Langit pagi masih tampak pucat ketika Jesslyn melangkah keluar dari mobil. Udara masih menyimpan aroma hujan semalam, segar namun lembap. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar. Hari ini adalah pemotretan pertama yang akan dia lakukan setelah memenangkan kompetisi itu. Studio itu terletak di lantai dua sebuah gedung bergaya industrial, dengan dinding bata ekspos dan jendela besar yang menampung cahaya alami. Di dalamnya, para kru sudah tampak sibuk: menyiapkan lampu, mengecek kamera, derat mengatur latar. “Nona Jesslyn?” seseorang bertanya padanya saat dia melangkah masuk. “Ya, benar,” Jesslyn memperlihatkan sebuah kartu pengenal. “Wah, akhirnya kau datang. Kami sangat senang dapat bertemu denganmu.” “Aku juga sangat senang,” Jesslyn membungkuk dan terlih

