Hening. Udara di dalam kamar seolah menebal, membungkus mereka berdua dalam keheningan yang mencekik. Levin masih berdiri mematung, pil kecil itu tergenggam erat di tangannya. Jemarinya menegang, rahangnya mengeras. Jesslyn tahu, dia tidak bisa menghindari hal itu. Dia pasti akan menjelaskan, dan dia harap Levin mau mengerti. “Apa tidak ada yang ingin kau katakan, Jesslyn?” suaranya dalam. Dadanya bergemuruh, menahan amarah. “A-aku akan menjelaskannya,” Jesslyn memberanikan diri untuk mendekat. Tapi melihat rupa suaminya yang menakutkan, membuatnya menghentikan langkah. “Kau memang harus menjelaskannya!” Bentak Levin. Jesslyn terkejut, tubuhnya gemetar dan langkahnya justru kembali mundur ke belakang. “Sejak kapan kau mengkonsumsi obat ini, Jesslyn,” suaranya bergetar. Dia terlih

