Raungan mengerikan menggema di dalam gua, membuat dinding-dinding batu bergetar. Raja Serigala berdiri di altar dengan angkuh, matanya merah menyala penuh kesombongan.
Dengan satu gerakan tangannya yang berbulu hitam pekat, ia mengeluarkan lolongan panjang. Dari bayang-bayang gua, puluhan siluman serigala bermunculan, taring mereka berkilauan di bawah cahaya api altar.
"Serang mereka," perintah Raja Serigala dengan suara dalam yang bergema di ruangan itu.
Gerombolan siluman menerjang tim Haya dari segala arah. Mada berusaha menangkis cakaran salah satu siluman, tetapi sebelum ia bisa membalas, seekor serigala lain sudah melompat ke arahnya. Ia mencoba bertahan, namun tak menyadari Raja Serigala melesat ke arahnya dengan kecepatan luar biasa.
DUAG! Mada terpental keras, tubuhnya menghantam dinding gua dan reruntuhan batu berjatuhan menimpa tubuhnya.
"Mada!" Haya berteriak, tetapi ia tidak punya waktu untuk menolongnya.
Siluman-siluman terus mengamuk, memisahkan mereka satu sama lain. Nara dan Tanu terdorong ke sisi lain gua, sedangkan Sura sibuk menghadapi tiga siluman sekaligus. Kini, hanya Haya yang tersisa di depan Raja Serigala.
Haya menggenggam kerisnya erat, menatap Raja Serigala dengan penuh kewaspadaan. Nafasnya stabil, meskipun ia tahu lawannya bukan makhluk biasa.
Gawat, dia jauh lebih cepat dan kuat daripada yang kuduga... pikirnya.
Raja Serigala berjalan mendekat, mencakar dinding gua dengan santai, meninggalkan bekas goresan yang dalam. "Hanya kau sendirian? Di mana teman-temanmu sekarang?" katanya dengan seringai jahat.
Tanpa menjawab, Haya menyerang lebih dulu! Ia melesat maju dengan kecepatan luar biasa, mengayunkan kerisnya ke arah leher Raja Serigala. Namun, makhluk itu dengan mudah menangkis serangan tersebut dengan cakarnya.
DANG!
Benturan itu menggetarkan udara di sekitar mereka. Haya berputar cepat, mencoba serangan lain, tetapi setiap tebasannya ditangkis dengan mudah. Raja Serigala melompat mundur, lalu menyerang balik dengan cakaran cepat.
Haya menghindar dengan gesit, tapi semakin lama ia mulai terpojok. Dengan satu gerakan mendadak, Raja Serigala menebas ke arah d**a Haya. Haya melompat ke belakang, tapi serangan itu masih menyisakan luka tipis di pakaiannya.
"Kau cepat, tapi tetap lebih lemah dariku," ejek Raja Serigala.
Haya menggertakkan giginya. Ia tidak bisa bertahan sendiri terlalu lama. Jika ini terus berlanjut, ia akan kalah. Saat Raja Serigala bersiap memberikan serangan akhir, tiba-tiba…
CLANG!
Pedang Mada muncul, menangkis cakaran Raja Serigala!
"Kau bicara terlalu banyak," ujar Mada, matanya tajam penuh semangat bertarung.
Haya menoleh ke arahnya, sedikit terkejut. "Mada... Kau baik-baik saja?"
Mada menyeringai, meski wajahnya sedikit berdarah akibat luka sebelumnya. "Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu bertarung sendirian."
***
Sementara Mada dan Haya menghadapi Raja Serigala, Nara memperhatikan situasi dari sudut gua. Ia menyadari bahwa jumlah siluman bawahan terlalu banyak untuk dikalahkan satu per satu.
Kalau begini terus, kita akan habis tenaga duluan... Aku harus melakukan sesuatu! pikirnya.
Ia segera menarik napas dalam dan mulai merapalkan mantra. Udara di gua mulai berubah. Suhu turun drastis, napas mereka mulai terlihat dalam bentuk uap putih. Tiba-tiba, tanah mulai membeku!
Siluman serigala yang berlari menuju Nara mendadak terpeleset dan kaku di tempatnya. Es merambat ke seluruh tubuh mereka, membekukan puluhan siluman dalam sekejap.
"Sekarang!" teriak Nara kepada yang lain.
Sura dan Tanu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sura menghunus pedangnya, menghantam siluman yang sudah membeku dengan kekuatan penuh, menghancurkan mereka menjadi serpihan es!
Di sisi lain, Tanu dengan keberanian yang baru muncul, menebas siluman satu per satu dengan tombaknya. Dalam hitungan detik, jumlah musuh berkurang drastis!
Mada, yang melihat situasi ini, tersenyum tipis.
"Bagus, Nara! Sekarang kita bisa fokus pada satu lawan terakhir."
Ia menatap Raja Serigala, yang kini berdiri dengan ekspresi serius.
"Jadi, sekarang kalian ingin bertarung dengan serius?" suara Raja Serigala terdengar lebih berat, tatapannya semakin tajam.
Haya dan Mada menghunus s*****a mereka, berdiri berdampingan.
***
Mada dan Haya berdiri bersebelahan, nafas mereka berat setelah pertarungan panjang. Raja Serigala masih berdiri tegak, meski luka-luka mulai tampak di tubuhnya. Dengan lolongan keras, ia mengumpulkan energi yang gelap, membuat aura kelam menyelimuti gua.
"Sekarang atau tidak sama sekali," ujar Haya dengan suara tegas.
Mada mengangguk. "Ayo, kita akhiri ini!"
Pedang Mada mulai bersinar dengan cahaya keemasan, sedangkan Keris Jiwa Haya memancarkan cahaya biru yang berpendar di udara. Mereka berdua melesat ke depan, menembus aura kegelapan Raja Serigala.
Raja Serigala mengayunkan cakarnya dengan kekuatan penuh, tetapi Mada menangkisnya dengan pedang yang kini dipenuhi energi. Haya, dengan lompatan gesit, menancapkan Keris Jiwa tepat ke jantung sang raja.
"GRAAHHH!!" Raja Serigala menggeram kesakitan, tubuhnya perlahan mulai menghilang dalam kabut hitam.
Saat kekuatannya lenyap, sebuah bola kristal hitam berkilauan jatuh dari tubuhnya. Sebelum benar-benar lenyap, ia menyeringai dan berkata dengan suara berat,
"Kalian pikir ini sudah selesai? Ini baru permulaan…"
***
Di tempat yang jauh dari medan pertempuran, tiga sosok berdiri dalam bayangan. Mereka merasakan energi yang baru saja dilepaskan dan kemudian menghilang.
"Raja Serigala telah kalah…" bisik salah satu dari mereka dengan nada penuh amarah.
"Bodoh sekali," ucap yang lain, suaranya tajam dan dingin. "Ia seharusnya mampu menghabisi mereka."
Orang ketiga mengepalkan tangannya, auranya menggetarkan udara di sekitarnya. "Kita tidak bisa membiarkan ini. Kita akan memastikan Majapahit runtuh dengan rencana yang lebih matang."
Mereka bertiga menghilang dalam kabut gelap, menyusun langkah baru untuk menundukkan kerajaan besar itu.
***
Sementara itu, di Keraton Majapahit, para raja dari kerajaan tetangga telah berkumpul. Mereka datang untuk mendiskusikan ancaman siluman yang semakin besar dan bagaimana cara melawannya.
Sang Raja Majapahit duduk di singgasana, didampingi Mahaguru. Di sekelilingnya, para penguasa dari Prangwesi, Trowangsa, dan Bhairawa memperhatikan dengan serius.
"Para raja yang mulia," kata Raja Majapahit, suaranya penuh wibawa. "Kita semua tahu bahwa ancaman siluman semakin membesar. Jika kita tidak bersatu, kita akan dihancurkan satu per satu. Saya mengusulkan kita bekerja sama dalam perang melawan mereka."
Raja Prangwesi, seorang pria berbadan kekar dengan jubah merah tua, mengangguk. "Aku setuju untuk melawan siluman. Namun, kita membutuhkan kekuatan lebih besar."
Raja Trowangsa, seorang pria dengan wajah penuh kerutan dan mata licik, menyeringai. "Jika kita ingin menang, kita harus menggunakan sumber daya yang lebih besar. Aku mengusulkan satu hal. kita membagi Kristal Jiwa."
Raja Majapahit menggeleng tegas. "Itu tidak mungkin. Kristal Jiwa adalah kekuatan yang menjaga keseimbangan negeri ini. Jika kita membaginya, rakyat akan sengsara."
Raja Bhairawa, yang sejak tadi diam, menyeringai licik. "Jadi, kau menolak berbagi kekuatan demi rakyatmu sendiri?" Ia melirik ke arah raja-raja lain. "Apakah kita benar-benar ingin tunduk pada Majapahit yang tidak mau berkorban?"
Perdebatan pun semakin memanas. Para raja mulai saling beradu argumen, suara mereka menggema di seluruh aula. Tegangan meningkat, para pengawal sudah bersiap siaga seakan perang bisa pecah kapan saja.
Tiba-tiba, bayangan hitam mulai muncul di tengah ruangan.
Raja Trowangsa tersenyum dingin, lalu mengangkat tangannya. Dari bayangan di belakangnya, sesosok siluman anjing raksasa muncul, matanya merah menyala dan mulutnya penuh taring tajam.
Semua orang terdiam.
"Baiklah, jika kita tidak bisa berdiskusi dengan kata-kata," kata Raja Trowangsa sambil tersenyum kejam, "maka kita bicarakan ini dengan cara lain."
***