Karina sudah menyeberang jalan. Ia berdiri di depan gedung kaca yang memantulkan bayangannya sendiri. Tatapannya terpaku pada pintu masuk studio itu, dingin, berkilau, dan asing. Jantungnya berdegup keras. Itu tidak mungkin… Olivia sudah tiada bertahun-tahun lalu. Namun mengapa tadi, ia melihat wajah yang sama persis? Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu melangkah masuk. Aroma parfum bercampur bau lampu panas dan hairspray memenuhi udara. Beberapa kru masih sibuk membereskan alat, fotografer menatap layar komputer sambil berdiskusi kecil. “Permisi,” suara Karina terdengar tenang, meski ada getar samar di ujungnya. Semua kepala serentak menoleh. “Apa aku bisa bertemu dengan Emma?” Salah satu kru menghampiri. “Maaf, Nona Emma sudah pulang. Oh, Tuhan… bukankah kau Kar

