Pertempuran Tahta

2340 Kata
Malam masih pekat ketika pasukan Mada mulai bergerak menuju gerbang utama Majapahit. Langit dihiasi cahaya samar bulan yang tertutup awan kelam, seolah menyaksikan pertempuran yang akan segera meletus. Dari kejauhan, musuh yang menduduki Majapahit tidak menyadari bahwa bahaya telah mengintai mereka. Di barisan depan, Mada duduk gagah di atas gajah raksasa yang memimpin rombongan. Di belakangnya, puluhan gajah lain bergerak serempak, disertai oleh pasukan berkuda dan prajurit pejuang Majapahit yang sudah siap merebut kembali tanah mereka. "Maju! Hancurkan gerbangnya!" teriak Mada, mengangkat pedangnya tinggi. Gajah-gajah meraung, kaki-kaki besar mereka menghantam tanah dengan kekuatan dahsyat. Prajurit musuh yang berjaga di gerbang mulai panik ketika mereka melihat bayangan raksasa mendekat dengan kecepatan mengerikan. Brakkk! Gajah pertama menghantam gerbang kayu raksasa dengan kekuatan penuh. Paku-paku besi yang menahan pintu mulai bergetar, kayunya berderak keras. Dengan hantaman kedua, pintu itu roboh, dan pasukan Mada langsung menerobos masuk. Teriakan perang meledak di udara. Pejuang Majapahit menyerbu masuk, menebas musuh yang tak siap menghadapi kekuatan mereka. Kuda-kuda berderap, panah berterbangan, dan pedang bertemu dengan pedang dalam cahaya yang berkilauan. Mada menunggangi gajah kesayangannya, menembus medan pertempuran, memimpin langsung pasukannya. "Kita ambil kembali Majapahit! Jangan biarkan satupun dari mereka bertahan!" *** Di sisi barat kota, Nara melompat ke atap salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh. Matanya mengamati musuhnya, seorang pendekar Asrava yang diselimuti bayangan gelap. "Menarik," gumam Nara. "Aku ingin tahu apakah bayanganmu bisa bertahan dari sihirku." Dengan satu gerakan tangan, Nara meluncurkan sihir es yang membekukan lantai di sekitar pendekar bayangan itu. Namun, musuhnya lenyap dalam sekejap dan muncul di belakangnya, menebaskan belati beracun. Nara melompat ke belakang, menghindari serangan maut. Tanpa disadari Nara mendapatkan luka, belati itu memiliki racun yang sangat kuat. Hanya dalam sekejap, pandanganya buram, ototnya lemas hingga dia tersungkur dalam tanah. Pendekar itu tersenyum, menganggap remeh Nara yang dengan luka kecil sudah tersungkur. Nara meregang kesakitan, keringatnya bercucuran menahan rasa sakit dari penyebaran racun. Dia teringat latihannya di desa tersembunyi itu. Dia pun memejamkan mata, merasakan sensasi di antara hidup dan mati. Jiwanya terpacu untuk membangkitkan kekuatan kristal Jiwa. Cahaya menyelimuti seluruh tubuhnya, energi dahsyat bergejolak hingga tak bisa ditahan oleh pendekar itu dan membuatnya terpental. Nara bangkit dan dia mengaktifkan kekuatan kristalnya, yaitu Jiwa Alam. Jiwa yang dianugerahi energi alam, sehingga Nara dapat menggunakan energi itu. Nara telah bangkit, lukanya sembuh seketika. Pendekar itu tak percaya dengan kekuatan nya. Namun posisinya masih di udara, membuat dia menjadi sasaran empuk untuk serangan Nara berikutnya. Nara mengeluarkan Energi Api, Angin, Petir, Es, dan Air secara bersamaan dari tongkatnya. Dia menghantam Pendekar itu dengan sihir terkuat yang pernah ada dan membuat musuhnya mati seketika. *** Di tempat lain, Sura bertarung dengan seorang prajurit raksasa bersenjata kapak berat. Tubuh lawannya berotot seperti banteng, dan gerakannya lebih cepat dari yang terlihat. "Kau cukup kuat," kata Sura sambil menyeringai, darah mengalir dari luka kecil di lengannya. "Tapi aku lebih kuat." Sura menancapkan kakinya ke tanah dan menerjang ke depan, menggunakan kekuatan penuh untuk menghancurkan pertahanan lawannya. Kapak besar menghantam udara, tetapi Sura menangkisnya dengan kedua pisaunya yang bercahaya. Namun pisau Sura terpental, dan sura terhantam oleh serangan kaki dari musuhnya. Darah keluar dari mulutnya, membuat Sura terperosok ke tanah. Jiwa nya masih belum menyerah dan dengan semangat membara, dia mencoba menyerang balik. Walaupun Sura adalah anggota dengan kekuatan terbesar, tapi di mata musuhnya Sura tak berdaya. Dia dipukul habis-habisan oleh Prajurit Asrava itu. Bahkan prajurit itu tak lagi menggunakan kapak nya. Prajurit itu melirik dengan kecewa, dia mengharapkan perlawanan yang setimpa. Dia pun berbalik meninggalkan Sura dengan hina. Langkah prajurit itu terhenti ketika tangan Sura masih memegang kakinya meski dia dalam keadaan tergeletak babak belur di tanah. Prajurit itu menendang kepala Sura berkali-kali. Namun di tendangan terakhirnya sang prajurit terhempas. Sura berdiri dengan aura emas mengelilingi tubuhnya, Semangat juangnya yang membara, berhasil membuktikan kelayakanya pada kristal jiwa. Tanu dianugerahi Jiwa Ksatria. Semangat tak pernah padam menjadi modal utama kekuatan nya. Bahkan prajurit di sekitar sura terpicu dengan semangat juangnya, tertambah energi dan kekuatan nya dan membuat mereka bertarung dengan sepenuh jiwa. Sura menyerang dengan belati jiwa nya, seranganya yang cepat membuat reflek prajurit asrava itu mengayunkan kapak besarnya. Ayunan kapak itu terpental ke belakang terlepas dari genggaman prajurit kegelapan itu. Matanya terbelalak melihat kapak yang ia ayunkan terbelah menjadi dua. Prajurit itu berbalik namun pukulan Sura sudah tepat di hadapannya. Pukulan Sura terhenti di depan muka musuhnya, engin besar tertiup hingga menggoyangkan rambut dan merobohkan pohon yang jauh di belakang prajurit itu. Sura menghela nafas, menahan emosi dan mengampuni musuhnya. Nanun bagi prajurit hitam, ini kesempatan dan dia mengambil belati cadangan di pinggangnya dan mengayunkan pada Sura. Tepat sebelum belati itu mengenai pria berotot itu, Sura melancarkan srangan dengan belalainya dan membuat prajurit kegelapan itu bersimbah darah dan mengakhiri hidupnya. *** Tanu, di sisi lain, menghadapi pasukan siluman kecil yang lincah. Meski tubuhnya besar, ia kesulitan menyesuaikan serangan terhadap musuh yang cepat bergerak. "s**l! Mereka terlalu gesit!" geramnya. Jiwa penakutnya menghasilkan kekuatan unik yang mengesankan. Ya, Tanu memang penakut, Namun Tanu tak pernah lari dari pertempuran. Jiwa penakutnya memberi kekuatan Jiwa terjerat. Tanu mampu mengeluarkan Rantai energi yang berasal dari berbagai arah, menjerat jiwa para siluman itu. Dengan sekali tebas dari tombaknya, dia menghapuskan seluruh pasukan siluman di hadapanya. *** Di tengah pertempuran yang kacau, Haya berdiri kokoh di atas sebuah bukit kecil yang menghadap medan perang. Tangan kanannya menggenggam erat keris Kristal Jiwa, sementara matanya menyapu medan perang yang dipenuhi prajurit Majapahit yang mulai kelelahan. Nafas mereka tersengal, tubuh mereka penuh luka, dan ketakutan mulai menyelimuti hati mereka. Dengan penuh ketenangan, Haya menutup matanya dan merasakan denyut energi Kristal Jiwa dalam genggamannya. Cahaya biru lembut mulai berpendar dari kerisnya, merambat ke udara, membentuk aliran energi yang melingkupi seluruh pasukan. Seakan menjawab panggilan pemiliknya, Kristal Jiwa melepaskan gelombang kehangatan yang meresap ke dalam tubuh para prajurit. Para pejuang yang sebelumnya nyaris tumbang kini merasakan kekuatan baru dalam tubuh mereka. Luka yang mereka derita seolah terasa lebih ringan, napas mereka kembali stabil, dan ketakutan yang membelenggu hati mereka memudar digantikan oleh semangat juang yang menyala-nyala. "Majapahit tidak akan jatuh!" suara Haya menggema di atas pertempuran. "Kita adalah pelindung negeri ini, dan kita akan merebut kembali kejayaan kita!" Teriakan semangat mulai menggema di seluruh medan perang. Para prajurit yang hampir menyerah kini kembali mengangkat s*****a mereka. Pedang-pedang terhunus, panah-panah dilepaskan dengan penuh keyakinan, dan pasukan Majapahit yang semula nyaris runtuh kini kembali berperang dengan kekuatan baru. Namun, Haya tidak sendirian. Mahaguru dan Empu Gandring berdiri di belakangnya, menjaga agar ia tetap aman dari gangguan musuh yang mungkin menyadari peran pentingnya di medan perang. Mahaguru dengan tongkat kayu saktinya menebas setiap musuh yang berani mendekat, sementara Empu Gandring, dengan kekuatan yang diwarisinya dari para leluhur, menghalangi setiap ancaman yang mendekat dengan pertahanan sihirnya. Dengan perlindungan mereka, Haya terus mengarahkan energi Kristal Jiwa ke pasukan Majapahit, memastikan mereka tetap berdiri dan bertarung sampai kemenangan benar-benar diraih. *** Pasukan Siluman mulai terdesak dan Mundur. Mada dan Haya menaiki Gajah jagoan Mada. Para pasukan mengikuti mereka dan maju menerjang ke arah Keraton. Mada dan Haya berhasil menembus Keraton dengan pasukan gajahnya. Mereka sampai di altar tempat dulu kristal jiwa berada. Mada di serang oleh salah seorang dengan luka hitam menjulur di tangan kirinya. Mada dihantam dengan keras sehingga dia terpental jauh terpisah dengan Haya. Di atas altar Kristal Jiwa, seseorang melangkah maju. Seorang pria berpakaian hitam dengan mata merah menyala memandang ke arah pasukan Mada dengan senyum licik. Sang Raja Jahat berdiri di atas altar Kristal Jiwa, menatap Haya dengan senyum penuh keangkuhan. Mata merahnya bersinar di bawah cahaya bulan yang terhalang kabut perang. "Aku adalah Raksha, salah satu pemimpin dunia yang sejati," suaranya bergema, penuh keyakinan. "Dunia ini bukan milik kalian. Majapahit? Hanya masa lalu yang akan kami hancurkan. Kami akan membangun dunia baru, dan kalian hanyalah debu yang akan lenyap." Haya menggenggam Kerisnya erat, sorot matanya penuh kebencian. "Majapahit tidak akan runtuh oleh tangan kotor sepertimu." Haya mengayunkan kerisnya dengan kekuatan penuh, membidik leher lawannya yang menjulang di depannya. Namun, serangannya dengan mudah ditepis oleh tangan kosong raja kegelapan, seolah-olah hanya angin sepoi-sepoi yang menerpanya. Raja kegelapan Raksha berdiri dengan angkuh, mengenakan jubah hitam pekat yang berkibar di udara. Mahkota di kepalanya bersinar gelap, dengan kristal hitam yang berdenyut seperti jantung yang berdegup. Tatapannya penuh kepuasan saat melihat Haya yang mulai kehilangan ketenangannya. “Lemah,” katanya dengan suara rendah namun menggema di seluruh medan pertempuran. “Kau berpikir bisa mengalahkanku, putra mahkota Majapahit yang malang?” Haya menggertakkan giginya, mengayunkan pedangnya sekali lagi. Namun, sebelum pedangnya mencapai target, sesuatu yang aneh terjadi. Mahkota hitam di kepala raja kegelapan mulai bersinar lebih terang, menciptakan lingkaran energi di udara. Tiba-tiba, sebuah proyeksi besar muncul di langit malam. Cahaya gelap menyelimuti area pertempuran, dan angin berputar kencang. Tanah di sekitar Haya bergetar. Suasana berubah. Haya terengah-engah, tubuhnya bergetar. Ia tidak hanya melihat ilusi itu, tetapi seolah-olah ia berada di dalamnya. Haya kini berdiri di dalam aula besar keraton Majapahit. Dinding-dinding ukiran emas dan merah menyala, tetapi suasana terasa suram. Di hadapannya, ada sosok yang sangat ia kenali… ayahnya. Raja Majapahit berlutut di atas lantai batu, tangannya terikat rantai emas yang bersinar. Wajahnya penuh luka, tetapi matanya tetap tajam dan penuh martabat. Di sekelilingnya, tiga raja kegelapan berdiri mengitari tubuhnya. Salah satu dari mereka mencabut mahkota dari kepala Raja Majapahit dengan kasar, Merebut dari kepalanya. Pecahan kristal jiwa yang mereka bawa, terbang mengambang di ketiga tangan kanan raja itu dan berkilauan sejenak, lalu tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat saat energi Asrava menyelimutinya. “Ayah!” Haya mencoba bergerak, mencoba menghampiri, tetapi tubuhnya terasa berat. Seolah-olah ia hanyalah penonton di dalam mimpi buruk yang tak bisa ia kendalikan. Ayahnya mendongak, tatapannya lurus ke arahnya. Seolah-olah ia bisa melihat anaknya di tengah ilusi ini. “Haya...” suara itu bergema, penuh kasih, tetapi juga penuh duka. Salah satu raja kegelapan menghunus pedangnya, dan dalam satu tebasan, Raja Majapahit tumbang ke tanah, darahnya menggenang di lantai aula. Haya ingin berteriak, ingin menutup matanya, tetapi ia tidak bisa berpaling. Ilusi terus berlanjut. Tiga raja itu membagi kristal hitam yang baru mereka ciptakan, menyimpannya dalam genggaman mereka. Namun, hanya satu yang menempatkannya di dalam mahkota raja yang kini berdiri di hadapannya dalam pertempuran, yaitu sang raja Raksha. Haya jatuh berlutut, tangannya gemetar hebat. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Nafasnya tersengal, tubuhnya terasa lemas. Seolah-olah seluruh tenaga yang ia miliki menguap bersama proyeksi yang baru saja ia lihat. Ia menatap kosong ke depan, pikirannya hancur. Itulah kebenaran di balik kematian ayahnya. “Sekarang kau tahu,” bisik raja Raksha dengan suara menggelegar. “Selama ini kau hanya bidak, dan ayahmu mati dengan sia-sia.” Tawa dingin menggema di udara. “Dan kau akan mati dengan cara yang sama.” Sebuah suara menggema di udara. “HENTIKAN!!” Dari balik reruntuhan, sebuah cahaya muncul dengan gemilang. Mada menerjang dengan pedang jiwa di tangannya, menyerang raja kegelapan dengan penuh kemarahan. Pedangnya menghantam ilusi yang tersisa, menghancurkan ilusi itu seketika. Raja kegelapan terhuyung, tidak menyangka serangannya bisa dihentikan begitu saja. Mada berdiri dengan penuh keyakinan di depan Haya, melindunginya dengan tubuhnya. Haya masih terguncang, masih terjebak dalam emosinya. Tetapi saat melihat Mada menjadi pelindungnya seperti dulu, ia pun merasakan kekuatan baru. Mada menatapnya dengan lembut tetapi tegas. “Jangan biarkan masa lalu menguasaimu, Haya.” “Kau masih hidup. Ayahmu ingin kau bertarung, bukan menangis.” Air mata Haya masih mengalir, tetapi ia mengangguk. Ia menggenggam pedangnya lebih erat. Ia masih punya sesuatu untuk diperjuangkan. Dan pertempuran pun dimulai kembali. Namun, kali ini, Haya bangkit dengan semangat yang baru. *** Raksha sempat tertegun namun hanya sebentar, dia kemudian tertawa keras. Dengan satu gerakan tangan, bayangan menyelimuti medan perang. Dari dalam kegelapan, ratusan siluman dengan berbagai bentuk muncul, menggeram dan siap menyerang. Seekor siluman raksasa menerjang gajah kesayangan Mada. Hewan itu mengaum, berusaha melawan, tetapi jumlah siluman yang menyerangnya terlalu banyak. Gajah Mada roboh, tubuhnya bergetar, dan akhirnya tak bergerak lagi. Mada yang melihat itu terdiam. Matanya membelalak. Nafasnya terhenti sesaat. Ia berlari ke arah gajahnya. Terlambat. Gajah itu sudah tak bernyawa. Sesuatu di dalam diri Mada meledak. Kemarahannya mendidih. "Kau... akan menyesal!" teriak Mada. Ia berlari langsung ke arah Raja Raksha, menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh. Namun, dari bayangan, muncul lebih banyak siluman yang menghalanginya. Mada mulai lelah. Serangan tak ada habisnya. Kakinya mulai berat, napasnya memburu. Luka-luka kecil mulai terlihat di tubuhnya. Dia terpojok. "Mada!" Haya berteriak dari kejauhan, hendak berlari membantunya. Namun, Mada mengangkat tangan, menghentikannya. "Tidak! Aku akan mengakhiri ini sendiri!" Haya menggertakkan giginya, tangannya mengepal. Namun, ia menahan diri. Sebagai pemimpin, ia harus percaya pada Mada. Mada, yang nyaris jatuh, menggenggam pedangnya erat. Di saat itulah, sesuatu bergetar di dalam dirinya. Kristal Jiwa dalam pedangnya mulai bercahaya. Ia merasakan energi aneh mengalir ke dalam tubuhnya. Sebuah bisikan menggema di pikirannya. "Kami belum kalah... Kami masih di sini..." Mada mengangkat pedangnya tinggi. Dari dalam tanah, cahaya biru keemasan muncul. Roh para gajah yang telah gugur bangkit kembali. Para siluman yang sebelumnya tak terkalahkan mulai didorong mundur. Pasukan jiwa gajah yang dipimpin Mada mulai menyerbu siluman bayangan, mengubah jalannya pertempuran. Raja Raksha menatap kejadian ini dengan terkejut. "Apa ini?!" Mada menatapnya dengan tatapan tajam. "Kau akan segera tahu..." *** Mada, sementara itu, telah menghadapi Raksha secara langsung. Mereka bertukar serangan dengan kecepatan luar biasa. Pedang Mada bersinar dengan kekuatan Kristal Jiwa, sementara Raksha menggunakan kekuatan bayangan untuk menghindari serangan dan melancarkan pukulan mematikan. Setiap kali Mada mencoba menyerang, Raksha berubah menjadi kabut hitam dan muncul di belakangnya. Luka-luka kecil mulai terlihat di tubuh Mada, tapi ia tetap bertahan. Saat Mada hampir jatuh, ia merasakan kekuatan dari Kristal Jiwa dalam pedangnya. Roh para gajah yang telah gugur muncul di sisinya, membantunya bangkit kembali. "Tidak peduli seberapa kuat bayanganmu, cahaya selalu ada untuk menghancurkannya," teriak Mada. Dengan satu ayunan pedang yang dipenuhi energi Kristal Jiwa, Mada menebas tubuh Raksha. Sang raja jahat terhuyung, cahaya biru membakar tubuhnya dari dalam. Dengan teriakan terakhir, tubuhnya meledak menjadi abu, meninggalkan hanya jejak kegelapan yang perlahan memudar. Pertempuran telah usai. Mada berdiri di tengah medan perang yang sunyi, pedangnya masih bersinar. Pasukan Majapahit bersorak, kemenangan telah diraih, tapi Mada tahu... ini baru awal dari perjuangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN