Aulia Rahma Yanti, sahabat sekaligus suporter ketika Dira mengikuti berlomba balap motor. Terpaut beberapa bulan saja, Dira mengenal Aulia ketika ia datang ke panti asuhan milik eyang buyutnya yang berada di Bandung. Mereka lalu berteman baik hingga sekarang, dan Dira tidak tahu bahwa sekarang Aulia sudah menemukan keluarganya yang selama ini tinggal di Singapura.
Dira sangat menyayangi Aulia, mereka pernah bertengkar hebat dalam merebutkan mainan. Namun itu dulu ketika mereka masih kecil, dan seiring waktu mereka berpikir bahwa ternyata ada kesamaan dari dalam diri Dira dan Aulia yang sama-sama suka kebebasan.
"Dir, lo bawa duit nggak? Nanti kita ke Bandung bagaimana?"
"Ck, gampang. Gue bawa ATM limit gue, nggak akan kelaparan juga kita di jalan."
Menepuk bahu sahabatnya, Dira tahu saat ini Aulia tidak mempunyai sepeserpun uang. Dan ia pun telah mempersiapkan bekal uang di ATM limitnya.
"Terus kesini lo bawa tas? Dompet?"
"Bawalah, tas gue ada di jok. Sebentar,"
Dira pun mengecek tas miliknya yang berada di jok motor, ia melihat tas yang setiap kemana-mana selalu ada bersamanya. Namun betapa kaget dirinya, tas yang ia bawa salah.
"Astaga, gue salah bawa tas."
Menepuk dahinya kencang, saat ini Dira maupun Aulia hanya pasrah. Jika tidak mempunyai uang sepeserpun karena memang tas yang berisikan ATM dan uang berada di rumah.
Ting.
"Sebentar, ada pesan dari promotor."
Aulia membuka pesan tersebut, satu pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Lalu Aulia membaca secara perlahan, dan ia tersenyum senang.
"Gue ada solusi, buat dapat uang malam ini."
***
Disini, di arena motor balap Dira dan Aulia berada. Mereka telah menyetujui lomba malam ini, hadiah yang akan didapatkan juga cukup fantastis. Mereka tergiur dengan apa yang akan didapatkan jika Dira memenangkan lomba kali ini.
"Lihat, hadiahnya 200 juta."
"Ehm, sepertinya enggak bakal susah dapatin itu semua."
Dira pun bersiap-siap untuk mendaftar ulang, ia sudah memenuhi semua persyaratan untuk lomba kali ini.
"Dir, yakin bakal menang?"
"Doain aja, uang yang akan kita dapatkan akan aku berikan sebagian ke panti asuhan milik eyang. Dan susahnya buat kita pergi,"
Aulia memeluk erat Dira, ia tidak percaya bahwa masih ada orang yang baik kepadanya. Ia tidak perlu ragu dengan Dira yang memang benar-benar baik dan peduli dengan sahabat serta orang sekelilingnya, padahal Aulia yakin bahwa Dira bisa saja meminta uang kepada kedua orang tuanya yang notabene adalah keluarga pengusaha. Namun setelah bersahabat cukup lama, Aulia tidak pernah melihat Dira menggunakan uang dari orang tuanya.
"Terima kasih, Dira. Gue salut sama Lo,"
"Ya, sudah gue siap-siap dulu. Sepertinya sebentar lagi lomba akan dimulai,"
Perlombaan balap motor beberapa menit lagi segera dimulai, Rara bersiap-siap untuk menjalankan motor. Ia berharap akan menang walaupun hanya mendapatkan juara dua atau tiga.
"Are you ready? Siap, satu, dua, ti-ga."
Putaran pertama Dira masih berada dibarisan nomer 3, ia memang terbiasa melihat siapa yang tercepat lebih dulu. Lalu tidak lama kemudian ketika mereka semua sudah berada di putaran kedua. Barulah Dira mempercepat laju motornya, beruntung ia melihat hanya dua orang saja yang melampaui dirinya. Namun akhirnya bisa mengejar pembalap tersebut.
Dan diputaran ketiga Dira semakin terdepan, satu kali lagi putaran akan selesai. Dira pun semakin cepat melajukan tempo kecepatan motornya.
Dan wuss..
Akhirnya Dira memenangkan pertandingan balap motor liar, ia sungguh beruntung malam ini. Dira akhirnya mendapatkan juara satu dengan total hadiah 200 juta.
"Yeeh, Dira menang."
"Selamat, anda memenangkan lomba kali ini Miss D?"
Deg.
Sudah lama Dira tidak mendengar namanya dipanggil seperti itu, bahkan sejak dirinya menikah ia seakan lebih senang orang memanggil namanya sendiri.
"Kenapa gue jadi kepikiran Zet."
"Dir, malah bengong."
"Kamu mau aku transfer atau uang cash?"
Karena saat ini ia tidak membawa dompet, mau tidak mau ia meminta uang cash. Namun sahabatnya memberikan usul agar uangnya di transfer melalui no rekening miliknya.
"Ok, gue transfer ke kamu aja."
Deg.
Aulia mematung, ia tidak tahu mengapa suara lelaki itu seperti pernah ia kenal. Namun dimana dan kapan, ia tidak tahu.
"Sudah, silakan cek. Kalau begitu saya permisi, selamat sekali lagi Miss D."
"Ehm, thank."
Dira tersenyum senang, rezekinya malam ini akhirnya tercapai. Ia akan beristirahat sebentar lalu segera pergi menuju Bandung, ia sudah ingin jauh dari Jakarat untuk saat ini.
Dua jam kemudian.
"Sudah siap buat jalan jauh malam ini?" tanya Dira.
"Siap, gue sudah kenyang juga. Thank, Dira."
"Ok, kalau begitu ayo! Kita jalan sekarang, mungkin pagi kita baru sampai."
Tepat pukul 11.00 malam, Dira dan Aulia telah berangkat menuju Bandung malam ini. Dengan menggunakan motor besar, mereka berjalan di jalanan hanya berdua saja. Beruntung cuaca malam ini sangat bagus, sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk mereka pergi dengan lancar.
Sementara itu, di perjalanan menuju rumah mertuanya. Zaidan mendapatkan kabar dari bunda Kanaya, bahwa istrinya sampai malam ini belum pulang. Betapa kagetnya Zaidan, berarti sejak siang tadi Dira belum pulang.
"Astaga, kemana lagi Dira. Kenapa aku l tidak pulang saja tadi sore, agar aku bisa mencarinya."
Karena terlalu banyak pekerjaan hari ini, Zaidan dengan terpaksa pulang malam kembali. Selama seharian ia memang sengaja mematikan ponselnya, ia seakan hanyut dengan pekerjaannha tadi.
"Aku harus mencari kemana lagi? Kenapa harus kabur sih?"
Zaidan pun menjalankan mobilnya menuju kediama rumah mertuanya, sengaja ia membawa mobil sendiri agar perjalanannya lancar esok pagi.
Sesampainya di rumah, kedua mertuanya sudah menunggu. Bahkan bunda Kanaya sedang menangis karena Dira kabur kembali.
"Bun, maaf. Aku baru pulang, seharian pekerjaanku sangat banyak. Aku lupa mengaktifkan ponsel,"
Bunda Kanaya tidak menyalahkan menantunya, memang ini semua adalah kesalahan dari dirinya sendiri. Ia selalu memanjakan Dira dari anak-anak yang lain, baginya Dira adalah anak yang harus diperhatikan. Namun Bunda Kanaya salah, dengan ajarannya membuat Dira menjadi semena-mena.
"Maafkan bunda, karena kesalahan bunda. Dira jadi anak yang membangkang, selaku seperti ini kalau hatinya sedang kesal."
Zaidan mengangguk pelan, ia sudah tahu bagaimana Dira. Ia pun tidak mempermasalahkan sikap dan sifat yang dimiliki istrinya, bagi dirinya Dira akan tetap menjadi istri dan ibu untuk calon anak-anaknya.
"Tenang sayang, aku sudah membantu mencari Dira. Palingan dia main sama Aulia,"
Zaidan memikirkan nama sahabat perempuan Dira, Yap. Ia baru ingat kalau telah menyimpan nomer Aulia waktu itu.
"Bun, yah. Aku istirahat dulu. Besok Zaid janji akan mencari Dira kembali, itu janji Zaid."
Meninggalkan kedua mertuanya, Zaidan masuk ke dalam kamar Dira. Ia menyalakan lampu kamarnya, lalu betapa kagetnya Zaidan bahwa tas istrinya berada di atas meja rias milik Dira.
"Astaga, Dira enggak bawa dompet. Semua uangnya ada disini,"