Bertemu Dira.

1107 Kata
Happy reading. Pencarian Dira masih berlanjut, tidak hanya Zaid sebagai suaminya yang ikut mencari keberadaan Dira. Kedua mertuanya pun ikut andil dalam kepergian Dira.Baik Alva dan Kanaya turut membantu pencarian putri keduanya yang kabur. Berbagai cara telah dilakukan oleh Zaid, diantaranya menghubungi Aulia, namun tetap saja ia tidak menemukan Dira. Hasilnya masih nihil untuk saat ini, bahkan nomer Aulia non aktif sampai saat ini. Akan tetapi Zaidan tidak putus asa, ia masih akan mencari istrinya hingga pelosok dunia sekalipun. "Aku akan mencari keberadaan Dira di manapun berada, bahkan sampai ujung dunia sekalipun Dira akan aku cari." Sementara itu, di kediaman M&D House, Alva dan Kanaya pun sudah mencari keberadaan putri kedua mereka. Kalau saja Dira mengaktifkan ponselnya, sudah dipastikan baik Zaid maupun Alva akan mendapatkan kabar tentang keberadaan Dira. "Kira-kira kemana Dira ya, sayang? Aku tidak tahu dimana Dira sekarang." "Ehm, kamu sudah tanya ke Rara. Siapa tahu putri pertama kita mengetahui keberadaan Dira," ucap Kanaya. "Astagfirullah, kenapa aku enggak kepikiran kesitu ya." Alva pun menghubungi Rara putri pertamanya, ia baru ingat bahwa Rara dan Dira selalu bersama jika salah satunya sedang galau. Walaupun mereka selalu bertengkar diawalnya saja, namun akan berakhir dengan perdamaian. Baru saja Alva akan menghubungi Rara, putri pertamanya menghubunginya melalu panggilan telepon. "Assalamualaikum, Ayah. Pasti Ayah mau telepon aku ya, atau Ayah mau menanyakan keberadaan Dira sama aku?" tebak Rara. "Ehm, benar banget. Nak, apakah kamu tahu keberadaan Dira. Ia sudah tidak pulang sejak kemaren," "Dira ada di hotel bersama Aulia, tapi jangan beritahu bahwa aku yang mengatakannya. Bisa ngamuk dia." Alva menepuk dahinya, ia lupa dengan hotel miliknya yang berada di Bandung. Kenapa enggak kepikiran kesana, pikir Alva. "Ok, nak. Hati-hati disana, jaga kesehatan kamu dan calon bayimu. Jangan berantem terus sama Raja, Ayah pusing." "Siap, enggak akan lagi." Klik. Alva menatap wajah Kanaya tegang, ia harus mengatakan sejujurnya kepada istrinya bahwa saat ini Dira dan Aulia sedang berada di Mahendra Hotel cabang Bandung. "Sepertinya aku harus mengatakan kepada Zaid bahwa Dira sedang berada di Bandung, ia menginap di hotel kita." "Hah? Di hotel?" *** Setelah mengetahui bahwa Dira berada di Mahendra Hotel yang berada di Bandung, Zaid pun segera pergi menuju hotel tersebut. Bahkan tidak perlu menunggu lama, Zaid langsung berangkat detik itu juga. "Aku akan datang, berhenti bertingkah lagi setelah aku menemukanmu Dira." Dengan tekat yang bulat, Zaid akhirnya pergi menuju Bandung dengan mobilnya. Ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke pesantren sebelum menemukan Dira. Sementara itu, siang ini Dira sedang berada di resto hotel bersama Aulia tentunya. Namun setengah jam kemudian Aulia pamit masuk kedalam kamarnya, ia ingin beristirahat hingga sore hari. "Dir, kok kamu ada disini?" Dira mengerjap kedua matanya, ia baru menyadari bahwa saat ini ada sahabat dari kakaknya yang bekerja sengaja chef resto hotel. "Loh, Abang? Kenapa ada di Bandung? Bukankah Abang-" Lelaki itu memegang kepala Dira yang terbungkus hijab instan, ia pun tidak menyangka bahwa saat ini dirinya bertemu dengan Dira adik dari sahabatnya. "Abang sudah beberapa bulan disini, niatnya sih mau dekat sama kakak kamu. Tapi kakak kamu kan sudah menikah," Dira menatap sedih samudera yang tidak lain adalah sahabat dari kakaknya, ia memang mengetahui bagaimana perasaan Samudera kepada Rara selama ini. "Cari lagi, wanita yang single. Pasti ada," "Ehm, bagaimana kalau kamu saja. Abang bersedia kok," Dira menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin menerima Samudera sedangkan sejak kecil ia sudah menganggapnya sebagai abang kandung. "Bagaimana dengan Aulia? Dia single, cantik, pintar dan-" "Stop, sudah ya. Jangan menjodoh-jodohkan aku sama sahabatmu, toh aku pun sudah menganggap Aulia adik sendiri sama sepertimu." Ketika mereka berdua sedang bercengkrama, Zaid yang baru saja datang melihat keduanya dengan tatapan kesal. Timbul rasa cemburu yang ada didalam hatinya. "Astagfirullah, kenapa harus seperti ini. Hilangkan rasa marah dihati hamba Ya Allah," Namun sebagai lelaki normal, ia pun kesal dengan apa yang dilihatnya kali ini. Dengan leluasa mereka berdua berbicara berdua saja, bahkan Dira begitu menikmati momen berbicara dengan pria yang tidak diketahui oleh Zaid. "Dira, aku menjemputmu." Degh. "Zaid, ka-kamu ada disini?" "Ya, aku disini untuk menjemput istriku yang kabur. Dan aku pastikan kamu tidak akan pergi lagi," Zaid pun beralih menatap Samudera dengan tatapan yang tidak biasa, saat ini hatinya diselimuti dengan amarah dan rasa cemburu kepada Samudera. "Tolong jaga sikap anda kepada istri saya, dia bukan muhrim untuk disentuh." Dira tidak habis pikir, sejak kapan Zaid ada di Bandung. Bahkan Dira pun tidak mengerti mengapa suaminya sampai semarah itu dengan Samudera yang jelas-jelas sudah ia anggap abang kandungnya. "Ikut, aku Dira." "Zaid lepas. Tangan aku sakit," Namun Zaid tidak menghiraukan panggilan Dira yang kesakitan, ia masih saja menarik tangan istrinya menuju lantai atas. "Zaid, kita mau kemana?" "Kamu pikir sendiri kita mau kemana? Toh hubungan kita tidak hanya sebatas sahabat bukan, status kita sudah jelas." Dira berteriak meminta tolong, namun keadaan mereka memang sedang berada di dalam lift. Sudah dipastikan tidak akan ada yang datang untuk menolongnya. "Zaid, lepaskan! Tanganku sakit, kamu menyiksaku." Dira menangis, baru pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini. Ia ditarik seperti seekor binatang, lalu tanpa belas kasihan Zaidan menariknya hingga masuk kedalam lift. "Astagfirullah, maaf. Aku enggak sengaja, sa-" Plak. "Kamu mengira aku siapa? Hah?" *** Dira mengurung diri didalam kamar, sejak bertemu dengan Zaid. Ia tidak ingin melakukan apa-apa, padahal ia sudah berniat untuk pergi bersama Samudera mengeksplor beberapa tempat di Bandung. Malam harinya, Dira merasa perutnya lapar. Mau tidak mau Dira harus keluar dan mencari makanan di dapur. "Kamu mau kemana? Sudah malam Dira?" Memutar kedua bola matanya malas, ia sudah tidak ada tenaga untuk meladeni pertanyaan Zaidan. Saat ini ia hanya ingin makan dan mengisi perutnya yang kosong. "Aku hanya mau makan, kenapa nggak boleh?" "Aku sudah memasak, ini semua untukmu Dira." Menatap beberapa makanan yang telah tersaji di meja dapur, Dira menimang semua makanan yang ada di depan matanya. Sungguh sangat menggugah selera nafsu makannya. "Duduk di sini, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu." Dira duduk di bangku, lalu mengambil steak ayam yang sepertinya enak untuk ia makan. "Sepertinya enak, apa benar ini hasil masakan Zaid sendiri. Kenapa aku nggak percaya ya?" Mengambil piring yang Dira pakai, Zaid lalu membantu istrinya untuk memotong steak ayam lebih kecil lagi. Ia tidak lupa untuk menyuapi istrinya sebagai permintaan maaf. "Buka mulutmu, ini enak sekali Dira." Lalu Dira memakan steak ayam, satu kata yang ada di pikiran Dira yaitu enak. Ia tidak bisa memungkiri bahwa steak yang dibuat oleh Zaid sangat enak seperti makanan hotel bintang lima. "Bagaimana enak?" "Aku mau lagi, tapi suapi ya." Dengan ikhlas Zaid menyuapkan kembali steak ayam yang ia pesankan untuk Dira, Dira yang begitu menikmati rasa steak ayam kali ini. Rasa laparnya telah terobati dengan steak buatan Zaid. "Kenapa seperti nggak asing ya, steak ayamnya seperti buatan hotel ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN