Happy reading.
Dira mengetuk meja dengan keras, ia sangat kesal dengan Zaid sejak tadi. Panggilannya beberapa kali tidak dibalas. Lalu pesannya pun tidak baca, padahal suaminya sedang online.
"Huh, benar-benar mau dikasih pelajaran sama aku."
"Dira, sudah mau magrib. Tutup pintu dan jendela kamu, nanti ada setan masuk culik perawan."
"Eh, perawan?" beo Dira.
Apa Bundanya tidak tahu bahwa putri keduanya sudah tidak perawan lagi, semalam menantu kesayangannya sudah merenggut paksa kegadisannya. Dan sudah berubah status saat ini.
"Bun, disini nggak ada perawan."
***
Seperti biasa, ketika malam hari Dira akan terbangun sendiri. Insomnia Dira kembali kambuh, ia pun segera bangun dari ranjangnya mengedarkan pandangan ke seluruh kamar mencari suaminya. Namun, Zaid tidak ada di dalam kamarnya.
"Kemana dia, bukankah seharusnya sudah pulang."
Menghembuskan nafasnya secara kasar, Dira pun turun dari ranjangnya. Niatnya hanya ingin menuju dapur saja, ia sudah berjanji tidak akan pergi kemana saja dengan motornya walau ia bisa melakukannya saat ini juga.
"Kamu belum tidur?"
Dira mengerjap kedua matanya, malam ini Zaid baru saja pulang entah darimana. Ia melihat kemeja Zaid yang sama seperti tadi pagi.
"Aku sedang ingin sesuatu, jadi terbangun." ketus Dira. Tanpa menatap Zaid, Dira berjalan menuju dapur tujuannya hanya ingin melihat stok camilan yang ia beli tadi.
Duduk disamping Dira, Zaid pun melihat apa yang dilakukan oleh Dira. Istrinya sedang memakan sesuatu malam ini, namun bukan itu yang membuat Zaid bingung. Sikap Dira yang tidak memarahi dirinya yang pulang terlambat malam ini.
"Kamu tumben, nggak rese. Kenapa?"
Dira masih menikmati makannya tanpa menjawab pertanyaan Zaid. Seakan Zaid tidak ada disampingnya, Dira mengabaikan suaminya yang menunggu jawaban dari mulutnya.
"Dira, kamu baik-baik saja?"
Namun tetap saja Dira diam, menikmati makannya. Lalu setelah selesai makan tanpa menunggu lama Dira pun meninggalkan Zaid yang masih setia duduk di area dapur.
"Dia kenapa sih! Kok diemin aku,"
***
Sudah dua hari Dira menutup mulutnya jika ada Zaid, namun berbeda ketika mereka bersama Ayah dan Bunda. Dira akan tersenyum di depan Zaid walau sejujurnya ia tidak ingin melakukan hal itu.
"Aku kerja dulu, kamu jangan tidur malam-malam. Sepertinya aku akan lembur kembali,"
Dira hanya diam saja, kembali dalam mode yang membuat Zaid bingung. Sampai Zaid pergi meninggalkan Dira seorang diri di kamar.
Zaid.menghela nafasnya panjang, ia melihat Dira yang kembali dalam mode diam seribu bahasa. Hanya melihat wajah nya lalu pergi, ia semakin bingung apa yang harus dilakukan agar istrinya kembali seperti semula.
"Wanita membingungkan."
Siang harinya, seperti biasa Dira akan memantau Zaid kembali. Ia sudah berada di depan apartemen mewah tepat dua hari yang lalu ia melihat suaminya masuk ke dalam apartemen itu.
"Aku sudah menunggu sejak dua jam yang lalu, kenapa Ziad tidak mengabari ku. Apa sebaiknya aku menghubungi terlebih dahulu?"
Dira menimang apa yang terbaik baginya, lalu ia pun mengambil ponsel untuk menghubungi Zaid. Bertanya sedang dimana suaminya saat ini.
"Kamu dimana? Bisa pulang bawakan aku makanan."
Satu pesan Dira kirimkan, hanya bercentang satu lalu tidak lama kemudian bercentang biru itu tandanya pesan yang ia kirimkan sudah dibaca.
"Aku sedang bekerja, tumben sekali kamu menghubungiku. Apakah kamu sedang rindu?"
Memutar kedua bola matanya malas, kenapa pertanyaannya tidak dijawab oleh Zaid. Padahal ia sudah lama menunggu jawaban dari mulut suaminya.
"Ck, orang ini benar-benar."
Baru saja Dira akan pergi tempat persembunyiannya, ia melihat seseorang yang mirip dengan suaminya.
"Zaid, itu benar suamiku gue."
Dira pun mengambil kembali ponselnya, lalu menghubungi suaminya namun panggilannya tidak terjawab.
"s**t, Zaid. Benar-benar cari masalah sama gue."
Kecurigaan Dira telah terbukti dengan bertemu Zaid siang ini, ia pun mempunyai pikiran sebenarnya suaminya siapa dan bekerja apa. Selama ini tidak ada yang mengatakan bahwa Zaid.adalah pekerja kantoran, yang ia tahu bahwa suaminya hanya sebagai guru ngaji dan pemilik pondok pesantren.
"Apa yang harus aku lakukan, kenapa Zet menutupi rahasia ini kepadaku."
***
Satu Minggu berlalu, kini Dira semakin dingin kepada Zaid. Dira menunggu suaminya berbicara sejujurnya namun hingga satu minggu di Jakarta, Zaid tidak kunjung memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Pekerjaan apa yang selama ini Zaid lakukan di apartemen mewah itu.
"Hari ini kita pulang, nanti sore kamu bersiap-siap saja. Setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan, lalu aku akan menjemputmu,"
Cup.
"Aku rindu sama kamu yang bawel bebek." bisik Zaid.
Dira mendengkus sebal, kata-kata manis yang keluar dari mulut Zaid tidak akan membuatnya luluh. Dira hanya ingin suaminya jujur dengannya hanya itu yang ia mau.
"Aku ingin kamu jujur kepada ku, kenapa merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi."
Sepeninggal Zaidan, Dira pun bersiap-siap untuk pergi dari rumahnya. Ia ingin bertemu dengan Aulia sahabatnya, mereka akan bertemu kembali di cafe yang sama seperti beberapa hari lalu.
"Satu jam lagi gue sampai."
Satu pesan terkirim, Dira pun bergegas memakai baju dan celana, ia tidak lupa menggunakan hijabnya. Walau hanya hijab instan, namun Dira sudah berjanji akan memakainya jika sedang berada di luar rumah.
"Ok, gue memang cantik. Apalagi kalau pake hijab gini," gumamnya.
Setelah merasa sudah rapi, Dira mengambil motor besarnya. Menjalankan motornya menuju cafe dimana Aulia sudah menunggunya, Dira pun dengan cepat menjalankan motornya menuju cafe tersebut.
Baru saja motor Dira keluar dari gerbang, mobil Zaid kembali, sebenarnya ada yang ketinggalan di dalam kamarnya. Namun, ia penasaran dengan Dira yang pergi tanpa izin dengannya.
"Dia mau kemana? Kenapa sepertinya terburu-buru?"
Zaid mengikuti Dira dari belakang, dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Zaid masih bisa memantau motor Dira, namun sialnya ketika berada di lampu merah. Zaid ketinggalan Dira yang sudah meluncur entah kemana.
"Cepet banget sih jalannya, jadi ketinggalan kan."
Lalu Zaid pun memutar balik mobilnya, percuma saja untuk mengejar Dira. Ia tidak akan menemukan Dira begitu saja, sudah dipastikan ia telah kalah jauh dari istrinya.
"Pak, kita putar balik saja. Sepertinya saya akan bekerja kembali di kantor."
Sementara itu, Dira telah sampai di cafe yang ia janjikan. Disalah satu kursi telah ada Aulia yang menunggu sejak tadi.
"Maaf, telat. Maklum gue baru selesai merapikan rumah sendirian." bohong Dira. Sejak kapan ia rajin merapikan kamar beserta ruangan lainnya, itu mustahil bagi Dira.
"Ck, lama banget sih. Kenapa baru sampai?"
"Gue haus ya, tolong pesankan minum untuk gue."
Aulia menggelengkan kepalanya, ia tahu Dira luar dalam. Jika sahabatnya sedang mempunyai masalah sudah pasti Dira akan berubah serius berbeda seperti biasanya.
"Ini buat lo, dan jangan ngambek ya."
"Ehm, tenang aja."
Dira pun menikmati terlebih dahulu minuman yang sudah dipesan, tidak membutuhkan waktu yang lama. Minuman itu habis tanpa sisa.
"Lo gila Dir? Haus banget kayaknya."
"Ck, kan gue bilang haus."
"By the way, lo mau ngapain ajak ketemuan. Nggak takut suami brondong lo ngamuk lagi."
Dira menggelengkan kepalanya cepat, justru saat ini ia ingin sekali mengerjai Zaid dengan pergi tanpa pamit seperti sekarang. Dira juga ingin memberikan sesuatu ke Zaid, tapi ia masih bingung apa yang akan ia lakukan kepada suaminya.
"Gue mau pergi yang jauh buat beberapa saat, lo tahu kalau gue suntuk gimana. Sudah pasti menyukai perjalanan jauh."
"Terus? Lo mau kemana? Gue bisa temani lo kemana aja, tenang waktu gue masih bebas buat sahabat gue."
"Temenin gue ke Bandung, sepertinya enak kalau kita kesana. Pakai motor gue boleh, kita pergi ke sana sekarang juga."
"Hah? Yang bener aja lo, nggak pamit sama suami sendiri."
"Ck, males. Sudah ayo, sekarang. Soal baju sama penginapan gampang, kita menginap di hotel milik keluarga gue atau di rumah Eyang."
Aulia mengangguk kepalanya tanda ia setuju, biarlah untuk sementara ia menemani Dira ke Bandung sebelum ia kembali ke Singapura dan tinggal bersama keluarganya.
"Ok, kita pergi sekarang."