Selama bertahun-tahun dalam perjalanan mereka, Haya dan para pengawalnya telah menjadi legenda di desa-desa terpencil. Mereka bukan hanya pelindung, tetapi juga pemburu Siluman yang terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain, menyapu bersih ancaman yang mengintai rakyat.
Setiap desa yang mereka lalui selalu memiliki kisah yang sama. Siluman yang muncul tiba-tiba, desa yang hancur, dan korban yang terus bertambah. Namun, tidak ada petunjuk pasti tentang siapa yang berada di balik semua ini. Meskipun mereka telah membasmi banyak sarang Siluman, jumlah mereka tak pernah berkurang, seolah-olah ada seseorang yang terus menciptakan lebih banyak lagi.
***
Suatu hari, setelah menghancurkan sebuah sarang Siluman di perbatasan kerajaan yang jauh dari Majapahit, mereka mendengar kabar dari penduduk desa tentang makhluk yang aneh. Seekor gajah berkulit retak, matanya bersinar biru seperti siluman, tetapi tidak mengamuk seperti yang lain.
"Dia terlihat di pinggir hutan," kata kepala desa yang mereka bantu. "Kadang-kadang mendekati desa, tetapi tidak pernah menyerang. Penduduk takut, tetapi dia tidak pernah benar-benar melukai siapa pun."
Mada dan yang lain saling berpandangan. Ini pertama kalinya mereka mendengar tentang Siluman yang tidak kehilangan kendali.
"Kita harus menemukannya," kata Mada.
Di dalam hutan yang gelap, mereka akhirnya menemukan makhluk itu. Seekor gajah besar dengan kulit kasar dan bercorak hitam pekat, seperti diresapi oleh energi Asrava. Matanya memancarkan cahaya biru yang samar, tetapi tidak ada kegilaan dalam tatapannya, hanya kelelahan dan penderitaan.
Ketika Mada melangkah mendekat, makhluk itu berbicara. "Pergilah… Aku tidak ingin melukai kalian."
Semua anggota tim terkejut.
"Dia… berbicara?!" seru Tanu, hampir menjatuhkan senjatanya.
"Siapa kau?" Mada bertanya, tetap waspada.
"Aku… dulunya adalah pelindung sebuah desa. Namun, seseorang memberikan kutukan ini. Aku tidak mati, tetapi aku tidak lagi menjadi diriku sendiri." Gajah itu menghela nafas panjang, tubuhnya tampak lelah.
Mereka semua terdiam.
"Jadi kau belum sepenuhnya berubah?" tanya Nara, matanya menyipit.
Gajah itu mengangguk. "Aku bisa merasakan kemarahan yang membara di dalam tubuhku. Jika aku kehilangan kendali, aku akan menjadi monster seperti yang lain."
Ia melanjutkan, "Aku sempat mengamuk di desa, tetapi aku bisa menahannya sebelum terlambat. Aku tidak ingin menjadi Siluman… tetapi aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menahan diri."
Mada maju selangkah. "Kalau begitu, ikutlah dengan kami. Aku yakin kau bisa mengendalikan kekuatan itu."
"Mada!" Haya menegurnya. "Apa kau serius ingin membawa Siluman ke dalam kelompok kita? Kau sendiri yang selalu mengatakan bahwa kita harus membasmi mereka!"
Sura mengangguk setuju. "Mada, ini gila. Jika dia kehilangan kendali di tengah pertempuran, kita semua bisa mati."
Nara menyilangkan tangan. "Secara teori, jika dia memang bisa menahan energi Asrava, dia bisa menjadi kekuatan yang berharga. Tetapi apakah kita benar-benar ingin mengambil resiko ini?"
Tanu, yang sejak awal terlihat takut, segera menambahkan, "Aku tidak ingin tidur di dekatnya!"
Mada menghela napas. "Dengar, kita sudah melawan banyak Siluman. Semuanya liar dan haus darah. Tapi yang ini berbeda. Jika ada harapan untuk memahami Asrava, bukankah lebih baik kita menyelidikinya daripada langsung membunuhnya?"
"Mada…" Haya menatapnya, ragu.
"Percayalah padaku, Haya. Aku yakin dia bisa bertahan."
Haya menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi jika dia kehilangan kendali, aku yang akan menghabisinya."
Gajah itu menundukkan kepalanya. "Jika itu terjadi… aku akan menerimanya."
Mada menatap gajah itu dengan penuh keyakinan. "Aku bisa membantumu menahan Asrava di dalam tubuhmu. Tapi aku butuh kau untuk percaya padaku."
Gajah itu menatap Mada dengan mata yang penuh harapan. "Apa yang harus aku lakukan?"
Mada menutup matanya, lalu meletakkan tangannya di dahi makhluk itu. Energi hangat mengalir dari telapak tangannya, menyatu dengan tubuh Gajah. Sebuah cahaya lembut menyelimuti makhluk itu, dan perlahan, retakan hitam di kulitnya mulai mereda, meskipun tidak sepenuhnya hilang.
Gajah itu menghela napas panjang, seolah beban berat telah diangkat dari tubuhnya.
"Aku merasa… lebih ringan. Tapi masih kuat."
Mada tersenyum. "Bagus. Sekarang, kita harus memberi nama untukmu."
Gajah itu merenung sejenak sebelum berkata, "Panggil aku Laksana."
***
Beberapa hari setelahnya, saat senja mulai turun dan kelompok itu beristirahat di tepi bukit. Angin berhembus tenang, namun tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh langkah tergesa-gesa dari arah hutan.
Dari balik pepohonan, Maha Guru muncul, tubuhnya berlumuran debu dan luka. Nafasnya tersengal-sengal, jubahnya terkoyak, dan wajahnya penuh kelelahan.
Mada segera berlari menghampirinya. "Maha Guru! Apa yang terjadi?"
Maha Guru terdiam sejenak, matanya penuh kesedihan. Dengan suara serak, ia akhirnya berbicara.
"Majapahit… telah runtuh."
Hening. Tidak ada yang berbicara.
Mada merasakan jantungnya berdegup kencang. "Apa maksudmu? Itu tidak mungkin…"
Maha Guru menundukkan kepalanya. "Raja telah dibunuh. Musuh kita jauh lebih kuat dari yang kita kira dan kerajaan telah diambil alih oleh mereka!”
Malam itu, keheningan terasa mencekik. Suara api unggun yang membara di tengah perkemahan tidak mampu menghangatkan suasana. Mada, Sura, Nara, dan Tanu duduk dalam diam, tetapi kemarahan dan frustasi mereka terasa di udara. Namun, tak ada yang lebih murka dari Haya.
Tangan Haya mengepal di gagang kerisnya, matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah Mada lihat sebelumnya. Energi berwarna biru menyelimuti tubuhnya, kerisnya bergetar dan mulai menyala terang. Bahkan tanah di bawahnya mulai merekah akibat tekanan energinya yang tak terkendali.
"Bagaimana ini bisa terjadi?!" suaranya menggema, membuat api unggun berkedip sesaat. Ia menatap Mahaguru dengan tatapan tajam, seolah pria tua itu adalah musuhnya.
"Bagaimana mungkin Ayah terbunuh? Bagaimana Majapahit bisa jatuh?!" lanjut Haya.
Maha Guru menghela nafas panjang. Matanya tampak semakin tua dalam cahaya api unggun.
"Sebelum terbunuh, Raja menitipkan pesan kepadaku," katanya pelan. "Dia ingin aku menyampaikan kebenaran kepadamu, Pangeran Haya."
Haya semakin mendekat, nafasnya berat. "Kebenaran apa?"
Mahaguru menatap mereka semua sebelum berbicara. "Ketiga kerajaan, Prangwesi, Trowangsa, dan Bhairawa telah lama mengetahui rahasia energi Asrava. Mereka memanfaatkan energi itu untuk memperkuat pasukan dan kerajaan mereka. Sang Raja tahu akan hal ini, tetapi ia memilih jalan damai."
Mahaguru menunduk, suaranya dipenuhi penyesalan. "Namun, perdamaian gagal. Mereka ingin lebih dari sekadar berunding. Mereka ingin menguasai Majapahit."
"Jadi mereka membunuh Ayah untuk itu?" Haya mengepalkan tangannya semakin erat.
Mahaguru mengangguk. "Dan lebih dari itu… Tujuan sebenarnya dari perjalananmu bukan hanya untuk melatih kekuatanmu, tetapi juga untuk menjauhkanmu dari konflik ini. Kau adalah pewaris tunggal tahta… dan pewaris Kristal Jiwa."
Mata Haya membelalak. "Apa maksudmu?"
"Kristal Jiwa adalah sumber perlindungan kerajaan Majapahit. Ia membentuk kubah energi yang menjaga ibu kota dari serangan siluman dan musuh, Namun, ada satu rahasia lain… Kristal Jiwa tidak bisa digunakan oleh kerajaan lain. Ketika ketiga kerajaan mencoba mengambil alih, mereka menemukan bahwa tanpa kehadiran pewaris sejati, kristal itu tidak akan berfungsi. Lebih buruk lagi, Kristal Jiwa hancur."
Mada, yang sejak tadi mendengarkan, kini menegakkan tubuhnya. "Jadi itu artinya… Majapahit tidak lagi memiliki perlindungan dari Kristal Jiwa?"
Mahaguru mengangguk berat. "Tanpa perlindungan itu, Majapahit tak bisa menahan serangan dari kerajaan lain, dan ibu kota jatuh dalam sekejap."
Tiba-tiba, energi Haya semakin liar. Api unggun berkobar lebih besar, angin bertiup kencang, dan tanah bergetar.
"Ini semua salahku! Jika aku tidak pergi, jika aku tetap berada di Majapahit, mungkin aku bisa mencegah kehancuran ini!" Ucap Haya dengan penuh amarah.
Air mata amarah mengalir di pipinya, tetapi bukan air mata kesedihan, ini adalah kemarahan yang membara, kemarahan yang bisa menghancurkan apa saja. Tanpa menunggu jawaban, Haya berbalik dan pergi ke kegelapan malam, meninggalkan mereka semua.
***
Mada menatap kepergian Haya dengan gelisah. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan mengejarnya. Ia menemukan Haya berdiri di tepi sungai, menatap air dengan tatapan kosong. Bahunya bergetar, bukan karena dingin, tetapi karena emosi yang ia coba tahan.
Perlahan, Mada mendekatinya. "Haya…"
"Aku tidak ingin bicara, Mada." Suaranya dingin, tetapi juga penuh luka.
Mada tidak pergi. Ia tetap berdiri di sana, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka. Akhirnya, setelah beberapa saat, Haya menghembuskan napas berat.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri…" bisiknya. "Aku pergi… dan kini Ayah telah tiada. Majapahit telah hancur. Semua yang kulakukan terasa sia-sia."
Mada menatapnya, lalu dengan perlahan, ia menarik Haya ke dalam pelukannya.
Haya membeku sesaat. Namun, kehangatan Mada perlahan-lahan membuatnya luluh. Bahu yang awalnya tegang mulai melemas, dan tanpa bisa ditahan, air mata kembali mengalir di pipinya.
Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa mencoba menahannya. Mada menepuk punggungnya pelan.
"Kau tidak sendiri, Haya. Aku akan selalu ada di sisimu. Kita akan mengambil kembali Majapahit bersama-sama."
***
Saat mereka kembali ke perkemahan, Mahaguru telah menyiapkan sesuatu. Di tangannya terdapat beberapa kepingan kecil Kristal Jiwa yang masih tersisa.
"Pangeran, akhirnya kau kembali. Aku membawa kepingan Kristal jiwa yang terbelah. Kepingan ini akan aku berikan kepada kalian berempat. Mada, Sura, Nara, dan Tanu."
Mada menerima kepingan itu dengan hati-hati. Kristal itu bersinar redup, seolah memiliki kesadaran sendiri.
"Kalian akan menerima s*****a yang terbuat dari kepingan kristal jiwa. Namun, s*****a yang terbuat dari Kristal Jiwa tidak mudah dikendalikan," lanjut Mahaguru. "Orang yang bisa menempanya menjadi s*****a telah lama menghilang. Tetapi jika kita ingin memiliki kesempatan untuk melawan kerajaan-kerajaan yang menggunakan Asrava, kita harus menemukannya."
Nara menyipitkan matanya. "Siapa orang itu?"
Mahaguru tersenyum kecil. "Seseorang yang telah lama menjadi legenda… Mpu Gandring."
Semua orang menahan napas.
"Mpu Gandring?" ulang Sura. "Bukankah dia sudah lama menghilang?"
Mahaguru mengangguk. "Benar. Namun, jika ada seseorang yang bisa membantu kalian menyalurkan kekuatan Kristal Jiwa ke dalam s*****a yang bisa digunakan, maka dia adalah satu-satunya orang yang bisa melakukannya."
Haya, yang kini lebih tenang, mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, kita harus menemukannya. Secepatnya."
Mada tersenyum kecil. Haya telah kembali. Tidak lagi tenggelam dalam kesedihannya, tetapi bangkit dengan tekad baru.
Kini, mereka tidak hanya harus menjadi lebih kuat. Mereka juga harus mencari Mpu Gandring karena hanya dengan s*****a Kristal Jiwa, mereka bisa merebut kembali Majapahit.
***