Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, Mada dan rombongan melanjutkan perjalanan mereka menuju desa tersembunyi yang diyakini sebagai tempat tinggal seorang pandai besi legendaris, Empu Gandring. Tidak seperti perjalanan sebelumnya yang mereka tempuh dengan berjalan kaki, kali ini mereka bergerak dengan lebih megah, yaitu dengan menunggangi Laksana, gajah besar yang kini menjadi bagian dari kelompok mereka.
Tubuh Laksana lebih besar dari gajah biasa, hampir dua kali lipat ukurannya, memungkinkan Mada, Haya, Sura, Nara, Tanu, dan bahkan Mahaguru untuk duduk di atasnya dengan nyaman. Meskipun perjalanan mereka lebih cepat dibanding sebelumnya, pencarian informasi mengenai Empu Gandring tidaklah mudah.
"Kita sudah melewati tiga desa dan tidak ada satupun yang tahu keberadaannya," keluh Sura sambil menyilangkan tangan di dadanya. "Apa kita sedang mengejar bayangan?"
"Legenda selalu berawal dari misteri," jawab Mahaguru tenang. "Kadang, petunjuk bisa ditemukan di tempat yang tidak terduga."
Mereka terus bergerak, menyelamatkan desa-desa yang mereka lalui dari serangan siluman, tetapi tetap tidak menemukan petunjuk mengenai Empu Gandring. Hingga suatu hari, di sebuah pasar yang ramai, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Mahaguru, yang sedang berjalan di antara kios-kios bersama Haya, mendapati sesuatu yang menarik di salah satu lapak pedagang. Sebuah pisau dapur dengan corak ukiran yang sangat unik. Coraknya mengingatkan Mahaguru pada sesuatu yang sudah lama ia cari.
"Beri aku pisau ini," kata Mahaguru, mengambilnya dari tangan si pedagang.
"Itu tidak dijual," jawab pedagang itu cepat.
Mahaguru tersenyum kecil, lalu menyerahkan sepotong singkong kepada Haya. "Pegang ini."
Haya mengangkat alis, tetapi tetap menurut. Mahaguru mengangkat pisau itu dan menebas singkong dengan sekali gerakan.
Tidak terjadi apa-apa.
Namun, saat Haya menyentuh singkong itu dengan telunjuknya, singkong itu terbelah dengan sangat rapi seolah dipotong dengan pedang tajam.
Haya tercengang. "Pisau ini... lebih tajam dari yang terlihat."
Mahaguru mengangguk. "Ini bukan sekadar pisau biasa. s*****a yang luar biasa mampu meningkatkan kemampuan penggunanya. Ini adalah ciri khas Empu Gandring."
Mata Mada berbinar. "Kalau begitu, kita harus mencari tahu dari mana pisau ini berasal!"
Namun, si pedagang hanya menggeleng. "Aku tidak bisa memberitahu kalian. Itu rahasia."
Mada hendak berbicara lebih lanjut, tetapi sebelum ia sempat menawar, Sura tiba-tiba muncul dari belakang. Dengan tubuhnya yang besar dan wajahnya yang keras, ia menatap pedagang itu dengan ekspresi yang sangat serius.
"Katakan dimana kau mendapatkannya," kata Sura dengan suara berat.
Pedagang itu menelan ludah. "A-aku... aku mendapatkannya dari sebuah desa kecil yang tersembunyi di kaki gunung. Tapi aku peringatkan kalian, penduduk desa itu tidak akan dengan mudah diajak bernegosiasi!"
Mahaguru tersenyum tipis. "Terima kasih atas informasinya. Itu sudah lebih dari cukup."
***
Dengan tujuan yang jelas, mereka segera berangkat menuju desa yang dimaksud. Namun, perjalanan kali ini berbeda. Hutan semakin rapat, jalan semakin sulit, hingga akhirnya mereka harus meninggalkan Gajahnya di tepi hutan.
"Tunggu di sini, Laksana," kata Mada sambil menepuk kepala gajah besar itu. "Kami akan kembali."
Laksana mengeluarkan suara rendah seolah mengerti dan duduk dengan tenang.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, melewati jalur yang semakin sulit. Pohon-pohon tinggi menaungi mereka, dan suara-suara burung hutan bercampur dengan gemerisik daun yang tertiup angin. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari kejauhan, terdengar suara pertempuran.
Mada segera mengambil posisi siaga. "Ada yang sedang bertarung. Kita harus membantu."
Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh, Mahaguru menahan tangannya. "Tunggu. Lihat baik-baik."
Dari balik semak-semak, mereka menyaksikan sekelompok remaja bertarung melawan siluman babi hutan. Mada mengira mereka akan panik atau melarikan diri, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Anak-anak itu tampak sangat tenang, seolah ini bukan pertama kalinya mereka menghadapi makhluk seperti ini. Mereka bergerak gesit di antara pepohonan, melompat, bergelantungan, dan meluncurkan serangan dengan sangat terampil.
Salah satu dari mereka menarik busur dan melepaskan anak panah.
WUSH!
Suara angin berdesir kencang saat panah itu melesat. Begitu cepat dan kuat hingga menembus kulit keras siluman babi dan menjatuhkannya dengan sekali tembakan.
Mada terkejut. "Panah mereka... bukan panah biasa."
Nara memperhatikan lebih dekat. "Lihat coraknya. Sama seperti pisau tadi. s*****a mereka dibuat oleh orang yang sama."
Maha Guru tersenyum. "Ini adalah desa yang kita cari."
Mereka tidak lagi ragu bahwa mereka telah menemukan desa tempat Empu Gandring berada. Haya bertanya dimana desa anak-anak itu dengan lembut namun anak-anak memandang aneh pada haya. Sekali lagi Haya mencoba menanyakan sesuatu tentang panah mereka, tetapi mereka mengabaikannya begitu saja.
"Eh? Kenapa mereka tidak meresponku?" Haya bergumam, bingung.
Sura tertawa kecil. "Mungkin mereka hanya pemalu."
Namun, yang mengejutkan, Mada dan Sura yang tubuhnya besar justru dengan cepat akrab dengan anak-anak itu. Dalam waktu singkat, mereka sudah bercanda dan bahkan dituntun menuju desa oleh anak-anak tersebut. Haya dan Nara hanya bisa saling pandang, heran melihat betapa mudahnya Mada dan Sura berbaur.
***
Matahari mulai merangkak turun ketika Mada dan rombongan tiba di desa tersembunyi. Desa itu bukan seperti desa pada umumnya. hanya ada enam rumah panggung sederhana yang berjajar berhadapan, dan di ujungnya, terdapat sebuah gubuk dengan api yang nyaris tak pernah padam. Asap tipis mengepul dari gubuk itu, memberikan kesan bahwa tempat ini dihuni oleh seseorang yang tak asing dengan besi dan api.
Saat mereka melangkah masuk, beberapa anak-anak yang tadi mereka temui di hutan berjalan ke arah desa tanpa sedikit pun melirik ke arah mereka.Ketika mereka tiba di depan gubuk, seorang pria tua dengan tubuh kurus dan rambut panjang berwarna perak muncul dari balik gubuk tersebut. Matanya tajam, penuh pengalaman, tetapi wajahnya tampak masam, seolah kedatangan mereka adalah sebuah gangguan.
Mahaguru tersenyum dan melangkah maju, tetapi sebelum ia bisa berbicara, kakek itu langsung menyela dengan suara dalam.
"Untuk apa kau datang ke sini? Pergilah."
Mada terkejut. "Eh? Kau mengenal Mahaguru?"
Mahaguru tetap tenang. "Gandring, aku datang bukan untuk membuat masalah. Aku datang karena Majapahit telah runtuh. Raja telah terbunuh."
Palu yang dipegang oleh Mpu Gandring jatuh ke tanah. Seketika raut wajahnya berubah, kehilangan sedikit keangkuhannya.
"Jadi... dia benar-benar sudah tiada?" suara Gandring melemah.
Mahaguru mengangguk. "Namun, harapan masih ada. Haya adalah pewaris sah tahta. Kami datang untuk meminta bantuanmu."
Gandring menatap Haya yang berdiri dengan penuh wibawa di samping Mahaguru. Sejenak, keheningan menyelimuti desa itu. Akhirnya, setelah beberapa saat, ia menghela napas berat.
"Baiklah. Aku akan membantu kalian."
Mendengar itu, Mada langsung tersenyum lebar. "Kalau begitu, bisakah kau membuatkan kami s*****a dari Kristal Jiwa?"
Namun, sebelum jawaban keluar dari mulut Gandring, kakek itu mengangkat sebuah tongkat kecil, melangkah ke depan, dan dalam sekejap.
Tok! Tok! Tok! Tok!
Gandring mengetuk bahu Mada, Sura, Nara, dan Tanu dengan cepat menggunakan tongkatnya. Mereka terjatuh seketika tanpa bisa bergerak.
"Apa-apaan ini?!" Mada menggerutu sambil mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa berat.
Gandring hanya mendengus. "Kalian belum layak. Bahkan dengan s*****a terbaik, orang lemah tetaplah orang lemah. Jika kalian ingin s*****a dari Kristal Jiwa, buktikan dulu bahwa kalian cukup kuat untuk menggunakannya."
Mahaguru mengangguk. "Aku setuju. Mulai besok, kalian akan berlatih."
***
Keesokan harinya, Mada, Sura, Nara, dan Tanu bangun dengan penuh semangat, mengira bahwa mereka akan segera diajarkan teknik bertarung yang lebih hebat. Namun, kenyataan tidak seindah itu.
Alih-alih berlatih bertarung, Mereka justru diperintahkan untuk mengikuti lima anak-anak desa dalam rutinitas harian mereka.
"Apa? Kita cuma harus... mengikuti mereka?" Sura mengernyit.
Mahaguru tersenyum. "Ini bukan hanya soal latihan kekuatan, tapi latihan ketahanan."
Anak-anak desa itu berlari menuju gunung, dan tanpa banyak pilihan, Mada dan yang lainnya mengikuti. Namun, mereka segera menyadari bahwa ini bukan sekadar lari biasa.
Mereka harus naik turun gunung puluhan kali dalam sehari untuk sekadar berkebun, berburu, dan mencari air. Udara yang tipis, jalur yang curam, serta beban yang harus mereka angkut membuat Mada dan yang lainnya kewalahan.
Saat fajar masih menggantung di langit, mereka sudah kelelahan, sementara anak-anak desa masih bergerak dengan lincah seolah tidak merasakan beban sama sekali.
"Ini... gila..." Tanu terengah-engah. "Bagaimana mereka bisa melakukan ini setiap hari?!"
***
Sementara Mada dan yang lainnya sibuk dengan latihan fisik, Haya menjalani latihan yang berbeda. Ia tidak diperintahkan untuk naik turun gunung seperti mereka, melainkan bermeditasi dengan kerisnya.
Mahaguru membawanya ke sebuah batu datar di tengah hutan, jauh dari keramaian desa. "Duduklah, Haya. Letakkan kerismu di pangkuan, pejamkan mata, dan rasakan aliran energi dari dalam Kristal Jiwa."
Haya menurut. Ia memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi. Perlahan, ia merasakan kehadiran makhluk hidup di sekelilingnya, hewan-hewan di hutan, pepohonan yang tertiup angin, bahkan keberadaan Mada dan yang lainnya dari kejauhan.
Namun, tiba-tiba pikirannya buyar.
Bayangan malam saat Mada memeluknya muncul di benaknya. Ia ingat bagaimana pelukan itu terasa hangat, bagaimana Mada menenangkannya di saat ia benar-benar marah dan putus asa.
Wajahnya memanas. Kenapa aku memikirkan ini sekarang?!
PLAK!
Mahaguru memukul kepalanya dengan tongkat. "Konsentrasi! Jika kau tak bisa mengendalikan perasaanmu, bagaimana kau bisa menguasai energi Kristal Jiwa?!"
Haya mengerang kesal, tetapi mengangguk. Ia menarik napas panjang dan kembali bermeditasi. Kali ini, ia mencoba menghindari pikiran yang mengganggu dan fokus pada tugasnya.
***
Setelah hari-hari penuh latihan berat, Mahaguru meminta mereka untuk beristirahat dengan mandi di sumber mata air panas alami di sisi lain gunung. Begitu tiba di sana, Mada dan Sura langsung melepas semua pakaian mereka tanpa ragu dan melompat ke dalam air di depan Nara, satu-satunya wanita di kelompok itu dan Nara hanya bisa menghela Nafas dan memaklumi sifat kekanak-kanakan mereka.
"Aaaaahhh... ini nikmat sekali!" seru Mada sambil meregangkan tubuhnya di air hangat.
Tanu, di sisi lain, tampak canggung. Dengan perlahan, ia melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam air dengan ekspresi malu.
Haya berdiri di tepi kolam, wajahnya memerah. Ia tidak menyangka Mada akan bertindak seperti itu.
"Haya, ayo masuk!" panggil Mada tanpa sadar.
"Aku... aku akan menyusul nanti," jawab Haya cepat, membalikkan badan agar tidak melihat Mada lebih lama.
Namun, Mada malah keluar dari air tanpa busana dan menghampirinya. "Kenapa? Ayo cepat masuk! Airnya enak sekali!"
Seketika, wajah Haya memerah seperti tomat. "Bo..bodoh! Jangan keluar seperti itu!!"
PLAK!
Tanpa berpikir panjang, Haya memukul Mada hingga jatuh kembali ke dalam air. Percikan besar menyebar ke segala arah, membasahi Nara yang berdiri di dekatnya.
Nara menyadari sesuatu dan menarik tangan Haya. "Ayo, kita mandi di kolam sebelah saja."
Haya pun menurut dan mandi bersama Nara. Dengan sihirnya, Nara menciptakan penghalang agar mereka tidak bisa diintip.
Mada yang masih di dalam air mengusap kepalanya yang sakit. "Kenapa Haya tiba-tiba jadi seperti ini...?"
Sura hanya tertawa, sementara Tanu menutup wajahnya dengan tangan, malu dengan apa yang baru saja terjadi.
***
Hari demi hari mereka menjalani latihan berat itu, hingga akhirnya tubuh mereka mulai terbiasa. Dan pada hari yang dinanti-nanti, Mpu Gandring akhirnya menyelesaikan s*****a mereka. Saat mereka berkumpul di depan gubuk sederhana itu, Mpu Gandring melangkah keluar sambil membawa empat s*****a yang bersinar dalam cahaya api unggun.
Sura menerima sepasang pisau pendek dengan empat lubang untuk jari-jarinya. s*****a itu bukan hanya untuk menebas, tetapi juga untuk bertarung dalam jarak dekat dengan pukulan mematikan.
Tanu diberikan tombak bermata tiga yang menjulang tinggi. Mata tombaknya berkilauan, tajam seperti taring harimau, mencerminkan ketahanan dan kekuatan yang telah ia bangun selama latihan.
Nara mendapatkan tongkat sihir yang berujung kristal ganda. Ia menggenggamnya dengan hati-hati, merasakan aliran energi murni yang mengalir di dalamnya. Tongkat ini bukan hanya memperkuat sihirnya, tetapi juga memungkinkannya mengeluarkan dua jenis sihir dalam satu waktu.
Mada menggenggam golok berdesain lengkung seperti keris. Tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek—s*****a itu seperti perpanjangan dari dirinya sendiri. Saat ia mengayunkannya, ia bisa merasakan bagaimana golok itu menyatu dengan kecepatan dan kelincahannya dalam bertarung.
Kini, mereka tidak hanya lebih kuat, tetapi juga memiliki s*****a yang akan membantu mereka dalam pertempuran mendatang.
***