Sore itu, Levin menepati janjinya. Segalanya telah dipersiapkan dengan rapi. Sebuah tikar besar terbentang di bawah pohon rindang di tepi danau, keranjang piknik berisi makanan ringan, serta dua gelas kaca yang berkilau diterpa cahaya matahari. Jesslyn sempat tertegun saat melihat pemandangan itu. Tidak pernah terbayangkan olehnya, pria seperti Levin, dingin dan penuh obsesi, mampu menyiapkan sesuatu yang sederhana namun begitu hangat. “Aku tidak menyangka kau bisa menyiapkan ini,” ucap Jesslyn sambil menurunkan tas kecil dari bahunya. Levin menatapnya sambil tersenyum samar. “Aku bisa melakukan apa saja, asal itu untukmu.” Jesslyn terdiam. Kata-kata itu, meski sederhana, terasa menembus lapisan benteng yang ia bangun di hatinya. Ia lalu duduk di atas tikar, membiarkan hembusan angin m

