Jesslyn sedikit kehilangan fokus saat sesi pemotretan berlangsung. Beberapa kali ia melakukan kesalahan, terjatuh, salah arah, dan sempat terkilir ketika mencoba melompat sambil mengangkat satu kaki. Namun, fotografer yang memotret hari itu cukup ramah. Alih-alih marah, ia justru memintanya untuk beristirahat beberapa menit. Jesslyn duduk di sudut ruangan, memijat kakinya yang terasa nyeri. Dia mengembuskan napas panjang. Tidak seharusnya aku melakukan kesalahan seperti ini... Dia tahu, pikirannya tidak di tempat itu. Dia sedang memikirkan Levin. Malu, karena mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaannya. Padahal kemarin semuanya berjalan sempurna. Hari ini, ia benar-benar merasa tidak profesional. “Jesslyn, apa kau sudah siap?” suara salah satu kru memanggilnya. Ia mengangka

