Rahasia dalam Fasilitas Tertutup

1426 Kata
Aku terbangun dari CryoCore dengan nafas tersengal. Dadaku naik turun, keringat dingin membasahi pelipis. Mimpi itu... tidak, bukan mimpi. Itu terlalu nyata. Mada, Haya, Majapahit, semuanya… Namun, belum sempat aku mencerna semua yang baru saja aku alami, jam tanganku bergetar pelan. Sebuah pesan rahasia muncul dalam bentuk titik-titik cahaya kecil yang hanya bisa dilihat dari sudut tertentu. "Ruang Observasi - Sektor 3. 5 menit." Aku segera bergegas menuju lokasi yang ditentukan. Aku berjalan melewati koridor panjang dengan dinding logam yang bersih dan tanpa cela. Markas pusat IEpC selalu terlihat sempurna di luar, tetapi di dalamnya penuh dengan rahasia kelam. Ketika aku tiba di Ruang Observasi, seorang pria berjas hitam dengan rambut abu-abu pendek sudah menungguku. Tatapannya dingin, tetapi ekspresinya tenang. Mr. Smith, salah satu pemimpin Revolusi yang menyusup ke dalam IEpC. "Kau datang tepat waktu," kata Mr. Smith sambil menekan beberapa tombol di meja hologram di depannya. Cahaya biru muncul, membentuk proyeksi peta besar dari fasilitas IEpC. Di tengah-tengahnya, sebuah titik merah berkedip. "Kami akhirnya menemukan apa yang mereka cari," lanjutnya. "Kristal Jiwa bukan hanya sumber energi, tetapi juga kunci untuk mengendalikan Asrava." Aku menyipitkan mata. "Mengendalikan...? Apa maksudmu?" "Energi Asrava tidak hanya sekedar radiasi. Ini adalah bentuk kehidupan, sesuatu yang bisa berkembang dan menyatu dengan tubuh manusia atau makhluk hidup lainnya. IEpC tidak hanya mencoba memanen energinya, mereka mencoba menciptakan sesuatu yang lebih besar. Mereka ingin menyebarkan Asrava ke seluruh dunia." Bulu kudukku meremang. Aku selalu tahu ada sesuatu yang janggal dalam operasi IEpC, tetapi aku tak pernah menyangka sebesar ini. "Apa tujuan mereka menyebarkan Asrava?" tanyaku dengan nada tajam. Mr. Smith menggeleng pelan. "Itu masih belum bisa kami ketahui. Namun, yang jelas, jika mereka berhasil, seluruh dunia akan berubah selamanya." "Aku ingin kau menyusup ke Fasilitas Delta," kata Mr. Smith serius. "Itu adalah salah satu tempat yang paling dijaga ketat. Bahkan tidak semua staf IEpC bisa masuk ke sana. Tapi kau punya akses." Aku tidak butuh waktu lama untuk mempersiapkan diri. Sebagai salah satu komandan pasukan elite, aku memiliki izin masuk ke beberapa zona terbatas. Tetapi Fasilitas Delta? Itu level yang berbeda. Aku mengenakan seragam standar dengan logo IEpC di d**a kiri dan berjalan santai menuju sektor yang dimaksud. Di setiap sudut, kamera pemindai mengikuti setiap gerakanku, sensor keamanan memeriksa identitasku. Setelah beberapa checkpoint, aku tiba di pintu besar dengan tanda "Akses Terbatas - Level 5". Aku mengambil napas dalam-dalam sebelum menempelkan kartu identitasku ke pemindai. Pintu terbuka perlahan dengan suara desis halus. Aku melangkah masuk. Koridor di dalam Fasilitas Delta terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih dingin. Tidak ada personel yang berlalu lalang seperti di sektor lainnya. Semua terasa... terlalu tenang. Jantungku berdebar saat aku melihat pintu dengan sistem keamanan biometrik yang lebih canggih di ujung koridor. Aku mengambil perangkat kecil berbentuk kepingan logam dari sakuku. alat yang diberikan oleh Pasukan Revolusi untuk meretas sistem keamanan IEpC. Dengan alat ini semua fasilitas di IEpC bisa terbuka, namun aku tetap harus berhati-hati. Rekam jejak aku masih ada dalam sistem dan CCTV. Meski begitu Mr. Smith yang akan mengurusnya. Dengan cekatan, aku menempelkan perangkat itu di samping panel pemindai retina. Dalam hitungan detik, layar sistem mulai berkedip, kode-kode acak bermunculan, dan akhirnya... klik. Pintu terbuka. Aku menarik napas dan melangkah masuk ke dalam ruangan gelap yang dipenuhi dengan suara mesin berdenyut perlahan. Udara terasa dingin dan lebih berat, ada sesuatu di dalam yang membuat atmosfernya begitu menekan. Dan saat lampu-lampu di ruangan itu perlahan menyala… Mataku melebar. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah tabung vertikal besar berisi cairan biru bening. Di dalamnya, sesosok tubuh menggantung tanpa gerakan. Kulitnya pucat, hampir seperti lilin. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Lengannya terputus di siku, sementara kedua kakinya hanya tersisa hingga lutut. Dari punggungnya, jaringan organik hitam menjalar seperti akar, menggeliat perlahan, seolah-olah masih hidup. kepalanya tertutup sebuah helm hingga kebagian Mata, dan banyak kabel yang menyambungkan helm itu dengan komputer besar di seluruh dinding ruangan ini. Tenggorokanku mengering. Sosok itu bukan manusia biasa. "Apa ini...?" bisikku, nyaris tanpa suara. Mr. Smith berbicara melalui alat komunikasi. "Itulah inti dari eksperimen mereka. Manifestasi Asrava yang paling stabil." Aku melangkah lebih dekat, mataku masih meneliti tubuh yang tergantung di dalam tabung. Aku merasa ada sesuatu yang aneh... sesuatu yang familiar. Kemudian, aku melihatnya. Di pergelangan tangan yang tersisa, tanda lahir, tetapi masih utuh. Aku menatapnya dengan kaget. aku mengenali tanda lahir ini, ini milik temanku. Dia selalu menutupi tanda lahir ini karena malu. Namun aku mengetahuinya dengan pasti. Jantungku berdetak kencang. "Tidak...Tidak mungkin, apakah dia Mikha" Mr. Smith menghela napas berat. "Bagaimana Kau tahu identitas dari wanita ini?." Aku ambruk ke lantai, tubuhku gemetar. Bukan hanya karena kebenaran yang baru saja aku temukan, tetapi karena kenyataan bahwa tubuh yang digunakan untuk menampung dan memancarkan energi Asrava... adalah tubuh wanita yang kucintai. Tanganku bergetar hebat. Nafasku memburu, dadaku naik turun tanpa kendali. Aku menatap tabung kaca di depanku dengan mata yang penuh amarah dan kesedihan. Mikha... Wanita yang kucintai, yang kupikir telah mati bertahun-tahun lalu, kini terjebak dalam tubuh yang bukan miliknya lagi. Aku mengangkat tangan, mengepalkan jemariku, bersiap menghancurkan tabung itu dalam satu pukulan. "Dama, hentikan!" suara Mr. Smith terdengar jelas di komunikatorku. "Mikha masih bisa diselamatkan! Jika kau menghancurkan tabung itu sekarang, dia bisa mati!" Aku terhenti. Nafas masih tersengal, dan emosiku masih bergejolak. Tapi aku tahu Smith tidak berbohong. Jika aku menghancurkan tabung itu sekarang, aku mungkin akan kehilangan Mikha selamanya. Aku mengepalkan tinju dan menundukkan kepala, mencoba menenangkan diri. "Apa yang harus kulakukan?" tanyaku dengan suara parau. "Lanjutkan misimu. Kita tidak bisa menyelamatkannya sekarang. Tapi jika kita mendapatkan semua data yang ada di fasilitas ini, kita bisa mencari cara menyelamatkan Mikha." Aku menarik napas panjang dan mengangguk. Aku harus tetap fokus. Aku harus menyelesaikan ini. Aku bergegas menuju terminal utama di fasilitas ini. Menggunakan alat yang diberikan oleh Revolusi, aku mulai mengakses sistem keamanan dan membuka jalur ke data utama. Saat layar mulai menampilkan file-file rahasia IEpC, aku membaca dengan cepat. "Proyek Asrava: Penyebaran gelombang radiasi untuk aktivasi tahap akhir mutasi." Mataku membelalak. Mr. Smith tidak berlebihan. Mereka tidak hanya meneliti Asrava, mereka ingin menyebarkannya ke seluruh dunia. Dan lebih buruk lagi, mereka sengaja memancarkan gelombang energi ke Sektor 7. "Smith, aku mendapatkan data penting. IEpC memang sengaja memancarkan radiasi Asrava ke Sektor 7," bisikku melalui komunikator. "Aku sudah menduga," jawab Smith. "Itulah alasan penyakit yang mereka derita. Kami menyebutnya Morbus Tenebra, Penyakit Kegelapan. Mereka yang terpapar terlalu lama akan kehilangan kesadaran sebelum tubuh mereka perlahan berubah menjadi Siluman." Aku menggeram. "Brengsek... Mereka hanya menunggu waktu sebelum orang-orang itu berubah menjadi monster." "Benar. Itu sebabnya kita harus menonaktifkan pancaran energi dari fasilitas ini. Kau bisa melakukannya dari terminal yang sama." Aku segera mengakses sistem dan mencari pengendali utama pancaran radiasi. Aku menemukan protokolnya dan mulai mematikan sistem transmisi energi Asrava ke Sektor 7. Layar menunjukkan proses berjalan. 10%... 30%... 60%... Tiba-tiba, alarm berbunyi. Aku mengumpat dalam hati. "Dama, kau harus keluar dari sana!" Smith memperingatkan. Aku menutup sistem dan segera meninggalkan ruangan. Aku berjalan dengan cepat, berusaha tidak menarik perhatian siapa pun. *** Saat keluar dari fasilitas, aku berbelok menuju lorong menuju permukaan. Namun langkahku terhenti ketika seseorang berdiri di hadapanku. Seorang komandan IEpC. Darahku membeku. s**l. Aku tak boleh menunjukkan rasa takut atau gelisah. Aku harus tetap tenang. "Komandan Dama," katanya dengan nada rendah. Matanya tajam, penuh kecurigaan. "Apa yang kau lakukan di sini?" Aku mengangkat bahu santai. "Aku baru selesai memeriksa sistem keamanan. Ada laporan tentang gangguan di sektor ini, jadi aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja." Dia diam sejenak, menatapku tajam. Aku bisa merasakan ia sedang menganalisis setiap gerak-gerikku. "Kau terlihat gelisah," katanya akhirnya. "Apa kau menemukan sesuatu yang aneh?" Aku menggeleng, memaksakan senyum. "Tidak ada yang aneh, hanya suasana yang sedikit sunyi di sini. Itu saja." Dia masih menatapku selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Aku siap berkelahi jika ia mencurigai sesuatu. Namun, tiba-tiba dia hanya mengangguk kecil dan melangkah melewatiku. "Baiklah. Lanjutkan tugasmu." Aku menahan napas dan mengangguk. "Terima kasih, Komandan." Begitu dia menjauh, aku langsung menuju keluar dan memasuki kendaraan yang sudah menungguku. "Nyaris saja," gumamku sambil menghapus keringat di dahi. Setelah kejadian itu, aku kembali menjalani kehidupanku seperti biasa di markas IEpC. Aku tetap melaksanakan tugas tanpa menunjukkan ada yang berbeda. Namun, aku tahu aku sedang diawasi. Beberapa hari berlalu, dan akhirnya aku mendapat jadwal untuk masuk kembali ke CryoCore. Aku berdiri di depan kapsul itu, menatap refleksi wajahku di permukaan kaca. Aku harus kembali. Aku harus melihat lebih jauh ke masa lalu. Saat aku berbaring dan pintu kapsul tertutup, aku merasakan dunia sekelilingku mulai berputar. Pandanganku menjadi kabur. Kemudian, semuanya gelap. Saat aku membuka mata, aku kembali ke Majapahit. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN