Hadiah ulang tahun.

1244 Kata
Happy reading. "Aku kan sudah minta maaf, jadi buat apa dapat hukuman. Zet," "Tunggu disini, aku akan mandi dulu baru memberikan hukuman untukmu." Setengah jam berlalu, Zaidan telah selesai membersihkan dirinya. Ia lalu masuk kembali menuju kamarnya, namun ia tersenyum tipis ketika melihat Dira tertidur pulas di sofa tempatnya duduk. "Dasar bebek, bisa-bisanya tidur ketika aku sudah selesai mandi. Lalu bagaimana aku memberikan hukuman untuknya," gumam Zaid. Dira terbangun di malam hari, kembali seperti biasa ia tidak bisa tidur jika waktu seperti ini. Ia mengalami insomnia parah, dan selama ini hanya obat tidur sahabat sejatinya. Namun Sang Ayah melarang untuk meminum kembali, karena sangat fatal akibatnya jika dikonsumsi terlalu lama. "Kamu mau kemana bebek? Jangan bilang kamu akan bermain motor lagi seperti malam kemaren, aku nggak akan izinkan." "Ck, kamu tahu insomnia aku kambuh lagi. Dan obat mujarab untukku hanya bermain motor lalu tidur." Zaid menggaruk kepalanya tidak mengerti mengapa ada penyakit seperti Dira rasakan, bukankah seharusnya seorang wanita lebih cepat tidur dibandingkan dengan seorang lelaki. Dan ini baru saja diketahui oleh Zaid setelah menikah dengan Dira "Selain kamu harus pergi bermain motor, apa obat yang mujarab untuk kesembuhan kamu?" "Ehm, apa ya? Aku biasa mengkonsumsi obat untuk tidur. Tapi Ayah tidak mengizinkan aku untuk meminumnya lagi." Deg. "Obat tidur? Serius?" "Ehm, aku sud-" Cup. Dira mengerjap kedua matanya, ia tidak tahu sejak kapan Zaidan dengan berani mengecup bibirnya. "Mulai saat ini, aku nggak akan membiarkanmu meminum obat apapun atau pergi tengah malam seperti kemaren. Obat yang akan aku berikan untukmu adalah ini." Zaidan membungkam kembali bibir Dira dengan bibirnya, perlahan tapi pasti dengan ritme yang Zaidan berikan membuat Dira akhirnya membalas semua yang Zaidan lakukan. "Zaid, a-aku." "Diam dan nikmati permainan aku, akan aku pastikan kamu merasakan ciumanku sebagai pengganti obat tidur yang selama ini kamu konsumsi." *** "Sayang, bangun yuk! Sudah adzan subuh, kita sholat dulu. Setelah itu kita olahraga pagi mengelilingi kompleks ini." "Aku masih mengantuk, Bun. Kakak Rara aja bangunin dulu, nanti baru aku." Zaidan terkekeh, ternyata istrinya sedang mengigau kepada Ibu mertuanya. "Kamu lucu banget, jadi pengen nambah lagi." Degh. "Zaid, kamu mau apa lagi? Tolong jangan sekarang, bagian bawah aku masih sakit." Zaidan tertawa kencang, apakah cara permainannya sangat kasar sehingga Dira merasakan sakit perih di daerah intimnya. "Tenang sayang, aku hanya ingin membangunkan kamu. Yuk, kita mandi wajib lalu kita sholat subuh berjamaah." Dira menelan salivanya keras, hukuman apalagi yang akan Zaid berikan kepadanya. Semalam saja ia masih mengingat kejadian malam pertama yang membuat Dira kewalahan, lalu sekarang suaminya mengajak mandi bersama dan ia tidak bisa membayangkan jika Zaid mengulang kembali adegan demi adegan semalam. "Mandi bersama kamu, maksudnya aku nggak mengerti." "Ehm, maksudnya aku hanya meringkas waktu sayang. Tenang, aku nggak akan meminta kembali. Kecuali kamu yang meminta seperti semalam." Plak. "Jangan macam-macam, milikku saja masih sakit lalu kamu akan memasukkannya lagi. No, Zaidan Al-Kahfi." "Kita akan kehabisan waktu untuk sholat, ayo!" Zaidan melakukan apa yang ia ucapkan tadi, hanya mandi saja karena memang ia sudah kehabisan waktu untuk melakukan aktifitas seperti semalam. Mungkin setelah sholat, jika Dira menginginkan kembali Zaid dengan senang hati akan menerimanya. *** Pagi hari, setelah Zaidan berpamitan pergi bekerja. Dira pun akhirnya mengikuti Kanaya belanja di supermarket, seperti biasa Kanaya akan membeli isi dapur dan lemari es. Lalu ia tidak lupa untuk membeli perlengkapan untuk Si kembar yang sebentar yang sebentar lagi akan pulang ke rumah. "Dira, cepetan. Bunda tunggu di mobil," "Iya bun." Setelah semuanya selesai, Dira pun akhirnya mengikuti Bundanya untuk secepatnya pulang. Ia memang sudah berjanji kepada suaminya untuk tidak pergi kemana-mana hari ini. Kanaya yang menunggu Dira didalam mobil hanya bisa pasrah, tumben sekali putri keduanya berjalan sangat lama. Bukankah jika dirinya pergi ke supermarket, Dira selalu cepat dalam mengerjakan sesuatu. Namun saat ini, ia melihat Dira yang berjalan menuju mobil dengan langkah kaki pelan. Dan membuat Bunda Kanaya merasa aneh dengan putri keduanya. "Loh, kamu kenapa Dira? Kenapa jalannya seperti itu?" tanya Bunda Kanaya selidik. Dira diam, ia tidak mungkin mengatakan perihal miliknya yang masih perih akibat permainan Zaidan semalam. Ini adalah pengalaman Dira pertama kalinya, dan ia benar-benar merasakan sakit ketika sedang berjalan. "Ehm, itu Bun. Perih," "Perih? Ke-" Kanaya mengangguk pelan, sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa apa yang dirasakan oleh Dira sama persis seperti apa yang ia pernah rasakan dulu ketika baru menikah dengan suaminya. Bahkan suaminya tidak memberikan ampun setelah itu. "Nanti Bunda belikan obat, kalau kamu masih sakit. Dirumah saja, Bunda saja yang pergi." "No, Bun. Aku mau ikut, menemani Bunda membeli obat di apotik. Setelah ini aku akan pulang ke Pesantren dan pasti akan rindu sama Bunda." Kanaya terharu, ia pun sama merindukan putri keduanya. Jika sedang pergi ke supermarket, karena Rara putri pertamanya telah bekerja sejak lulus kuliah. "Bun, Dira kangen suasana seperti ini. Bolehkan Dira tinggal aja di Jakarta, kalau nggak Dira tinggal di Bandung sama Kakak." "No, kamu itu sudah menjadi istri Zaid. Kemanapun kamu pergi atas izin suami kamu, jadi kamu harus patuh sama suami." "Ehm, terserah Bunda aja." pasrah Dira. Akhirnya setelah setengah jam berlalu, mereka telah sampai disebuah supermarket besar yang ada di daerah ini. "Ayo, kita belanja!" "Ayo!" Acara quality time bersama dengan Bunda akhirnya telah selesai, baik Dira dan Bunda Kanaya menikmati kebersamaan mereka saat ini. Namun Dira melihat sosok lelaki yang memiliki wajah mirip dengan suaminya. "Itu bukannya Zaid Dira pun meminta izin untuk pergi ke toilet umum, menurutnya alasan yang masuk akal untuk melihat apakah benar itu suaminya atau bukan. Mengikuti arah jalan menuju sebuah apartemen, Dira berjalan perlahan-lahan tanpa ada yang mengetahui jika dirinya sedang mengintai. "Zaidan, mau kemana sih? Kenapa harus ke apartemen semewah ini." Yap, Dira mengikuti Zaidan suaminya yang pergi bersama dua bodyguard di sampingnya. Dira tahu apartemen yang ia datangi tidak sembarangan, apartemen yang sangat mewah di Jakarta. "Maaf, anda siapa. Bisa kartu apartemen," "Ah s**t, mana aku punya kartu itu." "Jika anda tidak punya, silakan keluar dari apartemen ini." Dira ingin sekali masuk tanpa ada yang menghalangi dirinya, namun memang ia akui bahwa apartemen yang saat ini ia datangi adakah apartemen mewah. Tanpa kartu itu ia tidak akan bisa masuk ke dalam apartemen. "Mba, aku mau nanya yang saja datang bersama dua bodyguard tersebut siapa ya?" "Ck, tolong anda jangan mengalihkan pembicaraan saya." Dira mendengkus sebal, benar-benar ia hanya ingin tahu ada hubungan apa dengan Zaid. Kenapa Zaid bisa masuk ke dalam apartemen semewah ini. "Satpam, tolong keluarkan orang ini." "Sialan, Lo kira gue pencuri apa. Hah?" "Silakan anda keluar Nona atau kami akan melakukan secara paksa." Dira akhirnya pergi keluar dari apartemen mewah tersebut, ia akan mencari keberadaan Zaidan dirumah saja. Jika benar Zaid melakukan kesalahan, Dira sudah pasti akan memberikan hukuman kepada suaminya. "Sialan kalian, awas saja nanti." gerutu Dira. Sementara itu, di sebuah kamar mewah Zaidan yang baru saja merebahkan tubuhnya begitu kaget. Dua bodyguardnya memberikan rekaman CCTV di lantai bawah, ia tidak sengaja melihat Dira istri dari bos mudanya. "Dira, disini?" "Ya, Tuan muda. Non Dira mengikuti Tuan muda sampai dibawah apartemen, sepertinya identitas Tuan muda sudah diketahui oleh non Dira." Zaidan menghela nafasnya, ia bukan tidak ingin mengatakan hal sesungguhnya bahwa dirinya adalah CEO dari perusahaan pengembang. Namun ia hanya ingin Dira mengetahui perihal pekerjaannya, ketika proyek dengan nama D&Z apartemen telah selesai sebelum ulang tahun Dira tiga bulan lagi. "Kamu harus berjaga lebih ketat lagi, saya tidak mau Dira tahu proyek ini." "Siap Tuan muda, saya akan merahasiakan semuanya sampai waktunya tiba." "Semoga tidak lama proyek ini selesai, aku sudah tidak sabar untuk memberikan hadiah ini buat bebek."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN