Malam turun perlahan ketika Jesslyn tiba di rumah. Angin lembut berembus dari taman kecil di halaman depan, membawa aroma bunga melati yang baru mekar. Begitu pintu terbuka, hangatnya cahaya dan aroma masakan segera menyambutnya. “Sudah pulang?” suara bariton yang begitu dikenalnya terdengar lembut dari arah dapur. Levin berdiri di sana, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Tatapan matanya hangat, dan di meja makan, hidangan tersaji rapi: sup krim jagung, pasta, steak lembut, dan segelas anggur merah yang menunggu untuk disentuh. Jesslyn tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut. “Levin… kau menyiapkan semua ini?” tanyanya lirih. Levin tersenyum samar, mendekat lalu menyentuh pipinya dengan lembut. “Aku hanya ingin melihatmu tersenyum setelah hari yang panjang. K

