Langit pagi di atas Majapahit masih berwarna merah keemasan ketika pasukan yang tersisa berkumpul di alun-alun utama. Kota yang sempat dikuasai musuh kini telah kembali ke tangan rakyatnya. Namun, kehancuran masih terasa. Bangunan yang roboh, abu yang tersisa dari pertempuran, dan wajah-wajah lelah dari mereka yang telah bertarung demi tanah airnya.
Di tengah keramaian itu, Haya berdiri di atas altar Kristal Jiwa. Sosoknya tegak, namun matanya menunjukkan duka yang mendalam. Ia mengangkat tangannya, dan perlahan, suara riuh mereda.
"Hari ini," *suara Haya menggema, "Majapahit telah kembali ke tangan rakyatnya!"
Sorak-sorai menggema, tetapi Haya mengangkat tangannya kembali untuk menenangkan mereka.
"Namun, ini bukanlah akhir. Kemenangan ini bukan hanya milikku, bukan hanya milik para panglima atau para pejuang di medan perang. Kemenangan ini adalah milik kalian semua! Kalian yang bertahan, yang tidak menyerah pada kezaliman, yang tetap percaya bahwa Majapahit akan bangkit kembali!"
Mata Haya menatap satu per satu rakyatnya, memberikan semangat kepada mereka yang telah kehilangan orang-orang terkasih.
"Tetapi perjuangan belum selesai. Masih ada dua raja yang berdiri melawan kita. Mereka tidak akan tinggal diam. Kita harus tetap bersiap, tetap kuat, dan tetap bersatu!"
Para prajurit dan rakyat berseru setuju. Mereka tahu, perjuangan belum berakhir, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka memiliki harapan.
Setelah pidato berakhir, Mahaguru melangkah maju, membawa sebuah mahkota yang berkilauan dengan inti Kristal Jiwa yang masih tersisa di altar. Haya berlutut dengan penuh hormat, sementara Empu Gandring menyerahkan mahkota tersebut kepada Mahaguru.
Dengan gerakan khidmat, Mahaguru menyematkan mahkota di kepala Haya. Cahaya biru samar menyelimuti tubuhnya, seolah Kristal Jiwa menerima dirinya sebagai pemimpin baru Majapahit.
Haya bangkit perlahan, matanya bersinar dengan tekad yang baru. "Mulai hari ini, Aku adalah Hayam Wuruk, Raja Majapahit yang baru!"
Sorak-sorai meledak di seluruh alun-alun. Para prajurit dan rakyat bersimpuh, memberi hormat kepada raja mereka yang baru.
Haya menoleh ke arah Mada yang berdiri di antara pasukan, masih memegang pedangnya yang ternodai darah musuh. Ia melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Mada, berlututlah."
Mada terkejut, tetapi tanpa ragu, ia menuruti permintaan Haya dan berlutut di hadapannya. Haya mengambil pedang pusaka kerajaan, mengangkatnya tinggi, lalu menyentuh bahu Mada dengan bilahnya.
"Dengan ini, aku, Hayam Wuruk, mengangkatmu sebagai Patih Gajah Mada, pelindung kerajaan dan pengawal tahta Majapahit!"
Suasana sejenak sunyi sebelum akhirnya bergemuruh dengan sorak kemenangan. Para prajurit berseru menyebut nama Mada, mengakui keberaniannya yang telah membawa mereka menuju kemenangan.
Mada mendongak, menatap Haya dengan penuh tekad. Namun, saat itu juga, ia merasakan sesuatu yang aneh. Mahkota yang dikenakan Haya memancarkan aura yang berbeda, ada sesuatu yang gelap di dalamnya. Namun, Mada tetap menundukkan kepala, menghormati rajanya yang baru.
***
Mada berdiri, matanya menatap ke arah pasukannya yang masih penuh semangat juang. Ia tahu bahwa kemenangan ini hanyalah langkah awal. Ia tahu bahwa ancaman masih mengintai dari dua kerajaan yang masih bersekutu dengan Asrava.
Ia mengangkat pedangnya tinggi, membiarkan sinar matahari pagi memantul di bilahnya.
"Aku, Mada dengan pasukan gajah ku, bersumpah!"
Seluruh pasukan langsung diam, mendengar setiap kata yang keluar dari bibir sang patih baru.
"Aku tidak akan menikmati kenikmatan dunia, tidak akan beristirahat, tidak akan tenang, sebelum seluruh tanah Nusantara bersatu di bawah Majapahit! Aku bersumpah akan menghapus setiap jejak Asrava, menumpas setiap kerajaan yang menggunakan kegelapan untuk menindas rakyatnya!"
Keheningan yang menegangkan menguasai alun-alun sebelum akhirnya disambut dengan teriakan semangat dari seluruh pasukan. Nama Gajah Mada diteriakkan, bergema di seluruh Majapahit, menandai lahirnya legenda baru.
Namun di dalam hatinya, Mada tetap waspada. Ia melihat sedikit perubahan dalam sikap Haya sejak mengenakan mahkota itu. Namun, ia menepis keraguan tersebut. Untuk saat ini, yang terpenting adalah menumpas sisa kerajaan musuh dan membebaskan rakyat dari ancaman siluman dan Asrava.
***
Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan semburat jingga yang melukiskan perpisahan. Di halaman Keraton yang kini kembali berdiri megah setelah peperangan, Mada berdiri tegak, menghadap para prajurit dan sahabatnya. Angin berhembus pelan, membawa hawa ketegangan yang perlahan berubah menjadi keteguhan hati. Hari ini, ia akan memulai perjalanan baru, bukan sebagai seorang pejuang biasa, tetapi sebagai Patih Gajah Mada.
Mahaguru melangkah maju, membawa gulungan berisi daftar prajurit terbaik yang dipersiapkan untuk menemani Mada dalam ekspedisinya.
“Mada, kau tidak boleh pergi sendiri. Aku telah memilih para prajurit yang paling setia dan kuat untuk menemanimu. Mereka akan menjadi penjagamu dalam perjalanan yang penuh bahaya ini.”
Namun, Mada menggeleng. “Tidak, Mahaguru.” Suaranya tegas, tetapi tetap hormat.
“Majapahit telah kehilangan perlindungan Kristal Jiwa. Tanpa kekuatan itu, kita tidak tahu ancaman apa yang bisa datang dari kerajaan lain, atau bahkan dari para siluman yang tersisa. Jika aku membawa pasukan terbaik kita, lalu siapa yang akan menjaga negeri ini?”
Mahaguru menatap Mada dengan sorot penuh pertimbangan. “Tetapi perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Ada banyak bahaya yang mengintaimu. Setidaknya bawalah beberapa orang yang bisa kau percayai.”
Sura, Tanu, dan Nara yang berdiri di dekatnya langsung maju. “Kalau begitu, biarkan kami ikut,” ujar Sura, menyeringai percaya diri. “Kami sudah melewati banyak hal bersama. Tidak masuk akal jika kau pergi tanpa kami.”
Mada menoleh kepada mereka, menyadari ketulusan yang terpancar di mata mereka. Namun, ia tetap menggeleng. “Majapahit lebih membutuhkan kalian daripada aku. Kalian adalah bagian dari pertahanan kerajaan ini. Jika kalian pergi bersamaku, siapa yang akan melindungi Paduka Hayam Wuruk? Siapa yang akan memastikan bahwa Majapahit tetap berdiri?”
Sura mengepalkan tangannya, berusaha menahan keberatan yang membuncah. Nara hanya menatap Mada dengan tajam, seolah berusaha memahami pemikirannya yang sulit digoyahkan. Sementara itu, Tanu, meski tampak ragu, akhirnya mengangguk pelan, menyadari bahwa keputusan Mada sudah bulat.
Haya, yang kini telah resmi bergelar Raja Hayam Wuruk, melangkah mendekat. Mahkotanya yang berhiaskan Kristal Jiwa berkilauan di bawah cahaya senja. Sorot matanya sulit ditebak, tetapi bibirnya melengkung dalam senyum tipis.
“Kau selalu keras kepala, Mada.”
Mada menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. “Aku hanya melakukan yang terbaik untuk Majapahit.”
Hayam Wuruk mendekat lebih lagi, lalu menepuk pundaknya dengan lembut. “Jika kau butuh bantuan, gunakan pusakamu untuk berbicara padaku.”
Mada menatap Haya, merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam nada suaranya. Ucapannya terdengar penuh perhatian, tetapi dalam sorot matanya terdapat sesuatu yang lain, sebuah aura yang samar, hampir mengintimidasi. Cahaya dari Kristal Jiwa di mahkota Haya tampak berdenyut halus, seolah menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Mada mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Dengan langkah mantap, ia berbalik dan berjalan menuju barisan gajah yang telah menunggu. Tanpa pasukan manusia, tanpa perlindungan khusus, hanya dirinya dan pasukan jiwa gajahnya. Ia tahu ini akan menjadi perjalanan panjang dan penuh tantangan. Tetapi ia juga tahu satu hal: Sumpah Palapanya baru saja dimulai.
***