Ruang tamu itu begitu megah, dengan langit-langit tinggi, lampu kristal yang berkilau, serta perapian marmer yang menyala hangat. Jesslyn duduk di salah satu sofa empuk, tubuhnya yang masih menggigil kini terbalut gaun kasual sederhana milik seorang wanita yang dia duga itu bekas mantan istri Levin yang masih tinggal di rumah itu. Tidak ada foto pernikahan, tidak ada foto kebersamaan Levin dengan mantan istrinya padahal dia sangat penasaran. Levin duduk di seberangnya, bersandar tenang dengan secangkir kopi baru di tangan. Tatapannya tak pernah lepas dari Jesslyn, membuat gadis itu gelisah. “Tidak menduga kau akan datang lebih cepat padahal masih ada waktu,” ujar Levin, suaranya berat, penuh tekanan. “Apa keadaan sudah begitu genting, hingga kau rela datang dalam keadaan basah kuyup sep

