Aku terbangun dengan nafas terengah-engah. Pandanganku masih kabur, tapi aku bisa merasakan tubuhku gemetar. Jari-jariku menekan permukaan dingin CryoCore yang masih terasa lembab akibat embun beku sistem pendingin. Nafasku berat, d**a terasa sesak, seolah aku baru saja berlari tanpa henti dalam mimpi yang terlalu nyata.
Mimpi itu…
Bukan. Itu bukan mimpi. Aku bisa merasakan pedang di tanganku, panasnya pertempuran, suara Mada dan Haya yang berteriak di sisiku. Aku bisa mencium bau darah, mendengar geraman Raja Serigala. Bahkan kini, setelah terbangun, sisa-sisa sensasi pertempuran itu masih melekat dalam pikiranku.
Aku menekan pelipis ku, mencoba memahami semuanya. Kenapa? Kenapa aku bisa mengingat itu semua? Apakah ini hanya efek samping dari tidur panjang di CryoCore? Tidak… ini berbeda. Terlalu detail. Terlalu nyata.
Aku menarik napas dalam-dalam dan melangkah keluar dari kapsul. Ruangan CryoCore masih terasa dingin seperti biasa, dengan suara dengungan halus mesin yang memenuhi udara. Di sekelilingku, puluhan kapsul lain masih tertutup rapat, berisi para prajurit yang sedang “beristirahat.”
Aku menggeleng, mencoba mengusir pikiran aneh itu. Aku butuh jawaban.
***
Aku berjalan melewati lorong menuju kantin prajurit, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa menenangkan pikiranku. Saat aku masuk, beberapa prajurit yang sedang makan melirik ke arahku sekilas sebelum kembali melanjutkan aktivitas mereka. Aku mengenal mereka beberapa di antaranya pernah bertempur bersamaku.
Aku mengaduk makanan di piringku, mencampur bubur protein dengan potongan daging sintetis yang sudah mulai dingin. Rasa hambar ini sudah jadi bagian dari keseharian, sama seperti udara yang terasa berat di dalam fasilitas ini.
Di seberang meja, Vern bawahanku di tim sentinel. Dia menyuap makanannya dengan santai. Rambutnya yang hitam pendek tampak sedikit berantakan, tetapi matanya tajam, penuh kesadaran. Tidak seperti yang lain, dia tidak terlihat terlalu tertekan dengan kehidupan di sini.
Aku menjatuhkan nampanku di meja dengan suara sedikit terlalu keras. Seorang prajurit perempuan yang duduk sendirian di sana tersentak kecil sebelum menoleh ke arahku.
"Vern," sapaku sambil menarik kursi.
Vern mengangguk cepat, nyaris refleks, lalu mencoba duduk lebih tegak. Tadi dia bersandar santai di kursinya, tetapi sekarang sikunya kaku di atas meja, seolah baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Aku menahan senyum. Dia selalu begini kalau aku mendadak menghampirinya.
"Aku duduk di sini, ya?" tanyaku, meskipun aku sudah duduk.
"Eh… iya, tentu," jawabnya sedikit terlambat.
Aku mulai menyendok makanan dari piringku, mencicipi bubur protein yang sama sekali tidak punya rasa. Biasanya aku tidak peduli soal makanan, tapi hari ini…
Aku menghela napas.
"Apa kau sering bermimpi saat di CryoCore?" kataku tanpa melihatnya.
Vern mengangkat alis. Kali ini, sikapnya berubah sedikit lebih serius. "Mimpi ? Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan mimpi saat di sana. Mimpi komandan seperti apa?"
"Seperti ada sesuatu yang memanggilku. Tapi aku nggak tahu apa. Aku hanya merasa… aku ada di tempat yang bukan seharusnya. Aku melihat bayangan-bayangan, suara-suara yang nggak bisa kupahami." Sambil mengaduk-aduk makanan di piring tanpa niat benar-benar menyuapnya.
Vern menatapku, lalu meletakkan sendoknya. "Dan kau sering mengalami ini?"
Aku mengangguk pelan.
Vern tampak berpikir. Jemarinya menekan tepi nampannya, matanya menerawang sesaat. Sepertinya dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi sebelum kata-kata itu keluar, atmosfer kantin mendadak berubah.
Seseorang datang dengan setelan serba putih dan rambut pirang panjang serta kacamata bulat merah yang sangat mengintimidasi. Dia Adalah Lucian Volker pemimpin utama dari perusahaan IEpC ini.
Dia berjalan di jalurnya sendiri, terpisah dari kami, orang-orang yang dianggap ‘terkontaminasi’. Seragamnya bersih, langkahnya terukur, nyaris seperti mesin.
Namun, bukan dia yang paling menarik perhatianku.
Di sampingnya berjalan sosok yang lebih… aneh. Penasihatnya.
Sosok itu tertutup jubah dan tudung hitam yang menjulur hingga ke lantai. Helmnya menutupi seluruh kepala, permukaannya reflektif dengan gaya futuristik yang tampak tidak pada tempatnya di fasilitas ini. Tidak ada wajah, tidak ada ekspresi, hanya pantulan samar dari cahaya lampu di langit-langit.
Aku tidak tahu siapa atau apa dia sebenarnya. Tidak ada yang tahu.
Aku pernah mendengar rumor. Bahwa dia bukan manusia. Bahwa dia adalah sesuatu yang lebih tua, lebih berbahaya. Beberapa percaya dia adalah otak di balik keputusan-keputusan Volker. Yang lain bilang dia hanya bayangan yang mengintai dari kegelapan, menunggu sesuatu.
Aku tidak menyadari kalau aku menatap terlalu lama sampai Vern berbisik, "Kau menatapnya terlalu lama."
Aku mengalihkan pandangan, tapi terlambat.
Dia menoleh ke arahku.
Jantungku berhenti sejenak. Tidak ada mata di balik helm itu, tapi aku bisa merasakan sesuatu menembus kulitku, menguliti pikiranku. Aku menelan ludah, menundukkan kepala, mencoba mengabaikan sensasi mengerikan yang merayap di tulang belakangku.
Beberapa detik kemudian, mereka telah melewati kantin. Suasana tetap sunyi, seperti tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Vern menyandarkan punggung ke kursinya, menghela nafas pelan.
"Aku tidak suka orang itu," katanya, meski suaranya terdengar datar.
Aku menatapnya, berusaha mencari petunjuk di wajahnya. Namun, Vern terlalu pandai menyembunyikan ekspresinya. Aku menggenggam sendok di tanganku. Perasaan itu masih ada. Seolah tatapan dari balik helm itu masih tertanam di pikiranku, mengorek sesuatu yang belum aku sadari.
Aku melanjutkan obrolanku dengan Vern tentang mimpi itu, namun Vern menyelesaikan makanya sambil berkata.
“Komandan, bukan hanya aku, tapi semua di sini tidak ada yang merasakan mimpi sejak tertidur di tabung itu!” Ucap Vern dengan sedikit kebencian.
Pikiranku terus melayang. Apa sebenarnya ini? Kenapa hanya aku yang bisa bermimpi? Apakah ini efek samping dari radiasi yang ada dalam tubuhku? Atau… sesuatu yang lain?
Aku harus mencari tahu.
***
Setelahnya Aku berjalan melewati lorong di markas IEpC, pikiranku masih penuh pertanyaan. Aku melewati beberapa lorong dengan dinding kaca yang menampilkan ruang-ruang penelitian dan pemantauan. IEpC adalah perusahaan yang mengendalikan energi dan pengamanan dunia pasca perang nuklir, tetapi semakin lama aku berada di sini, semakin banyak hal yang tidak masuk akal.
Saat melintasi sebuah koridor, aku tiba-tiba mendengar suara percakapan samar dari balik pintu ruang pengawas. Aku melangkah lebih pelan, berhenti di dekat pintu yang sedikit terbuka.
"Akhirnya lokasi Kristal Jiwa diketahui," suara seorang pria terdengar jelas.
Darahku berdesir. Aku menahan napas dan merapat ke dinding, mencoba mendengar lebih jelas.
"Tim intelijen kita sudah memastikan keberadaannya. Kami hanya perlu mengirim tim ekspedisi untuk mengambilnya," kata suara lain, terdengar lebih tenang dan berwibawa.
"Bagaimana dengan CryoCore?" tanya pria pertama.
"Sejauh ini tidak ada masalah. Rekonstruksi masa lalu lewat DNA berjalan dengan lancar. Tidak ada satupun subjek yang menyadari mereka mengalami rekonstruksi sejarah."
Aku hampir tersedak udara. Rekonstruksi sejarah? DNA? Apa maksudnya?
"Dan ingatan mereka?"
"Diblokir sepenuhnya. Tidak ada subjek yang bisa mengingat apa yang mereka alami dalam CryoCore. Bagi mereka, waktu hanya berlalu dalam hitungan detik tanpa pengalaman apa pun."
Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat. Mereka salah. Aku bisa mengingatnya. Aku mengalami semuanya. Aku mengepalkan tanganku, berusaha mengendalikan gemuruh emosiku. CryoCore bukan hanya tempat penyembuhan radiasi. Ini lebih dari itu. Mereka telah menggunakan DNA kita untuk mengakses masa lalu, dan mereka telah memblokir ingatan kita agar kita tidak pernah menyadarinya.
Tapi aku… aku mengingatnya. Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku bisa mengingat semuanya. Aku harus mencari tahu lebih lanjut. Aku harus mengetahui kebenaran.
“Beep.. Beep…” Jam tanganku berbunyi.
Suara itu begitu nyaring dalam keheningan koridor, membuat jantungku hampir berhenti. Aku menahan napas, berharap tidak ada yang memperhatikan. Namun, dari dalam ruang pengawas, suara percakapan mendadak berhenti.
Aku berpikir cepat. Dengan langkah santai, aku berbalik ke arah pintu yang setengah terbuka dan mengetuknya.
"Aku butuh misi," kataku dengan nada biasa. "Kapan penugasan berikutnya?"
Seorang pria berjas hitam yang duduk di meja kontrol menatapku curiga. Dia adalah salah satu pria yang sebelumnya berbicara tentang Kristal Jiwa. Aku menatapnya tanpa ragu, memastikan bahwa ekspresiku tetap tenang.
"Kebetulan sekali," katanya sambil mengetik di layar holografik. "Kau akan memimpin tim keluar dari tembok untuk menangani gangguan di sektor luar."
Aku mengangguk. Ini sempurna. Aku butuh udara segar dan waktu untuk menyusun pikiranku.
***
Duduk di dalam kendaraan lapis baja, aku menatap keluar jendela. Di dalam tembok kota, semuanya tampak bersih dan teratur. Namun, saat gerbang terbuka, dunia berubah drastis.
Di luar sana, hanya ada tanah tandus dan reruntuhan kota lama yang telah hancur sejak Perang Dunia III. Sisa-sisa bangunan menjulang seperti tulang-tulang raksasa yang membusuk. Udara terasa berat, penuh dengan partikel debu dan radiasi yang terlalu tinggi untuk dihuni manusia biasa.
"Laporan dari drone," kata salah satu prajurit di komunikator. "Ada pergerakan aneh di sektor 12. Kemungkinan siluman."
Aku mengangkat s*****a dan memberi isyarat pada tim. Waktunya bekerja.
***
Dari balik reruntuhan, segerombolan makhluk muncul. Siluman-siluman ini dulunya manusia atau hewan yang terpapar radiasi tinggi, berubah menjadi makhluk buas dengan tubuh membusuk dan mata yang bercahaya keunguan.
"Tembak!" perintahku.
Senjata kami menyala, peluru energi menembus tubuh mereka. Beberapa siluman tumbang seketika, namun yang lain terus maju tanpa rasa takut. Aku menghunus pedang plasma dan melompat ke tengah medan pertempuran, menebas satu siluman yang menerjang ke arahku.
Dalam hitungan menit, pertempuran berakhir. Tubuh-tubuh siluman berserakan, dan para prajurit mulai mengumpulkan Asrava Core dari sisa tubuh mereka- bola kecil bercahaya yang menjadi sumber energi utama IEpC.
Aku menatap core itu dengan perasaan aneh. Berapa banyak manusia yang telah menjadi korban demi core ini? Aku tidak akan mendapatkan jawaban di sini.
***
Saat perjalanan pulang, Aku yang bertugas sebagai pemimpin tim berada di mobil terpisah dengan anggotaku. aku di mobil sebagai pengawas karena aku memiliki daya tarung yang tinggi serta kepekaan terhadap siluman yang kuat. Namun strategi itu tidak berlaku untuk selain siluman. Sesuatu terjadi dan Tim ku mulai panik.
"Ada pergerakan di belakang kita!" suara panik terdengar dari komunikator.
Sebelum aku bisa merespons, ledakan besar menghantam kendaraan yang aku gunakan sendirian. Aku terhempas keluar, tubuhku berputar di udara sebelum jatuh ke tanah. Kepalaku berdenyut. Aku mencoba bangkit, tapi suara langkah kaki mendekat.
Tiba-tiba, sesuatu menutupi wajahku dengan kantong hitam.
Aku tidak bisa melihat apa-apa.
Aku telah diculik.
***
Saat kantong itu dilepas, aku mendapati diriku duduk di sebuah ruangan gelap, hanya diterangi oleh lampu redup. Beberapa orang bersenjata mengelilingiku. Seorang pria tua berambut abu-abu duduk di seberangku. Aku mengenali wajahnya. Dia adalah pria yang sebelumnya berbicara tentang Kristal Jiwa di ruang pengawas IEpC.
"Dama," katanya dengan nada datar. "Kami tahu kau mengingat mimpi-mimpimu."
Darahku membeku. "Jadi… kalian tahu?"
Pria itu tersenyum tipis. "Kami adalah Pasukan Revolusi. Dan kami membutuhkan seseorang sepertimu."
Aku mendengarkan dengan saksama saat mereka mulai menjelaskan semuanya.
"IEpC bukan penyelamat dunia seperti yang mereka klaim," kata seorang wanita muda di samping pria tua itu. "Mereka memang menciptakan reaktor radiasi untuk menyediakan energi, tapi mereka juga menemukan bahwa radiasi yang mereka pancarkan menciptakan sesuatu yang lebih gelap yaitu Asrava."
Aku mengerutkan kening. "Asrava?"
"Energi yang berasal dari jiwa-jiwa yang terdistorsi oleh radiasi. Siluman bukanlah mutasi alami. Mereka adalah hasil dari eksperimen IEpC. Mereka sengaja membiarkan manusia dan hewan berubah menjadi siluman, hanya agar mereka bisa memanen Asrava Core dari tubuh mereka."
Aku menggertakkan gigi. Jadi selama ini, aku membantai orang-orang yang seharusnya bisa diselamatkan?
Pria tua itu menatapku tajam. "Kau berbeda, Dama. Kau bisa mengingat mimpi-mu. Itu berarti blokade memori CryoCore tidak bekerja padamu. Kami butuh seseorang di dalam IEpC untuk menyelidiki lebih dalam. Kami ingin kau menjadi agen ganda."
Aku diam sejenak. Jika yang mereka katakan benar, maka IEpC adalah musuh sebenarnya. Tapi aku tidak bisa gegabah.
"Aku setuju," kataku akhirnya. "Tapi sebelum aku kembali, aku harus tahu lebih banyak tentang Asrava. Aku harus melihat masa lalu lebih dalam."
Pria tua itu mengangguk. "Maka kau harus kembali ke CryoCore."
***
Beberapa jam kemudian, aku sudah kembali ke markas IEpC. Teman tim ku yang nampak khawatir memberikan ekspresi lega setelah tahu aku kembali dengan selamat. Semua menyoraki kepulanganku yang telah kembali dari serangan dengan selamat. Bahkan mereka memuji jika bukan aku yang diserang, mungkin akan menjadi siluman berikutnya. Aku berbaur dan mengarang cerita bahwa aku telah berhasil lari dari kejaran tim revolusi dan aku kembali kepada IEpC.
Aku ke ruang perawatan untuk merawat luka yang sengaja aku buat agar mereka percaya. kemudian aku melanjutkan keseharianku yang biasa. Namun, kali ini berbeda. Aku tahu apa yang terjadi di balik layar. Aku tahu kebohongan yang mereka sembunyikan.
Saat malam tiba, aku memasuki ruangan CryoCore dan berbaring di dalam kapsul.
"Kembali ke titik awal," suara AI terdengar.
Aku menutup mata.
Sekali lagi, aku merasakan tubuhku tersedot ke dalam pusaran waktu.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke Majapahit.
***