Matahari pagi bersinar terang di atas pegunungan saat Mada dan kawan-kawan berdiri di tanah lapang, memegang s*****a baru mereka. Kristal Jiwa yang menjadi inti dari s*****a itu berkilauan di bawah sinar matahari, memancarkan energi yang terasa berdenyut di telapak tangan mereka.
Mada mengayunkan goloknya dengan kuat, mengarahkannya ke batu besar di depannya. Begitu bilahnya mengenai permukaan batu, cahaya biru menyelimuti tebasannya dan... BRAK! Batu besar itu terbelah menjadi dua, seolah-olah hanyalah potongan kayu.
Mata Mada melebar, tak percaya dengan daya hancur yang dimiliki s*****a itu. Namun, seketika itu juga tubuhnya lemas, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Lututnya goyah, dan napasnya memburu.
"Ini... menyerap terlalu banyak energiku," gumamnya, terengah-engah.
Sura yang melihatnya terkekeh sambil melipat tangan. "Sepertinya bukan cuma kamu yang merasakan efek ini, Mada. Aku bahkan baru sekali mengayunkan pisauku, dan rasanya seperti kehabisan tenaga seperti berlari lima kali mengelilingi gunung."
Nara mengamati tongkat sihirnya dengan serius. "Jadi, ini sifat dari Batu Jiwa. Ia memperkuat serangan kita, tapi juga mengambil energi kita. Jika kita tidak terbiasa, s*****a ini bisa menjadi bumerang."
Tanu yang sejak tadi hanya diam menelan ludah. "Kalau kita tidak bisa menguasai s*****a ini, bagaimana kita bisa menghadapi musuh di Majapahit nanti?"
Mahaguru melangkah ke depan, menatap mereka dengan ekspresi tegas. "Karena itulah kita tidak hanya harus berlatih menggunakannya. Kita harus hidup dengan s*****a ini. Mulai hari ini, kalian harus menggenggamnya sepanjang waktu. Siang dan malam, s*****a itu harus selalu ada di tangan kalian. Biarkan tubuh kalian terbiasa menyatu dengan Batu Jiwa."
Mada dan yang lainnya saling pandang. Perjalanan mereka menuju Majapahit bukan hanya soal menaklukkan kerajaan yang telah jatuh ke tangan musuh, tetapi juga soal menaklukkan kekuatan baru mereka sendiri.
Dengan Mpu Gandring dan pasukan pemanah remaja yang kini bergabung dalam perjalanan, Mada dan yang lain mulai melangkah menuju Majapahit. s*****a mereka kini tak hanya menjadi alat, tetapi juga bagian dari diri mereka. Mahaguru terus mengingatkan mereka bahwa setiap gerakan harus dilakukan dengan s*****a ditangan, bahkan saat makan dan tidur.
Beberapa kali dalam perjalanan, Mada merasa tubuhnya lemas karena energinya terus terserap. Tapi sedikit demi sedikit, ia mulai terbiasa. Nara pun mulai dapat mengatur aliran energi sihirnya agar tidak terkuras terlalu cepat, sementara Sura semakin bisa mengendalikan kekuatan brutalnya tanpa kehilangan keseimbangan.
Saat mereka tiba di kaki gunung, Mada melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum lebar.
Gajah peliharannya telah kembali.
Namun, bukan hanya itu. Di sekelilingnya, belasan gajah besar berkumpul, berdiri dengan kepala tegak, seakan memberi penghormatan. Salah satu gajah yang paling besar melangkah maju, membungkuk pada Mada. Tampaknya, selama Mada pergi, gajah itu telah menaklukkan kawanan lainnya dan kini menjadi pemimpin mereka.
Mada mengelus belalai gajahnya dengan bangga. "Jadi kau sekarang pemimpin mereka, ya? Baiklah, kalau begitu, kita akan pergi berperang bersama."
Dengan mengendarai gajah-gajah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Majapahit. Sepanjang perjalanan, Mada dan yang lain menggunakan kesempatan ini untuk terus mengasah kemampuan mereka dengan s*****a baru. Ketika siluman menyerang, mereka tidak lagi hanya mengayunkan s*****a sembarangan. Mereka mulai mempelajari ritme, memahami cara menyalurkan energi tanpa terlalu banyak menguras stamina.
Perjalanan yang seharusnya melelahkan kini menjadi medan latihan yang sesungguhnya.
***
Di suatu malam ketika mereka berhenti beristirahat di sebuah lembah, Mahaguru dan Mpu Gandring mulai beradu pendapat.
"Rencana ini gila!" bentak Mpu Gandring, menatap Mahaguru dengan mata membara. "Kita hanya memiliki pasukan kecil! Meskipun mereka kuat, menyerang Majapahit tanpa strategi jelas adalah bunuh diri!"
Mahaguru hanya tersenyum tenang. "Aku tidak pernah mengatakan kita akan menyerang langsung tanpa perhitungan."
Haya, yang duduk di dekat api unggun, menatap mereka berdua. "Kalian teman lama, bukan? Kenapa selalu bertengkar seperti ini?"
Mpu Gandring mendengus. "Kami memang teman lama. Tapi sejak dulu kami selalu berbeda cara pandang. Dia lebih percaya pada rencana jangka panjang, sementara aku lebih percaya pada kekuatan yang bisa kita lihat di depan mata."
Mahaguru mengangguk. "Dan justru karena itulah kami selalu menjadi tim yang baik. Kali ini, aku butuh kepercayaanmu, Gandring."
Mpu Gandring masih tampak ragu, tetapi akhirnya ia menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan percaya untuk saat ini. Tapi jika kau membawa kita menuju kematian, aku tidak akan diam saja."
“Tenang saja, kita akan mencari bala bantuan.”
***
Mahaguru lalu meminta Mada dan yang lainnya untuk melanjutkan perjalanan ke sebuah lokasi yang tidak mereka duga sebelumnya. Mereka akhirnya tiba di sebuah tempat tersembunyi di dalam hutan lebat. Saat mereka masuk lebih dalam, mereka melihat sesuatu yang membuat mereka tercengang.
Di hadapan mereka, ratusan pria dan wanita berdiri tegap. Mata mereka menyala dengan tekad yang membara.
"Siapa mereka?" bisik Tanu.
Mahaguru melangkah maju dan mengangkat tangannya. "Mereka adalah para pengawal raja, pasukan penjaga kerajaan, dan para petarung yang dahulu bertugas melindungi Majapahit dari serangan siluman. Saat kerajaan jatuh, mereka melarikan diri ke tempat ini. Mereka tidak menyerah. Mereka menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam."
Mada menatap mereka dengan penuh hormat. "Jadi, ini pasukan yang akan kita pimpin untuk merebut kembali Majapahit?"
Mahaguru mengangguk. "Bukan hanya mereka yang menunggu momen ini. Tetapi juga seluruh rakyat Majapahit yang tertindas. Saat kita bergerak, mereka juga akan bangkit."
Mada mengepalkan tinjunya. Perjalanan mereka hampir mencapai puncaknya. Majapahit akan direbut kembali, dan ini hanyalah awal dari pertempuran yang sesungguhnya.
***
Di tengah gelapnya malam, di dalam hutan yang sunyi, ratusan pasang mata menatap ke depan dengan penuh harap. Mereka adalah para prajurit, pengawal kerajaan, dan petarung yang telah lama menanti kesempatan untuk membalas dendam atas kejatuhan Majapahit. s*****a mereka berkilat dalam cahaya obor yang redup, dan d**a mereka dipenuhi semangat yang membara.
Mahaguru berdiri di atas batu besar, memandang mereka dengan mata tajam. Ia menarik nafas dalam sebelum mengangkat suaranya, memenuhi udara dengan kekuatan yang hanya dimiliki oleh seorang pemimpin sejati.
"Wahai para pejuang! Kalian yang telah bertahan dalam bayang-bayang, menunggu saat yang tepat untuk bertindak! Hari ini... hari yang kita tunggu-tunggu telah tiba!" suaranya menggema di antara pepohonan, membuat semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.
Mahaguru melanjutkan, "Kalian bukan sekadar prajurit yang kalah! Kalian adalah penjaga Majapahit, benteng terakhir kerajaan yang seharusnya tidak pernah runtuh! Namun, takdir berkata lain, dan Majapahit kini dalam cengkraman musuh! Tapi dengarkanlah... harapan belum mati! Harapan itu telah kembali kepada kita!"
Ia menunjuk ke belakangnya, ke sosok yang berdiri tegak dengan wajah serius dan penuh tekad.
"Inilah dia! Sang pewaris takhta Majapahit! Pangeran yang sah! Pangeran Haya!"
Sorakan membahana. Para prajurit berseru penuh semangat, memukul d**a mereka dan mengangkat s*****a ke udara. Haya melangkah maju, matanya menyapu seluruh pasukan yang kini berada di bawah komandonya.
Haya mengangkat tangannya, dan suara sorakan perlahan mereda. Ia menarik nafas dalam sebelum berbicara, suaranya lembut namun penuh dengan ketegasan.
"Saudara-saudaraku! Aku tidak berdiri di hadapan kalian sebagai seorang putra mahkota, bukan pula sebagai seorang pangeran yang meminta perlindungan. Aku berdiri di sini... sebagai bagian dari kalian! Aku tahu betapa sakitnya melihat tanah air kita dijajah, aku tahu betapa beratnya hidup dalam bayang-bayang ketakutan, dan aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai!"
Beberapa prajurit mengepalkan tangan mereka, ada yang menundukkan kepala mengingat keluarga mereka yang terbunuh saat Majapahit jatuh.
"Namun, aku tidak akan meminta kalian untuk bertarung demi aku! Aku meminta kalian untuk bertarung demi diri kalian sendiri, demi Majapahit yang seharusnya tetap berdiri gagah! Musuh telah mengambil tanah kita, mereka telah membunuh raja kita! Apakah kita akan diam dan membiarkan mereka terus berkuasa?!"
"TIDAK!" suara ribuan prajurit bergema, mengguncang malam.
"Maka, besok fajar, kita akan merebut kembali apa yang menjadi milik kita! Kita akan mengusir musuh dari tanah ini dan mengembalikan kejayaan Majapahit! Aku tidak meminta kalian untuk mengikuti aku... Aku akan bertarung bersama kalian!"
Sorakan kembali membahana, kali ini lebih keras, lebih penuh semangat. Haya mengepalkan tangannya, lalu menoleh ke arah Mada.
"Namun," lanjut Haya, "kita tidak bisa memenangkan perang ini tanpa seorang pemimpin yang kuat di medan pertempuran. Kita butuh seseorang yang dapat mengarahkan pasukan, seseorang yang dapat menembus pertahanan musuh dan menghancurkan mereka dengan kekuatan yang tak tertandingi. Maka dari itu, aku menunjuk Mada sebagai panglima perang kita!"
Mada terkejut. Matanya melebar, ia menatap Haya seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Aku?!"
"Ya, Mada." Haya tersenyum tipis. "Kau bukan hanya temanku, kau adalah pejuang terkuat yang pernah aku kenal. Kau memiliki keberanian, strategi, dan kekuatan untuk memimpin pasukan ini."
Para prajurit mulai berbisik satu sama lain. Banyak dari mereka yang sudah mendengar kisah Mada, bagaimana ia membunuh Raja Siluman Serigala dan bagaimana ia bertarung melawan para siluman di sepanjang perjalanan mereka. Namun, mereka tetap ingin mendengar langsung dari dirinya.
Mada menatap seluruh pasukan, lalu menghela nafas panjang. Ia melangkah maju, berdiri di samping Haya.
"Aku bukan keturunan bangsawan," katanya pelan, namun jelas. "Aku hanya seorang petarung yang ingin melindungi orang-orang yang kusayangi. Namun, jika kalian mempercayakan pertempuran ini kepadaku... aku berjanji, aku akan memimpin kalian menuju kemenangan!"
Sorakan kembali membahana, dan kini Mada resmi diakui sebagai pemimpin perang mereka.
Suasana perkemahan berubah drastis. Para prajurit yang tadinya hanya menunggu dalam diam kini bergegas mempersiapkan diri. Pedang-pedang diasah hingga berkilat, tombak-tombak diperiksa ketajamannya, dan busur-busur ditarik untuk memastikan kelenturannya.
Api unggun yang sebelumnya hanya memberikan cahaya kini menjadi pusat perencanaan. Mahaguru dan para pemimpin membentangkan peta Majapahit di atas tanah, membahas strategi dengan suara yang rendah namun penuh ketegasan.
Di sudut lain, para pemanah muda menguji panah mereka di bawah bimbingan Mpu Gandring, yang sesekali berteriak menyuruh mereka memperbaiki posisi tangan atau menyesuaikan sudut tembakan. Mada, sementara itu, berkeliling di antara prajuritnya, memastikan setiap orang siap menghadapi pertempuran.
Haya duduk di bawah sebuah pohon, melihat semua persiapan ini dengan mata penuh keyakinan. Ia tahu, besok bukan hanya tentang merebut kembali Majapahit, tetapi juga membuktikan bahwa mereka pantas berdiri kembali sebagai satu kerajaan yang kuat.
Malam itu, di antara suara-suara peralatan perang yang dipersiapkan, sumpah ditegaskan. Mereka tidak akan mundur. Mereka tidak akan gentar. Fajar besok, darah akan tertumpah, dan Majapahit akan kembali.
***
Malam turun di atas Majapahit, tetapi tidak membawa ketenangan. Cahaya obor berkedip di sepanjang jalan, menerangi wajah-wajah rakyat yang pucat dan lelah. Para pria, wanita, bahkan anak-anak dipaksa bekerja, memindahkan batu, mengangkut barang, dan membangun benteng baru di bawah pengawasan ketat para prajurit kerajaan musuh. Mata mereka kosong, seakan harapan telah dicabut dari hati mereka sejak sang Raja terbunuh.
Di antara para penjaga, siluman-siluman dengan tubuh besar dan mata merah berkeliaran, mengawasi setiap gerakan dengan tatapan haus darah. Sekali saja ada yang bergerak lambat, mereka akan dipukul atau lebih buruk lagi, diumpankan kepada siluman.
Namun, di kegelapan malam yang pekat, bayangan-bayangan bergerak tanpa suara. Salah satu prajurit musuh yang sedang berpatroli mendengar suara berdesir di semak-semak. Ia mengernyit, menoleh ke belakang.
Shak! Tiba-tiba, sebilah pisau menembus tenggorokannya, menghilangkan suaranya sebelum bisa berteriak. Tubuhnya jatuh ke tanah dengan suara nyaris tak terdengar. Dari bayangan, seorang pemuda dengan pakaian gelap menarik pisaunya kembali sebelum bergerak ke target berikutnya.
Mada dan pasukan penyusupnya mulai menyingkirkan para penjaga satu per satu. Dalam beberapa menit, patroli musuh yang mengawasi para pekerja paksa telah menghilang tanpa jejak.
Seorang pria tua yang masih memikul karung berat menyadari tidak ada lagi penjaga yang memukulnya. Ia menoleh ke sekeliling dengan bingung.
"Apa yang terjadi...?!" bisiknya dengan suara gemetar.
"Majapahit akan bangkit kembali," bisik salah satu pejuang di telinganya sebelum menghilang ke kegelapan.
Fajar hampir menyingsing, Mada memberi isyarat kepada pasukan utama yang menunggu di luar ibu kota. Dengan cepat, mereka bergerak ke posisi mereka.
Sementara itu, pasukan utama musuh masih tertidur atau beristirahat, percaya bahwa mereka menguasai kota tanpa ancaman. Namun, mereka salah. Dengan aba-aba dari Mahaguru, pasukan pemanah remaja yang dipimpin Mpu Gandring melepaskan rentetan panah ke arah pos penjaga di tembok kota.
WHUSH! WHUSH! WHUSH!
Teriakan pertama terdengar saat para prajurit musuh roboh terkena panah berlapis energi jiwa. Dalam hitungan detik, keriuhan terjadi di seluruh kota. Sura memimpin pasukan garis depan, menerobos gerbang kota dengan pukulan keras yang menghancurkan kayu dan besi.
"MAJAPAHIT!" teriaknya, diikuti dengan sorakan dari para pejuang yang kini menyerbu masuk.
***