Mada memulai perjalanannya untuk membebaskan rakyat dari ancaman siluman. Dia tiba di sebuah desa yang selama ini dikuasai oleh orang yang menggunakan siluman sebagai kekuatan nya. Dia melangkah dengan tegas di atas tanah yang telah berlumuran darah siluman. Desa-desa di wilayah terdekat Majapahit, termasuk kerajaan Indrapura, telah lama dihantui oleh makhluk-makhluk kegelapan yang mengancam kehidupan penduduknya. Dengan pedangnya yang bersinar dalam kilatan cahaya keemasan, Mada mengayunkan tebasan terakhirnya, merobohkan seekor siluman berkepala serigala yang berusaha menerkam seorang anak kecil. Teriakan kemenangan pasukan gajahnya menggema di udara, menyatakan bahwa tak ada lagi siluman yang tersisa di desa ini.
Namun tugasnya belum selesai. Mada memimpin pasukan langsung menuju Keraton kerajaan Indrapura, dimana keberadaan siluman telah mengakar hingga ke pusat kekuasaan. Dengan kekuatan luar biasa, ia menembus gerbang keraton dan menghadapi makhluk-makhluk yang bersembunyi di dalamnya. Satu per satu, para siluman tumbang di hadapan kesaktian Mada dan pasukan gajahnya. Hingga akhirnya, keheningan menyelimuti Keraton yang sebelumnya dikuasai oleh kegelapan. Indrapura kini telah bebas, tetapi kemenangan ini membawa konsekuensi yang lebih besar bagi Mada.
Beberapa hari kemenangan Mada, Raja Indrapura, Prabu Aryawira, mengadakan jamuan besar sebagai tanda terima kasih atas bantuan Mada dalam menyelamatkan kerajaan. Malam itu, balairung Keraton dipenuhi dengan para bangsawan dan prajurit yang merayakan kedamaian yang akhirnya kembali.
Mada duduk di sisi sang raja, menikmati hidangan yang disajikan. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya menggema di dalam kepalanya. suara Haya. Dengan adanya mahkota yang diberi inti dari kristal jiwa, Haya bisa berbicara kepada jiwa manapun yang ia hendaki meski jaraknya jauh.
"Mada, kau telah menyelesaikan tugasmu dengan baik. Kini ada perintah baru untukmu."
Mada menghentikan gerakannya sejenak, lalu dengan hati-hati menjawab dalam pikirannya. "Perintah apa, Adipati Haya?"
"Indrapura harus tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Beritahu Raja Aryawira bahwa ia kini berada di bawah perintah Maharaja."
Mada terdiam. Ia menatap sekeliling ruangan, melihat wajah-wajah para bangsawan yang penuh kegembiraan. Mereka adalah orang-orang yang baru saja ia selamatkan dari kehancuran, dan kini ia diperintahkan untuk menaklukkan mereka?
"Mereka telah berjuang sendiri, Haya. Mereka bukan musuh," ujar Mada dalam pikirannya, berusaha menahan keraguan yang mulai muncul.
"Mada! Ini perintah! Majapahit harus menjadi pusat kekuatan mutlak di Nusantara. Tidak boleh ada kerajaan yang berdiri sendiri. Kau mengerti?!"
Mada menghela nafas dalam. Ia tahu bahwa Majapahit memang sedang memperluas pengaruhnya, namun ia tidak pernah membayangkan bahwa mereka akan memaksa kerajaan yang baru saja mereka tolong untuk tunduk.
Dengan berat hati, ia menoleh ke arah Prabu Aryawira. "Paduka, ada sesuatu yang perlu saya sampaikan atas nama Majapahit," katanya dengan nada serius.
Sang raja menatap Mada dengan mata penuh rasa hormat. "Katakan, Patih Mada. Apa yang bisa Indrapura lakukan untuk membalas budi atas pertolonganmu?"
Mada menatapnya dalam-dalam sebelum berkata, "Majapahit meminta agar Indrapura berada di bawah kepemimpinan Maharaja. Dengan demikian, kerajaan ini akan berada di bawah naungan dan perlindungan Majapahit secara resmi."
Keheningan menyelimuti ruangan. Para bangsawan dan prajurit yang tadinya riuh dengan kegembiraan kini saling berpandangan dengan cemas. Prabu Aryawira sendiri tampak terkejut, lalu menghela nafas panjang.
"Patih Mada, aku sangat menghormati Majapahit, tetapi Indrapura adalah kerajaan yang merdeka. Kami tidak bisa menerima perintah seperti itu begitu saja."
Mada sudah menduga jawaban ini, tetapi sebelum ia bisa merespons, suara Haya kembali terdengar di dalam pikirannya.
"Kalau mereka menolak, paksa mereka tunduk. Gunakan kekuatanmu, Mada. Ini perintah!"
Mada mengepalkan tangannya. Ia tidak menyukai cara ini. Ia bukanlah seorang penjajah. Namun, ia juga adalah prajurit yang telah berjanji untuk setia kepada Majapahit. Ia menatap Raja Aryawira dengan tatapan penuh kebimbangan.
"Paduka... aku ingin menyelesaikan ini dengan damai," katanya pelan.
Prabu Aryawira menatap Mada dengan tajam, lalu berdiri dari singgasananya. "Jika Majapahit ingin menaklukkan Indrapura, mereka harus melakukannya dengan perang, bukan dengan paksaan. Kami tidak akan menyerah tanpa perlawanan."
Mada mendesah dalam hati. Ia tidak ingin menumpahkan darah orang-orang yang baru saja ia selamatkan, tetapi perintah sudah diberikan.
"Maafkan aku, Paduka..." katanya lirih, sebelum akhirnya ia berdiri dan menghunus pedangnya. Suara logam yang beradu dengan sarungnya memenuhi ruangan, dan seketika itu juga para prajurit Indrapura bersiap, menarik pedang mereka.
***
Mada menatap benteng megah di hadapannya. Bendera Majapahit berkibar tinggi, menandakan kemenangan yang baru saja diraih. Kerajaan yang baru saja ia taklukkan kini telah tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Para prajurit kerajaan itu berlutut di hadapannya, sementara sang raja, dengan wajah penuh kepasrahan, menyerahkan tongkat kebesarannya.
Haya kembali berbicara melalui telepati, suaranya menggema di kepala Mada.
"Kau telah menjalankan tugasmu dengan baik, Mada. Kini, bergeraklah ke kerajaan berikutnya. Majapahit harus menjadi pusat dunia ini."
Mada mengepalkan tangannya. Sudah berapa kerajaan yang ia paksa tunduk? Ia tidak lagi bisa menghitungnya. Setiap pertempuran selalu berakhir dengan kemenangan di pihaknya. Pasukan gajah yang ia pimpin menjadi simbol ketakutan di antara kerajaan-kerajaan kecil. Nama "Patih Gajah Mada" menggema di seluruh Nusantara, dipuji sebagai lelaki terkuat yang pernah ada.
Namun, dalam kemenangan demi kemenangan itu, ada sesuatu yang perlahan menggerogoti hatinya. Ia bertanya-tanya, apakah ini yang benar-benar diinginkan oleh rakyat? Apakah perlu menundukkan semua kerajaan dengan k*******n? Keraguan itu terus mengusiknya, tapi perintah tetaplah perintah.
***
Mada dan pasukannya kembali melanjutkan perjalanan. Tiap kali mereka tiba di suatu kerajaan, kisahnya selalu sama. Mada akan mendekati penguasa setempat, menjelaskan keagungan Majapahit, lalu mengajak mereka untuk bersumpah setia. Namun, kebanyakan dari mereka menolak, dan pertempuran pun tak terhindarkan.
Tanah mancanegara satu demi satu menundukkan kepala, dari Swarnabhumi (Sumatera) yang kaya rempah hingga Bumi Malayu(Sebagian besar Semenanjung Malaya) yang dikelilingi bahari. Para raja di tanah seberang, yang dulu meragukan keagungan Majapahit, kini bersedia mengangkat persembahan sebagai negeri pamesuan.
Dari tanah Gurun Putih di pesisir utara hingga hutan lebat di Bumi Khemara (Wilayah Khmer/Kamboja), pasukan Mada menyusuri belantara, menundukkan negeri yang berkeras menolak. Di barat, bahtera Wilwatikta telah meniti bahari menuju negeri-negeri di seberang lautan, memperkuat cakrawala kekuasaan hingga ke pulau-pulau timur yang belum tersentuh peradaban. Di selatan, lembah-lembah subur telah ditegakkan panji merah Wilwatikta, menandakan bahwa keagungan raja Majapahit kini menaungi bumi Nusantara.
Namun, meski negeri-negeri telah tunduk, Mada tahu bahwa tugasnya belum usai. Di kejauhan, masih ada tanah yang menyimpan kegelapan, tempat di mana siluman raksasa dikabarkan merajalela, mengancam ketentraman jagat. Dengan sorot mata yang tajam, Mada menatap cakrawala, jalan panjang masih terbentang, dan sumpahnya belum terbayar lunas.
Berkat kekuatannya yang luar biasa dan pasukan gajah yang perkasa, Mada hampir tidak pernah menemukan perlawanan berarti. Dalam waktu singkat, kerajaan-kerajaan di seantero kepulauan Nusantara satu per satu jatuh ke dalam genggaman Majapahit. Wilayah kekuasaan meluas, dan pengaruh Hayam Wuruk semakin tak terbendung.
Namun, perjalanan ini membawanya ke satu tujuan yang berbeda. Sebuah kerajaan yang terletak di pulau terpencil di ujung barat. Dari berbagai laporan yang diterimanya, kerajaan ini memiliki keanehan. Para pedagang sering melaporkan adanya siluman raksasa yang berkeliaran di sekitar perbatasan wilayah tersebut. Tak hanya itu, pasukan kerajaan itu sendiri memiliki reputasi yang misterius. Tak banyak yang mengetahui kondisi mereka, hanya cerita-cerita tentang kekuatan yang tak wajar.
Mada memutuskan untuk menelusuri kebenaran rumor ini. Jika memang ada siluman, maka tugasnya tetap sama: membasmi mereka. Namun, jika ini hanya tipu daya untuk menakut-nakuti pihak luar, maka ia harus memastikan kerajaan ini tunduk seperti yang lainnya.
***
Senja mulai turun ketika Mada dan pasukannya tiba di perbatasan kerajaan misterius itu. Suasana di sekitar terasa lebih mencekam dibandingkan wilayah-wilayah yang pernah mereka lewati. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seakan ada sesuatu yang mengintai dari balik pepohonan lebat.
Seorang prajurit mendekatinya. "Patih Mada, ada yang aneh di sini. Tidak ada penjaga di gerbang utama, dan desa-desa di sekitar tampak kosong. Seperti kota mati."
Mada menyipitkan mata. Keheningan seperti ini jarang terjadi dalam situasi normal. Biasanya, ketika pasukannya tiba, rakyat akan berkerumun untuk menyaksikan atau bahkan lari ketakutan. Namun, disini, tak ada suara, tak ada tanda kehidupan.
"Siapkan formasi bertahan," perintahnya untuk para Jiwa Gajah yang menjadi pasukanya. "Kita lanjutkan perjalanan dengan waspada. Jangan lengah."
Di kejauhan, samar-samar terdengar suara gemuruh berat. Suara yang tak asing bagi Mada, jejak langkah raksasa.
"Bersiaplah," gumamnya. "Kita akan segera tahu apakah rumor itu benar adanya..."
***