Dengan tangan gemetar, Jesslyn meraih gelasnya kembali. Air di dalamnya ikut bergetar saat dia meneguknya, berusaha menenangkan diri. Napasnya cepat, wajahnya pucat. Tatapannya masih terpaku pada Levin yang duduk santai di seberangnya, seolah semua itu bukan masalah besar. "Jadi, kau bekerja sama dengan ayahku hanya supaya aku mengenalmu sebagai calon suamiku?" Levin tidak menyangkal. Ia hanya menatap Jesslyn dengan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh ketegangan yang menggantung di udara. "Ya, aku memang melakukannya. Aku ingin kau tahu, bahwa aku serius ingin memiliki dirimu," katanya lembut. "Aku tidak main-main, Jesslyn. Aku ingin menikahimu." Jesslyn tertawa miris. Tawa yang terdengar seperti dentingan gelas retak. "Menikahiku? Apa kau sadar betapa mengerikannya ini terdengar?"

