Happy reading.
Dira kembali berulah, ia semakin hari membuat para Santriwati cemburu saja. Seperti pagi ini, ketika semua para santriwati belajar mengaji di aula pendopo. Dira dengan entengnya memanggil Zaidan dengan sebutan sayang, membuat semua cemburu kepadanya.
"Dih, baru jadi istri Gus Zaid aja sombongnya. Nanti aku akan jadi madumu baru tahu rasa," sindir salah satu santriwati yang memang menyukai Zaidan sejak ia belajar di pesantren ini.
"Hus, kamu jangan aneh-aneh deh. Masa iya mau jadi pelakor, yang keren dikit dung."
Semua santriwati menjadi riuh, mereka memang tidak menyukai santri yang bernama Della. Bagi mereka Della adalah santri yang hanya tebar pesona dan hanya omong kosong saja.
"Kalian mau mengaji atau gibah?"
Semua terdiam, kalau sudah Gus Zaidan berkata seperti itu. Tamatlah riwayat mereka semua, walau Zaidan terlihat ramah dan baik. Namun ketika sedang belajar mengaji Gus Zaidan berubah menjadi guru yang tidak bisa dianggap enteng.
"Mau ngaji Gus," jawab para santriwati kompak.
Di pojok aula, Dira cekikan. Ia sungguh senang melihat Della yang mendapatkan hukuman dari suaminya sendiri, entah mengapa ia melihat Della yang sepertinya memang menyukai suaminya secara terang-terangan. Padahal Della tahu Zaid sudah menikah dengannya.
"Rasain, jadi perempuan tuh jangan tebar pesona sama suami gue. Belum tahu gue bisa melakukan segala cara buat melindungi suami gue."
Sore ini, Dira membantu Bibi Surti merapikan halaman rumah Zaidan. Beberapa tanaman yang sudah layu Dira rapikan, lalu ia menyiram kembali agar tanaman yang kering menjadi segar. Dira memang menyukai keindahan taman yang ada di pesantren ini, sepertinya memang taman membuat sedikit lupa dunia luar.
"Non Dira, jangan bantuin Bibi. Nanti Bibi diomelin sama Aden Zaid," ucap Bibi Surti.
"Enggak Bi Surri, aku mau bantu pekerjaan ini. Habisnya bosan di dalam rumah aja sejak tadi, Nyai lagi istirahat lalu Zaid pergi entah kemana."
Bibi Surti diam, memang Dira tidak tahu pekerjaan seorang Zaidan Al-Kahfi selain menjadi guru ngaji di pesantren. Bi Surti ingin memberitahu kepada Dira, namun ia takut mendapatkan omelan dari Zaid karena memberitahukan pekerjaan apa yang dilakukan oleh Zaid selama ini.
"Non, memang nggak tahu Aden Zaid kerja apa selain jadi guru disini."
Dira menggeleng pelan, ia tahu Zaidan hanya menjadi guru mengaji saja dan selain itu Zaid menjadi pembalap motor seperti dirinya. Selain itu Dira memang tidak bertanya apapun kepada Zaid tentang pekerjaan atau yang lainnya.
"Bibi aku bersihkan yang disebelah sana saja, bagaimana?"
"Silahkan Non, kalau nggak merepotkan Non Dira."
Dira merapikan tanaman sebelah kanan, ia pun melakukan hal yang sama. Dira jadi ingat jika setiap sore hari Sang Bunda selalu menyisihkan waktu untuk merapikan tanaman di halaman depan, dan Dira mulai menyukai pekerjaan merapikan taman sejak ia melihat Bunda Kanaya.
"Kenapa aku jadi rindu rumah?" gumam Dira.
"Kamu mau menginap disana?"
Degh.
Dira menoleh ke belakang, ia tidak percaya bahwa Zaid ada tepat dibelakangnya.
"Aku-"
"Kebetulan aku ada pekerjaan di Jakarta selama satu Minggu, kamu bisa ikut aku jika mau bertemu dengan Ayah dan Bunda kamu."
"Benarkah?" tanya Dira tidak percaya.
Zaidan mengangguk pelan, ia baru saja pulang dari rapat pemegang saham di perusahaannya. Lalu ia bergegas kembali kedalam pondok pesantren hanya untuk melihat wajah Dira saja, sepertinya ia sudah mulai jatuh cinta dengan istri nakalnya itu.
"Besok kita berangkat, kamu siap-siap aja-"
Cup.
"Terima kasih Zaid."
***
"Dira anak Bunda, ya ampun kenapa nggak bilang kalau mau kesini?"
Dira merotasikan kedua bola matanya malas, ia tahu bahwa Sang Bunda hanya merasakan kesepian saat ini. Dirumah sebesar ini hanya ada Bunda, Ayah dan para pembantunya. Sedangkan anak-anak mereka tidak ada satupun tinggal disini.
"Ziad bahwa Dira kesini Bun, katanya kangen sama Bunda dan Ayah."
Ucapan Zaidan membuat airmata Kanaya jatuh, ia tidak bohong bahwa sangat merindukan keempat anak-anaknya. Jika saja kedua adik kembarnya berada di rumah ini, sudah dipastikan rumah akan ramai kembali walau tanpa dirinya.
Tidak berselang lama, jam sudah menunjukkan angka 10.00 pagi. Waktunya Zaid bekerja kembali di perusahaan miliknya sendiri, Zaid memang sudah mempunyai perusahaan yang masih berskala kecil tapi sudah berjalan lebih dari dua tahun.
"Bun, titip Dira. Aku mau kerja dulu, jangan buat Dira balapan lagi."
"Siap."
"Aku pergi, jangan nakal disini."
Cup.
"Eh, Zaid. Apa-apaan lo cium gue-" teriak Dira. Namun Zaid tidak memperdulikan teriakan Dira, Zaid langsung pergi menuju perusahaan untuk meeting siang ini.
***
Seharian Dira mengurung diri di kamar saja, ia sangat bosan tanpa melakukan apapun. Tiba-tiba ia mempunyai ide yang biasa ia lakukan jika sedang di rumah seperti sekarang, mengambil ponsel yang sudah diberikan oleh Zaid. Dira berniat untuk menghubungi Aulia sahabatnya, ia kangen dengan sahabatnya yang selalu memberikan support dalam balapan motor.
"Hallo, lo dimana? Gue lagi dirumah, suntuk. Main yuk!" ajak Dira.
"Ok, siapa. Meluncur ke TKP," jawab Aulia di seberang sana.
Dira pun akhirnya mempunyai ide yang sangat bagus, sebelum Zaidan pulang malam nanti. Ia akan bermain terlebih dahulu tanpa memberitahukan suaminya tersebut, kali ini Dira sudah berganti pakaian seperti biasa. Namun tetap memakai hijab sesuai apa yang diperintahkan oleh Zaid suaminya.
"Gue bawa motor aja, biar cepet."
Beruntung motor miliknya masih bisa dijalankan, ia tidak perlu memanaskan karena setahu dirinya Sang Ayah selalu melakukan perawatan di pagi hari.
"Ok, let's go!"
Perjalanan menuju sebuah kafe terkenal dengan acara live musiknya, kafe tersebut memang selalu Dira datangi jika dirinya merasakan bosan dengan suasana rumah.
"Dira, sini!" teriak Aulia.
Dira tahu siapa yang memanggilnya, sahabat tercinta yang sudah lama menghilang.
"Kemana aja lo, baru kelihatan. Bertapa di mana?"
Dira mendengkus sebal, pertanyaan Aulia membuatnya kesal. Padahal ia datang untuk bersenang-senang dan menikmati suasana kafe disiang hari.
"Sialan, gue ke pesantren sama bokap anda nyokap. Suruh tinggal disana,"
Aulia mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Dira saat ini. Namun Aulia melupakan itu semua, baginya saat ini ia sudah bertemu dengan Dira pun sudah bisa membuat rasa rindunya terbayarkan.
"Gue mau bilang sesuatu sama lo, tapi jangan ember."
"Apa? Tentang lo yang menikah sama Zaid?"
"Shut, bisa diam nggak. Nanti, semua pada tahu kalau gue sudah punya suami."
"Sorry, lupa."
Ketika Dira dan Aulia sedang bercengkrama di kafe, ada seseorang yang sejak tadi melihat mereka berdua. Lelaki itu tampak tersenyum melihat Dira.
"Miss D, sudah kembali. Aku akan buat dia bertekuk lutut nanti,"
Malam hari, Dira mengendap-endap menuju kamarnya. Ia berjalan menuju pintu belakang, menurutnya lebih aman dibandingkan ia harus masuk dari depan.
"Fiuh, akhirnya aku bisa pulang dengan selamat. Dan beruntung Zaid belum pulang, jadi aku enggak harus memberitahukan bahwa aku per-"
Lampu menyala seketika, ia kaget melihat suaminya sedang berdiri tepat di samping lampu meja. Dira tidak percaya bahwa Zaid saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda, seperti hendak memakannya.
"Zaid, ka-kamu. Di- disini?"
Zaid menatap wajah Dira kesal, ia tidak percaya Dira telah melanggar janjinya untuk tidak keluar tanpa izin darinya. Yang membuat Zaid murka dengan Dira bahwa istrinya pulang tanpa menggunakan hijab yang biasa dipakai ketika keluar rumah.
"Dimana hijab kamu Dira? Apa kamu nggak memakai hijab sejak kamu keluar dari rumah?"
Dira menepuk dahinya, ia benar-benar lupa dengan hijab yang dipakainya tadi. Ketika berada di rumah Aulia, Dira membuka hijab itu dan tidak memakainya kembali ketika pulang.
"Sepertinya kamu harus mendapatkan hukuman yang berat malam ini, Anandira Putri Mahendra."
"Hu-hukuman apa yang kamu mau berikan kepadaku, apapun akan aku lakukan. Membaca juz 30 sampai selesai akan aku lakukan-"
"No, layani aku malam ini sebagai seorang istri kepada suaminya. Itu hukuman setimpal untuk kamu."