Sang Maharaja Hayam Wuruk

1470 Kata
Haya menatap peta besar yang terbentang di hadapannya. Cahaya lilin di ruangan itu bergetar seiring dengan helaan napas beratnya. Matanya yang dulu penuh kelembutan kini berkilat tajam, memancarkan ambisi yang tak terpadamkan. Ia menyusuri peta dengan jemarinya, melihat betapa luasnya wilayah yang kini berada dalam genggamannya. Kerajaan-kerajaan yang dulunya berdiri sendiri kini tunduk dibawah kekuasaannya. Namun, meskipun batas Majapahit telah meluas, ada satu titik di peta yang masih membuatnya geram, kerajaan Pasundan. Ia menghela nafas kasar dan berbalik menatap para panglimanya yang berdiri tegap di hadapannya. Nara, Tanu, dan Sura, yang dahulu adalah sahabat seperjuangan, kini menjadi bagian dari alat pemerintahannya. Mereka telah melihat berbagai pertempuran, telah merasakan kepemimpinannya sejak masih di medan perang. Namun, ada sesuatu yang berubah. Mereka bisa merasakannya, dan kini, dalam keheningan ruangan itu, perubahan tersebut semakin jelas. "Aku punya perintah untuk kalian," suara Haya menggema, dingin dan tak terbantahkan. "Kalian akan menduduki wilayah yang telah ditaklukkan oleh Mada. Kalian akan memastikan bahwa tak ada yang berani memberontak. Majapahit harus kuat, dan untuk itu, kita tidak bisa membiarkan satu pun wilayah mempertanyakan kekuasaan kita." Ketiga panglima itu saling berpandangan sejenak. Nara, yang biasanya penuh semangat dan bijaksana, kini tampak sedikit ragu. Tanu menggertakkan giginya, dan Sura hanya menunduk, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Mereka tahu bahwa tak ada ruang untuk membantah, tetapi mereka juga tak bisa mengabaikan perubahan dalam diri Haya. "Kami mengerti, Yang Mulia," akhirnya Nara menjawab. Nada suaranya tetap hormat, tetapi tidak seperti sebelumnya, tak ada lagi kebanggaan dalam menerima perintah. Hanya kepatuhan yang dipaksakan. "Bagus," Haya menjawab cepat. Ia kembali menatap peta dengan tajam, matanya terpaku pada satu wilayah yang masih belum jatuh ke tangannya. Kerajaan Pasundan. Kerajaan yang selama ini berdiri berdampingan dengan Majapahit, tetapi kini menjadi satu-satunya duri dalam daging. "Pasundan masih berdiri," gumamnya, suaranya penuh ketidaksabaran. "Itu tidak bisa dibiarkan. Kita tidak akan mencapai kemenangan mutlak jika mereka masih ada." Suasana ruangan menegang. Pasundan bukan sekadar kerajaan biasa. Itu adalah salah satu kerajaan terbesar di tanah Nusantara, kerajaan yang telah lama menjalin persahabatan dengan Majapahit. Bahkan, sejak dulu, hubungan antara dua kerajaan itu selalu terjalin harmonis, tanpa perlu peperangan. Namun, kata-kata Haya barusan menunjukkan bahwa ia tidak menginginkan persahabatan lagi. Ia menginginkan d******i. "Mahaguru!" suara Haya menggema, memanggil sosok yang berdiri di sisi ruangan. Mahaguru yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, akhirnya melangkah maju. Wajahnya tetap tenang, tetapi dalam hatinya ada gelombang kegelisahan yang tak terbendung. Sejak Haya mengenakan Mahkota Jiwa, Mahaguru bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Bukan hanya ambisi, tetapi juga kekuatan yang semakin gelap, semakin dalam. "Aku ingin kau menyelidiki Pasundan," kata Haya tanpa basa-basi. "Cari tahu kelemahan mereka. Temukan cara untuk menundukkan mereka. Aku ingin kerajaan itu di bawah kekuasaan Majapahit." Mahaguru terdiam sejenak. Ia ingin menolak, ingin mengatakan bahwa ini bukanlah jalan yang benar, tetapi melihat sorot mata Haya, ia tahu itu akan sia-sia. Namun, meskipun ia tahu tak ada gunanya, ia tetap berbicara. "Pasundan adalah kerajaan sahabat," kata Mahaguru dengan nada hati-hati. "Mereka tidak pernah menjadi ancaman bagi kita. Kenapa kita harus menundukkan mereka?" Tatapan Haya seketika berubah lebih tajam. Dalam sekejap, suasana ruangan terasa lebih dingin. Mahaguru bisa merasakan tekanan yang mengerikan, seolah ruangan itu telah menyusut, membuat nafasnya lebih berat. "Jangan pertanyakan keputusanku, Mahaguru!" bentak Haya, suaranya menggelegar di dalam ruangan. "Majapahit harus menang sepenuhnya! Kita tidak bisa membiarkan satu pun kerajaan berdiri sendiri. Tidak ada sekutu, hanya tunduk atau lenyap!" Keheningan mengisi ruangan setelah kemarahan Haya meledak. Semua orang di sana bisa merasakan perbedaan itu. Mahaguru, meskipun hatinya dipenuhi kekecewaan, hanya bisa menunduk dalam-dalam. "Aku akan menyelidikinya," katanya akhirnya, suaranya jauh lebih pelan dari sebelumnya. "Bagus," jawab Haya dingin. "Kau boleh pergi." Mahaguru berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan beban yang berat di pundaknya. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang sangat salah di sini. Ini bukan Haya yang ia kenal. Ini bukan Haya yang dahulu ia latih dan besarkan. Mahkota itu... sesuatu dalam mahkota itu telah merasuk ke dalam jiwa Haya, mengubahnya menjadi seseorang yang ia tak lagi kenali. Di dalam ruangan, Haya kembali duduk di singgasananya. Namun, meskipun semua orang telah menurutinya, ekspresinya tidak menunjukkan kepuasan. Matanya tetap terpaku pada peta di hadapannya, tetapi dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganggu. Sebuah suara berbisik di dalam pikirannya. “Kau harus terus maju. Kau harus memastikan semuanya tunduk. Jika tidak, kau akan kehilangan segalanya.” Haya menghela napas. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan suara itu meresap dalam pikirannya, lalu membuka matanya lagi. Tatapan itu kini semakin dingin, semakin dalam. Majapahit harus menang. Tidak peduli dengan cara apa pun. *** Mada dan pasukan gajah jiwa melangkah perlahan memasuki gerbang kerajaan misterius yang terbengkalai. Udara malam terasa berat, dipenuhi aroma lembab dan bau logam yang samar. Di kejauhan, terdengar suara langkah berat yang mengguncang tanah. Dari balik reruntuhan Keraton, sesosok siluman raksasa muncul, tubuhnya menjulang, matanya bersinar merah membara, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Tanpa ragu, Mada menghunus pedangnya dan memberi perintah kepada pasukan gajah jiwa. Dengan raungan keras, pasukan itu menerjang, menghunuskan taring dan menginjak-injak siluman raksasa yang menyerang. Mada sendiri melompat ke bahu salah satu gajahnya, melesat tinggi ke udara, dan menebas kepala siluman dengan satu tebasan kuat. Namun, keanehan mulai terasa. Siluman itu, meski telah tewas, masih berdiri beberapa saat sebelum akhirnya runtuh perlahan menjadi abu. Mada menyipitkan matanya. "Siluman sebesar ini… seharusnya tidak ada yang sekuat ini. Apa yang sedang terjadi di tempat ini?" Dengan hati-hati, ia melangkah menuju Keraton yang tampak kosong dan hancur. Namun, begitu memasuki aula utama, kegelapan menyelimuti sekelilingnya. Udara tiba-tiba menjadi lebih dingin, dan suara gemuruh terdengar dari segala arah. Dari bayang-bayang, lebih banyak siluman raksasa bermunculan, mengepungnya. Jantung Mada berdetak cepat saat ia menyadari jebakan ini. Di tengah aula, berdiri seorang pria berpakaian gelap, tudungnya menutupi hampir seluruh wajahnya, menyisakan sepasang mata keemasan yang bersinar dalam kegelapan. Di tangannya, ia menggenggam seekor anjing kecil berwarna hitam. Mada memperhatikan dengan cermat saat pria itu mengusap kepala anjing tersebut, dan dalam sekejap, tubuhnya mulai membesar, otot-ototnya menggembung, taringnya memanjang, dan matanya berubah merah menyala. "Kau menyadarinya sekarang?" suara pria itu berat dan mengandung ejekan. "Siluman disini bukanlah makhluk biasa. Mereka bisa berubah sesuka hati... selama ada aku." Mada menggertakkan giginya. Ia tahu ini bukan pertarungan biasa. Ketika siluman-siluman raksasa mulai menyerang, Mada bertarung sekuat tenaga. Pedangnya berkelebat cepat, menebas satu per satu makhluk buas itu, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Pasukan gajah jiwa pun kewalahan menghadapi kekuatan yang luar biasa ini. Beberapa gajah mulai roboh, dan luka-luka pun mulai terlihat di tubuh Mada. “Inilah akibatnya jika nekat melawanku sendirian! Aku Varuna, akan membangkitkan semua kekuatan siluman dan melawan balik Majapahit.” Darah menetes dari pelipisnya, namun Mada tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Ia mengeratkan genggamannya pada pedang, lalu menancapkannya ke tanah. Dengan suara yang lantang, ia membalas perkataan Varuna., "Aku tak sendirian, Jiwa para pejuang ada di dalam diriku! Pinjamkan kekuatan kalian, kawan-kawan." Seketika, energi mulai berputar di sekitar Mada. Dari tubuhnya, aura kebiruan menyala terang, membakar semangat para pasukan gajah jiwa yang masih bertahan. Mata mereka bersinar dengan tekad baru, tubuh mereka bergetar dengan kekuatan yang diperoleh dari Mada. "Jiwa Kesatria!" Mada mengaktifkan kekuatan yang ia pinjam dari Shura. Dalam sekejap, ia dan pasukannya bergerak lebih cepat, lebih kuat, dan pantang menyerah. Mereka menerjang kembali, menebas, menginjak, dan menghancurkan para siluman satu per satu. Namun, sang raja gelap tidak terpengaruh. Ia hanya tertawa rendah, lalu melambai tangannya. Siluman baru bermunculan dari bayangan, lebih banyak dari sebelumnya. Mada mengangkat dua jarinya dan mengarahkannya ke sang raja. "Jiwa Anugerah Alam!" Tiba-tiba, api menyala di tangan Mada, bercampur dengan kilatan petir yang membakar udara sekitarnya. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan serangan itu ke arah para siluman. Api dan petir bergabung, menciptakan gelombang panas yang menghancurkan makhluk-makhluk itu dalam sekejap. Namun, sang raja tetap berdiri kokoh, hanya tersenyum dengan tenang di tengah kehancuran yang Mada ciptakan. "Menarik," katanya dengan nada meremehkan. "Tapi kau masih jauh dari cukup." Mada menyadari bahwa raja ini bukan sekadar pengguna Asrava biasa. Ia lebih kuat, lebih licik. Dengan nafas terengah, Mada kembali berbicara, "Jiwa Terjerat." Dari tanah, rantai-rantai bercahaya muncul, menjerat setiap siluman yang masih tersisa. Rantai itu bersinar dengan energi jiwa yang berasal dari Tanu, membelenggu dan mengunci pergerakan para siluman. Para makhluk buas itu mengerang, berusaha melepaskan diri, tetapi rantai itu menjerat lebih kuat. Mada melangkah maju. Dengan satu ayunan pedang, ia menghabisi para siluman yang tak bisa bergerak, mendekati sang raja yang kini mulai menunjukkan ekspresi tegang. "Kau... benar-benar merepotkan," desis sang raja. Mada tidak menjawab. Ia mengangkat pedangnya tinggi, lalu dengan satu tebasan cepat, menebas leher sang raja. Tubuh raja itu membeku sejenak, matanya melebar. Kemudian, perlahan-lahan tubuhnya mulai melebur menjadi abu, tetapi sebelum benar-benar lenyap, ia menatap Mada dengan senyum licik dan berkata, "Di Pasundan... kau akan menerima akibatnya." Mada terdiam, mendengar kata-kata itu. Pasundan? Apa maksudnya? Sebelum ia sempat mencari jawaban, raja itu telah lenyap, menyisakan kegelapan yang sunyi di aula Keraton. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN