Tingkah lucu Dira.

1057 Kata
Happy reading. Pernikahan yang telah selesai beberapa jam yang lalu membuat Dira tidak bisa tidur, ia mengira Zaidan akan menagih hak nya sebagai seorang suami. Namun ia hanya mengajak Dira tidur saja. "Aku harus apa, bosan malam ini. Sepertinya enak kalau pergi sebentar," Dira berjalan mengendap-endap menuju depan halaman, ia melihat ada motor terparkir di pojok kanan. Tidak memperdulikan punya siapa, dan beruntungnya motor tersebut masih memakai kunci di slotnya. "Motor siapa ini, masih panas mesinnya. Aku pakai dulu, sudah lama tidak bermain. Dira pun menjalankan motor pada pukul 1.00 malam, walau dalam keadaan malam hari suasana pedesaan tampak ramai dengan lampu yang menyala di sepanjang jalan. Dira menjalankan motornya, menuju sebuah lapangan. Berputar-putar mengelilingi area lapangan sendiri, Dira tidak takut sama sekali. Sepertinya jiwa nakal Dira kembali lagi malam ini. "Ternyata sudah lama gue nggak melakukan hal ini, senang banget gue." Namun di sudut kiri ada seseorang yang baru saja datang, ia memang mencari keberadaan Dira istrinya. "Astagfirullah, aku cari dia ternyata ada disini. Aku lupa bahwa dia itu pembalap," Selama satu jam lamanya, Dira memutari lapangan dengan motor entah milik siapa. Berbagai gaya Dira lakukan, Zaidan tidak perlu meragukan lagi keahlian istrinya yang satu ini. "Gadis yang unik, aku suka." Sementara itu, Dira baru menyelesaikan ritual malamnya. Sudah saatnya ia harus pulang, ia tidak mungkin pulang lagi hari bisa fatal akibatnya. "Zaid, kamu? Mau apa disini?" "Aku mencarimu istriku, aku mengira kamu balapan motor lagi tanpa aku." Dira memutar kedua bola matanya malas, ia tidak mungkin melakukan banyak hal malam ini. Kedua matanya sudah mulai mengantuk. "Aku bosan, aku pergi. Sekarang aku mau tidur," Meninggalkan Zaidan seorang diri, lalu tanpa berkata apa-apa Dira pergi begitu saja tanpa berpamitan. "Eh, aku ditinggal?" *** Pengajian menyambut keluarga baru dilaksanakan pagi hari, seluruh keluarga inti telah duduk ditempat tersedia. Yang membedakan adalah khusus santri dan santriwati pondok pesantren, mereka dipisahkan dengan ruang yang berbeda. Pengajian di pimpin oleh Zaidan sendiri, ia sengaja mengambil pengajian ini ingin memperkenalkan istri barunya sekaligus tasyakuran pernikahan. Zaidan tampak senang ketika Dira duduk di tempat yang sama dengannya, dengan memakai gamis pemberian dirinya kemaren. "Bebek, lucu." Begitulah Zaidan, terpesona kepada Dira untuk pertama kalinya. Kecupan singkat yang membuat Zaidan tidak ingin berpaling dari yang lain, mungkin saja ada magnet yang Dira punya sehingga Zaidan menjadi terbayang-bayang wajah Dira. "Sudah jangan dilihatin aja, mentang-mentang sudah unboxing." "Eh, enggak ya. Gue belum bob-"" Zaidan menutup mulutnya, ia hampir saja keceplosan dengan ucapan yang akan menjadi bumerang untuknya. Ia sudah berjanji tidak akan mengumbar perihal malam pertama kepada siapapun. "Belum apa? Kenapa bicaranya sedikit banget sih!" "Sudah diem ya, gue mau kenalin dulu istri gue sama yang lain." Zaidan berdiri didepan seluruh keluarga dan para santri yang datang, untuk pertama kalinya Zaidan memperkenalkan seorang wanita kepada semua orang. "Bismillah, maaf saya disini akan memperkenalkan seseorang yang mungkin kalian sudah mengenalnya kemaren. Di sebelah saya ada wanita cantik yang sekarang telah menjadi istri saya, namanya Dira." Desas desus kaum hawa setelah Zaidan dengan memperkenalkan secara langsung nama istrinya. Mereka pun semakin riuh, banyak yang ingin melihat kembali wajah istri daris Zaidan. "Jadi itu istri dari Gus Zaidan, cantik ya." "Pantes saja Gus Zaidan suka, lah wong cantik gitu." "Iya, denger-denger keluarga terpandang di Jakarta." Banyak lagi ucapan-ucapan yang berasal dari para Santriwati yang menyukai Gus Zaidan, mereka merasa kehilangan setelah Dira datang disini dan menjadi istri dari Zaidan. Sementara itu, berbeda dengan santri lelaki yang setuju Gus Zaidan bersama dengan Dira. Bahkan mereka senang ternyata Dira telah menjadi istri dari lelaki tampan seperti Gus Zaidan. "Sedihku masih berlanjut, sampai kapan ya. Kenapa baru suka sama seorang wanita cantik, eh malah diambil sama Gus." "Ehm, hari patah hati sedunia." Zaidan menghela nafas panjangnya, ia tahu ada pro dan kontra atas pernikahan mereka sekarang. Namun ia tidak peduli yang terpenting ia akan bahagia bersama Dira. "Ehm, sudah ya. Jangan ada yang berbicara, saya hanya ingin kalian menghormati keputusan yang telah diambil. Cukup sekian dan nikmati jamuan makan haru ini, terima kasih dan waalaikumsalam." Setelah pengajian dan acara ramah tamah selesai, Zaidan mengantar seluruh keluarga Dira yang berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Lombok. "Tolong jaga Dira, dia anaknya butuh bimbingan yang banyak." Zaidan pun mengangguk pelan, ia pun mengerti apa yang diucapkan oleh beberapa keluarga yang seusia ayah Alva. "Baik, saya akan menjaga Dira dengan sepenuh hati tanpa meninggalkan Dira." Satu Minggu kemudian. Sudah satu Minggu Zaidan menjadi suami Dira, mereka adalah pasangan teraneh menurut beberapa santri. Jika seorang istri mempunyai suami tampan dengan wajah yang tidak bisa diragukan lagi kadar tampannya akan kesal jika suami menjadi bahan gibahan mereka, namun berbeda dengan Dira. Ia bahkan tahu bagaimana Sang suami telah menjadi bahan gosip antara mereka. "Kamu nggak cemburu sama santriwati disini?" tanya Zaidan kepada Dira. Istrinya mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti mengapa Dira harus capek-capek kesal karena Sang suami menjadi bahan gosip mereka ketika sedang berada di satu area. "Aku enggak cemburu atau kesal, memang kamu siapa harus aku cemburu. Kamu bukan artis Korea yang bernama Song Kang atau Lee Min Ho." Zaidan bukan bersedih mendengar istrinya berkata sejujurnya, namun Zaidan bahkan senang ternyata Dira bukan tipe seorang wanita yang kesal jika para santriwati membicarakan nya. "Bebek, kenapa kamu lama-lama disini jadi tambah cantik." Dira memutar kedua bola matanya malas, ia cukup hafal dengan kode Zaidan seperti itu. Dan ia tidak terpengaruh sama sekali dengan rayuan Zaidan kepadanya. "Sebaiknya kamu diam Zaid, aku ingin tidur sekarang." "Miss D, kita unboxing yuk!?" Dira merasa takut akan pertanyaan Zaid kali ini, memang sampai saat ini mereka belum melakukan ibadah pernikahan. Perasaan Dira masih takut untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, dan seharusnya Zaid menyadari akan hal itu. "A-aku belum siap Zaid, aku belum bisa melakukannya kepada kamu." "Ehm, kalau begitu aku akan menunggumu sampai kamu siap. Tapi untuk sekarang aku boleh mencium kamu lagi?" "Boleh-" Cup. Zaidan telah membungkam bibir Dira dengan bibirnya, tanpa ada perlawanan dari istrinya. Mereka berciuman cukup lama hingga Dira melepaskan bibirnya lebih dulu. "Cukup Zaid, aku mau beristirahat dulu. Sepertinya bibirku sudah kebas karena ulahmu." "Ehm, selamat malam Mba bebek." "Selamat malam kulkas empat pintu." Zaidan merapikan selimut untuk menutupi tubuh Dira, untuk malam ini ia harus berusaha menahan diri agar tidak melakukan sesuatu kepada Dira. Ia menyadari bahwa Dira belum siap untuk melakukan kewajiban sebagai seorang istri, dan Zaid akan setia menunggu sampai istrinya siap menerimanya. "Kamu lucu Mba bebek, aku suka dengan kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN