Aku terbangun dari CryoCore dengan nafas berat. Sensasi aneh itu masih ada. Rasa seperti tenggelam dalam lautan gelap sebelum tiba-tiba ditarik ke permukaan. Setiap kali aku keluar dari kapsul ini, ada sekejap detik di mana pikiranku masih terjebak di antara dua dunia. Majapahit dan realitas. Mada dan aku. Tapi saat tubuhku mulai menyesuaikan diri dengan suhu ruangan, kenyataan kembali menyergapku.
Aku melirik sekeliling. Seperti biasa, ruangan ini dingin dan sunyi, hanya diisi dengan deretan CryoCore lain yang masih terisi oleh para prajurit. Mereka tak pernah mengeluh, tak pernah mengingat mimpi aneh seperti yang selalu menghantuiku. Seolah waktu bagi mereka hanya berhenti saat berada di dalam sana.
Lalu, suara statis terdengar di dalam kepalaku.
"Dama, ini aku."
Aku tak perlu bertanya. Ini Mr. Smith.
"Apa yang terjadi?" tanyaku pelan, berjalan keluar dari ruangan CryoCore dengan langkah yang sudah kuhafal.
"Kami punya masalah besar. Para petinggi IEpC menghentikan pencarian Kristal Jiwa karena mereka tahu bahwa kristal Jiwa telah hancur. Mereka menemukan sesuatu yang lebih penting setelah rekonstruksi DNA-mu." Ada jeda sebelum dia melanjutkan dengan suara lebih tegas. "Mereka sekarang mengincar Mahkota Jiwa."
Aku berhenti melangkah. Mahkota Jiwa? Mahkota yang dikenakan Hayam Wuruk?
"Jadi, mereka tahu tentang itu," gumamku.
"Ya, dan mereka sekarang mengalihkan semua sumber daya untuk menemukannya lebih dulu dari kita. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku akan menyiapkan misi rahasia. Tapi untuk sekarang, tetap lakukan rutinitasmu, jangan buat mereka curiga."
Aku menghela napas dan menutup komunikasi. Ini semakin rumit. Mereka tahu. Aku menjalani hariku seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berubah. Aku menyadarinya sejak pagi. Orang-orang yang biasanya mengawasi setiap gerak-gerikku menghilang. Tak ada tatapan mencurigakan dari prajurit lain, tak ada pemeriksaan berlebihan. Mereka seolah tak lagi peduli padaku.
Ini bukan pertanda baik.
Aku tetap menjalani latihanku, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terasa lebih longgar daripada biasanya. Hingga akhirnya, jam di pergelangan tanganku berbunyi pelan. Aku melirik layar kecil di atasnya.
NEW MISSION: EXTERMINATION - EAST NEWJAVA.
Beberapa detik kemudian, komunikator ku kembali aktif. Kali ini, bukan Mr. Smith.
"Dama, siapkan timmu," suara perwira pengawas terdengar. "Kalian akan dikirim ke East NewJava untuk mengamankan Arsava Core dari kawanan siluman."
Aku menggertakkan gigi. Mereka mengirimku ke zona mati.
East NewJava dulunya adalah Jawa Timur. Wilayah itu adalah satu dari sedikit tempat yang menolak bantuan IEpC setelah Perang Dunia III. Mereka memilih bertahan sendiri, dan sekarang mereka telah hancur. Tanpa penghalang radiasi dari IEpC, tempat itu berubah menjadi sarang siluman. Jumlah mereka lebih banyak, lebih liar, dan lebih kuat daripada yang pernah kuhadapi sebelumnya.
Dengan kata lain IEpC mengirim misi bunuh diri! Tapi tunggu sebentar, Jika dugaanku benar, makam Raja Hayam Wuruk masih berada di sana, di tempat yang dulunya disebut Candi Ngetos. Misi ini mungkin misi yang diberikan Mr. Smith.
***
Aku duduk diam di dalam pesawat jet, menatap hamparan tanah yang dulunya disebut Jawa Timur. Sekarang, tempat itu hanya dikenal sebagai East NewJava, tanah mati yang ditinggalkan peradaban. Dari ketinggian, aku bisa melihat reruntuhan kota yang telah lama dikuasai oleh siluman.
"Lima menit lagi kita mendarat," suara pilot terdengar di komunikator.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengencangkan tali pengaman dan mengecek senjataku. Di sampingku, timku bersiap dengan wajah tegang. Kami semua tahu betapa berbahayanya tempat ini.
Namun, sebelum pesawat kami benar-benar menyentuh tanah, raungan ganas memenuhi udara.
Siluman menyerbu begitu kami turun dari pesawat. Monster-monster buas, makhluk bermutasi dengan mata merah bersinar, gigi tajam meneteskan liur. Mereka melompat keluar dari reruntuhan, menerjang dengan kecepatan luar biasa.
"Tembok elektromagnetik! Segera aktifkan!" teriak salah satu prajurit.
Seorang anggota tim menarik perangkat bulat dari ranselnya dan melemparkannya ke tanah. Dengungan tinggi terdengar, dan dalam hitungan detik, medan elektromagnetik berbentuk kubah melindungi kami. Siluman yang masuk ke dalam area ini langsung melemah, memberi kami kesempatan menyerang balik.
Aku mengayunkan pedang plasmaku, membabat siluman yang menerjang tanpa henti. Arsava Core berjatuhan satu per satu, berkilauan dalam kegelapan.
Namun, tiba-tiba seekor Siluman Singa menerkamku. Cakar besarnya menghantam tubuhku dengan kekuatan brutal, sebelum aku sempat bereaksi. Aku merasakan gigi tajamnya menancap di bahuku. Rasa sakit membakar seluruh tubuhku.
Lalu, semuanya gelap.
Aku tersadar beberapa saat kemudian, tubuhku terombang-ambing. Aku bisa merasakan udara dingin menampar wajahku. Siluman Singa menyeretku jauh dari medan pertempuran. Aku membiarkan hal itu terjadi. Melalui komunikator, aku bisa mendengar suara panik dari timku. "Dama jatuh! Dia terbunuh!"
Aku segera menekan tombol komunikator di helmku. "Aku masih hidup. Lanjutkan misi kalian, jangan pikirkan aku."
Hening.
Kemudian, suara kapten timku menjawab, lega namun masih khawatir, "Dimengerti. Kami akan melanjutkan. Tapi kau sendiri... bisa bertahan?"
Aku melirik ke arah Siluman Singa yang masih menyeretku. Aku menggerakkan jariku perlahan, meraih belati kecil yang terselip di lenganku.
"Percayalah, aku akan baik-baik saja."
Dalam satu gerakan cepat, aku menusukkan belatiku ke leher Siluman Singa. Darah hitam menyembur, dan makhluk itu mengaum sebelum tumbang.
Setelah mengalahkan siluman singa, aku berjalan cukup jauh untuk mencari Makam Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Setelah berjalan beberapa jam, Aku menarik napas dalam-dalam, menatap reruntuhan candi di depanku. Aku sudah tiba.
Aku berjalan melewati pilar-pilar yang sudah runtuh. Candi Ngetos, atau yang tersisa darinya. Di bawah puing-puing, aku menemukan sesuatu. sebuah pintu batu yang setengah terkubur.
Aku mendorongnya dengan sekuat tenaga, dan pintu itu bergerak perlahan, membuka jalan menuju lorong gelap di bawah tanah. Langkahku menggema saat aku turun. Udara lembab dan penuh debu. Namun, semakin jauh aku masuk, semakin aneh rasanya. Tidak ada siluman di sini.
Aku menemukan makam raja di ujung ruangan. Aku mengangkat tutup makam itu dengan hati-hati. Namun... mahkota yang kucari tidak ada.
"Kau mencari ini?"
Suara yang dalam dan penuh wibawa memenuhi ruangan. Aku mendongak. Di ujung makam, seseorang duduk di atas singgasana batu. Pemimpin IEpC.
Dia mengenakan setelan putih rapi dengan d**a terbuka, kacamata bulat berwarna merah, dan jam tangan mewah berkilauan di pergelangan tangannya. Wajahnya penuh percaya diri, penuh kesombongan seorang raja yang baru saja menaklukkan wilayah musuhnya. Di tangannya, Mahkota Jiwa berkilauan samar.
Aku mengepalkan tangan. "Serahkan mahkota itu."
Dia hanya tersenyum. "Oh, Dama. Kau benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi, bukan?"
Aku bersiap menyerang, namun sebelum aku bisa bergerak, sesuatu muncul dari bayangan di belakangnya. Seekor siluman raksasa. Harimau berbadan manusia, bersayap kelelawar, dan berekor ular. Makhluk itu menatapku dengan mata merah bersinar, siap menyerang kapan saja. Aku menyadari ini bukan pertempuran yang bisa kutangani sendirian.
"Dengan mahkota ini," kata bos itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, "aku bisa memanipulasi setiap jiwa lemah dan mengubahnya menjadi siluman."
Aku menegang. Mahkota Jiwa tidak murni. Itu sudah terkontaminasi oleh Asrava. Lalu aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Di tangan kirinya, dia menggenggam kepala Mr. Smith yang berlumuran darah.
"Orang ini mencoba melawanku," katanya dengan nada acuh tak acuh. "Sayang sekali."
Aku merasakan amarahku memuncak. "Bajingan..."
Bos itu tertawa kecil. "Jangan khawatir, kau akan menyusulnya segera."
Sebelum aku sempat bereaksi, suara tembakan terdengar. Darah berceceran di lantai. Kepala Mr. Smith ditembak tepat di depan mataku. Bos itu mengangkat sayap hitamnya, terbang ke atas.
"Aku tinggal mencari pecahan Kristal Jiwa lainnya. Dan kau? Ini akan menjadi makam terakhirmu."
Dia menghilang ke kegelapan. Meninggalkanku dengan siluman raksasa. Pertarungan sengit terjadi. Aku menyerang dengan semua yang kupunya, tetapi siluman itu luar biasa kuat. Cakarnya hampir merobek armorku, ekornya menghantamku dengan kekuatan brutal.
Aku berhasil mengalahkannya... tapi aku juga kehilangan banyak darah.
Semuanya menjadi gelap.
Aku terbangun di dalam pesawat. Dikelilingi oleh timku.
Aku terkejut. "Bagaimana... bagaimana kalian bisa di sini?"
Kapten tim tersenyum. "Kami tidak akan meninggalkanmu. Lagipula... kami bukan bagian dari IEpC."
Aku membeku. Mereka semua adalah anggota Revolusi yang menyamar. Saat kami tiba di markas Revolusi, aku menyampaikan berita buruk. "Mr. Smith... sudah mati." Semua terdiam. Kesedihan menyelimuti ruangan.
Namun, seseorang berbicara. "Kita masih punya harapan. Kita harus mengumpulkan pecahan Kristal Jiwa."
Aku menggeleng. "Itu mustahil... kecuali kita bisa merekonstruksi ingatan Patih Gajah Mada."
Kapten tim tersenyum tipis. "Baguslah kalau begitu... karena kami punya CryoCore sendiri."
Aku memejamkan mata. Saatnya kembali ke masa lalu.
***