Happy reading.
"Menikah? Secepat ini, tap-"
"No, jangan menolak. Kamu sudah melanggar persyaratan disini, daripada berbuat tidak-tidak kami akan menikahkan kamu dengan Zaidan."
Dira menatap kedua orang tuanya tidak percaya, baru seminggu dia disini belajar ilmu. Kenapa harus menikah dengan Zaidan, apa salah dirinya.
"Tapi, kenapa harus menikah dengan dia. Aku tidak mau," tolak Dira.
"Nak, Dira. Nyai nggak mau kamu berbuat dosa bersama Zaidan, jadi kami putuskan untuk menikahkan kamu dengan Zaidan."
Deg.
Dira menatap wajah Zaidan tajam, namun lelaki itu hanya menunduk. Tidak ingin mengatakan satu katapun.
"Pernikahan akan dilakukan nanti sore, untuk sementara kamu beristirahat sebelum ijab Qabul."
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Anandira Putri Mahendra binti Alva Narendra Pratama dengan mas kawin 100 gram perhiasan, ditambah seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Sah."
"Sah."
Kata 'sah' menggema di ruang keluarga milik Nyai Hafsah, hanya ada keluarga dari kedua belah pihak. Pernikahan yang amat sangat sederhana telah terjadi di pesantren ini.
"Ayo salim tangan suamimu, jangan diam saja Dira."
Dira mendongkak keatas, melihat wajah Zaidan yang kali ini terlihat berbeda seperti hari-hari kemarin. Dira tidak bisa menolak pesona Zaidan kali ini, memakai kopiah hitam menambah kadar ketampanan lelaki yang ternyata berbeda dua tahun darinya.
"Sial, brondong meresahkan."
Melakukan apa yang diucapkan oleh Sang Bunda, Dira terpaku setelah Zaidan mengecup pucuk kepalanya yang tertutup dengan hijab syar'i.
"Bebek."
"Kulkas empat pintu."
Acara ijab Qabul telah selesai, karena sudah malam Nyai Hafsah mempersilahkan Kanaya dan Alva untuk beristirahat. Bersamaan dengan Dira dan Zaidan yang sepertinya mereka sudah kelelahan dengan acara yang serba mendadak ini.
"Acara pernikahan untuk keduanya anak dilakukan besok, walau mendadak saya akan mempersiapkan semuanya dengan cepat."
Nyai berterima kasih kepada Kanaya dan Alva atas kerja samanya, ia tidak perlu membantu untuk acara besok. Kedua pasang suami istri tersebut telah melakukan hal sebagaimana layaknya orang tua menikahkan anak mereka.
"Mari kita beristirahat, agar besok kita menyambut para tamu di pernikahan mereka."
Sementara itu, Dira bolak balik sejak tadi. Saat ini perasaannya tidak karuan, jelas saja malam ini statusnya bukan sebagai putri dari seorang Ayah melainkan seorang istri untuk lelaki super dingin seperti Zaidan Al-Kahfi.
"Gue harus apa? Masa iya malam ini gue bakal unboxing sama brondong?"
Belum selesai perasaan takutnya kepada Zaidan perihal unboxing di malam pertama, lalu suami brondongnya datang. Masih memakai kopiah hitam yang membuat Aura tampan seorang Zaidan, Dira tidak bisa memungkiri bahwa Zaidan atau Zaid memang sangat tampan.
"Kamu belum tidur?"
Dira menggeleng, kedua matanya sulit terpejam Dira terbiasa tidur larut malam. Bahkan ia pernah tidak tidur semalam karena insomnia yang dirasakan olehnya.
"A-aku belum bisa tidur, kedua mataku masih ingin-"
Wajah Zaidan telah berada di depan wajahnya, sejujurnya saat ini Dira tidak bisa bergerak. Seketika itu dirinya terpaku melihat kedua mata Zaidan yang memang berbeda dari lelaki yang pernah menjadi pacar Dira.
"Kamu masih ingin melihatku, bukan?"
Zaidan to the point, bukan apa-apa ia mengetahui bahwa istri barunya adalah seorang gadis yang ceplas ceplos dalam melakukan apapun. Bahkan pertama kalinya ia melihat Dira, seorang gadis yang tidak punya rasa malu. Namun saat ini, mengapa Dira menjadi seorang pemalu.
"Kenapa diam? Kamu terpesona dengan aku, Miss D?"
Sudah lama Dira tidak mendengar nama panggilan itu, sejak ia menjadi santri di pesantren ini. Hidupnya seakan lupa dengan segala macam masalah yang selalu di timbulkan oleh Miss D, namun di sisi lain Dira tidak bisa memungkiri bahwa ada sisi baik jika dia memakai nama Miss D.
"Ma-mau apa kamu? Menyingkir dari sini."
"Mau aku kamu?"
Cup.
Dira mematung, ini pertama kalinya ia mendapatkan ciuman dadakan dari Zaid. Biasanya ia yang lebih dulu mencium Zaid, dan kali ini ia yang merasakan bibirnya dicium oleh suaminya itu.
"Dasar ustadz m***m," cibir Dira.
"Eh, aku seperti ini karena kamu Dira. Kamu yang buat bibir aku nggak perjaka lagi, huh."
Dira membungkam bibir Dira dengan tangannya, ia tidak ingin seluruh keluarganya mendengar percakapan mereka berdua yang random.
"Stop, Zaid. Aku minta maaf, karena telah lancang membuat bibirmu menjadi tidak perjaka lagi. Tap-"
Kali ini Zaidan mengecup untuk kedua kalinya, bahkan tidak sampai disitu saja. Kecupan yang awalnya hanya ingin merasakan sensasi kenyal di bibirnya, kini berlanjut lebih intens. Bahkan Dira membalas kecupan Zaidan yang begitu cepat ia rasakan.
"Istirahatlah, besok kita akan menyambut para tamu penting baik dari keluargaku dan keluargamu. Aku nggak mau kamu kelelahan karena permainanku nanti, Mba bebek."
Ucapan Zaidan seperti menghipnotis Dira, dengan cepat gadis yang telah menjadi istri seorang Zaidan Al-Kahfi tidur. Dan ia benar-benar malu dibuatnya.
"Kamu lucu, Mba bebek."
Setelah memastikan Dira sudah tertidur dengan nyaman, Zaidan mengambil laptop yang disimpan di lemari kerjanya. Ia memang selalu melakukan hal itu ketika malam hari, pekerjaannya sebagai CEO Z&A grup membuat dirinya harus bekerja di malam harinya.
"Huft, kenapa pekerjaanku tidak ada habisnya. Padahal aku baru saja menikah," ucap Zaid dalam hatinya.
***
Resepsi pernikahan yang dilaksanakan masih di area pesantren, sengaja mereka lakukan agar Nyai Hafsah tidak terlalu kelelahan.
Alva memerintahkan kepada sebagian karyawan hotel untuk membantu dalam hal urusan katering, bahkan ia sengaja datangkan dari Jakarta hanya untuk membantu terselenggaranya pernikahan mendadak ala Dira dan Zaidan.
Para tamu dari kalangan pesantren telah datang satu persatu, untuk kaum hawa yang mengenal Zaidan. Ini adalah hari patah hati sedunia, jelas saja cucu pemilik pesantren Al-Kahfi itu telah menikah dengan santri baru di sini.
"Huh, aku sedih sekali. Di pesantren ini sudah habis stok lelaki tampan,"
"Hush, kamu jangan asal bicaranya. Nanti kita ketahuan oleh para bodyguard yang sedang berjaga itu," ucap salah satu santri.
"Ehm, dengar-dengar istri dari Gus Zaidan adalah anak dari pengusaha hotel terkenal itu. Pantas saja mereka menjodohkan mereka,"
"Iya sih, yang wanita cantik. Yang lelaki tampan, perpaduan yang cocok."
"Sudah yuk, kita ambil makanan. Kalau terlalu banyak berbicara nanti makanan habis, kita jadi lapar."
Setelah tamu dari pesantren telah selesai, kini giliran tamu dari para kolega Alva yang datang. Mereka yang mendapatkan undangan pertama kalinya merasakan kaget, bukankah Alva baru menikahkan putri pertamanya beberapa hari yang lalu. Namun mengapa putri keduanya pun ikut menikah dalam jangka waktu yang tidak lama.
"Selamat Pak Alva, semoga segera mendapatkan cucu."
"Aamiin."
Hingga malam hari, barulah pesta pernikahan selesai. Mereka pun beristirahat di kamar masing-masing, sama halnya dengan Dira dan Zaidan keduanya pun beristirahat di kamar Zaidan yang telah disulap menjadi sebuah kamar pengantin yang indah.
"Mba bebek, geser. Aku kegerahan,"
"Ini sudah pas Zaid, aku sudah kesempitan."
Bruk.
"Mba bebek, kasur aku roboh."