Suasana ruang latihan dipenuhi dentuman sepatu dan bunyi napas yang berat. Jesslyn baru saja tiba, tongkatnya menapak lantai dengan ritme pelan. Pandangan tajam langsung menyambutnya, mata-mata penuh kebencian dari Maria Lenox dan gengnya. Maria menyipitkan mata. Mereka tak senang karena Jesslyn masih bisa bergerak bebas. Sepertinya luka yang dia dapatkan tidak cukup untuk membuatnya jera apalagi luka itu sepertinya sudah akan sembuh sebentar lagi. “Sepertinya pelajaran kemarin belum cukup,” desis salah satu gadis pengikut Maria, senyumnya menyeringai kejam. “Benar. Kalau hanya luka kecil, dia tidak akan kapok. Mungkin dia akan berhenti kalau kakinya patah,” sahut yang lain, menyalakan api di dalam hati Maria. Maria menoleh, sorot matanya menyala dingin. “Jadi kalian ingin aku mematahk

