Langit di atas Rumah Sakit St. Mary tampak kelabu, seolah turut berduka atas pagi yang diselimuti kecemasan. Rintik hujan jatuh perlahan, membasahi taman kecil di depan lobi, menciptakan aroma tanah basah yang samar menyatu dengan udara dingin. Jesslyn turun dari mobil dengan langkah tergesa, mantel Levin masih melingkupi bahunya. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan. Levin menyusul di belakang, menutup pintu mobil dengan cepat dan menggenggam tangan istrinya yang bergetar. “Tenanglah,” ucapnya lembut, “kita sudah sampai.” Namun Jesslyn tak mendengar. Ia berjalan cepat melewati lorong rumah sakit, diiringi aroma tajam antiseptik dan langkah tergesa para perawat. Setiap langkahnya terasa berat, seolah menapaki jalan menuju ketakutan yang semaki

