, Bun. Ini ada apa ya? Kenapa kalian datang begitu cepat?"
"Kamu disini ingin memberitahukan, bahwa kamu akan segera menikah. Dan kamu nggak boleh menolaknya,"