Suara hujan di luar makin deras. Butir-butirnya menampar jendela, menciptakan irama lembut yang berpadu dengan degup jantung dua insan di dalam kamar itu. Levin masih memeluk Jesslyn, mencoba menenangkan napasnya yang belum juga teratur. Wajah Jesslyn memerah, bukan hanya karena malu, tapi juga karena debar yang tak mampu ia kendalikan. “Kau... Kau selalu membuatku seperti ini,” gumam Jesslyn dengan suara pelan, hampir seperti bisikan. “Itu karena dirimu, aku tidak bisa menahan diri." “Apa dulu juga seperti ini?” “Sayang, aku rasa itu bukan sesuatu yang boleh ditanyakan. Itu dulu, sesuatu yang tak ingin aku ingat. Dan sekarang, aku hanya ingin melakukan banyak kenangan indah bersama denganmu.” “Baiklah. Aku lelah, dan aku mau tidur. Jangan coba-coba menggangguku lagi, Tuan Maxton. J

