Matahari menembus tirai kamar yang setengah terbuka. Cahaya hangat menimpa sisi ranjang yang kosong, tak tersentuh semalaman. Jesslyn terbangun dengan mata sembab. Pandangannya langsung tertuju pada sisi ranjang tempat Levin biasa tidur. Bantal itu masih rapi. Menandakan tidak dipakai sana sekali. Ia menatapnya lama, berharap mungkin Levin hanya keluar sebentar, atau sedang membuat sarapan. Dan bisa saja, dia sedang berada di kamar mandi. Tapi saat melihat jam di meja — sudah pukul 07.30 pagi, rasanya mustahil Levin berada di rumah. Apakah karena marah jadi tidak mau membangunkannya? Rasa cemas menjalari dadanya perlahan. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang masih terasa berat oleh tangis semalam. Dia bertanya dalam hati. Begitu besarnya kah kesalahan yang dia lakukan

