Outhor POV
"Jayyid kapan kamu kembali ke pondok?" tanya pak Herman Bapak nya Jayyid
"insya Alloh besok aku berangkat pak, tapi aku mampir dulu ke Bandung ada mau cari barang-barang baru buat di toko ku, mungkin dua sampai tiga hari di bandung"
"baik lah, terus untuk toko kamu sendiri bagaimana perkembangan nya?"
"alhamdulillah Rame pak, aku sudah buka cabang di dekat kampus negeri, sekaligus dengan cafe nya malah"
"syukurlah kalo gitu, bapak hanya bisa mendoakan, oh ya wisuda mu kapan jadinya?"
"insya Alloh ga sekitar satu bulanan lebih sedikit pak"
"eem nanti kalo bapak ga sempat hadir ga apa-apa ya? Soal nya mungkin sekitar bulan depan bapak ada tugas di daerah Sumatra" ucap Bapak Jayyid kecewa
"iya ga apa-apa pak, Jayyid bisa ngerti kok"
"ya terima kasih Jayyid"
"oh ya pak, setelah wisuda nanti aku rencana nya ingin mengkhitbah seorang akhwat.. apakah bapak mengijinkan?
"Yid bapak ingin kamu melanjutkan S-2 dulu baru memikirkan untuk menikah agar kamu bisa menjadi Dosen seperti cita-cita bapak lagian kan S-2 itu ga lama Yid paling 2 tahun, baru kamu menikah."
"tapi pak, akhwat nya ga mungkin menunggu selama itu, nanti keburu di khitbah orang lain" ucap Jayyid dengan nada kecewa
"Yid kamu mau kan memenuhi cita-cita bapak mu ini?"
"pak.. Jayyid cukup S-1 saja... Jayyid pengen mengajar di Aliyah saja dan menjalankan usaha yang sudah Jayyid rintis, biar nanti Zia dan Randi yang sampai S-2"
"coba kamu pikir-pikir lagi yid omongan bapak"
"Baik lah pak, tapi seperti Jayyid tetap tidak akan mengambil S-2 pak, maafkan Jayyid" ucap Jayyid lirih
sambil meninggal bapak nya di ruang keluarga.
********
Hari ini Jayyid akan berangkat ke bandung untuk mencari barang-barang model baru untuk toko nya.
Jayyid berpamitan dengan ibu dan Bapak nya sedangkan ke dua adik nya sedang bersilaturahmi ke rumah nenek mereka.
"ibu, bapak Jayyid berangkat dulu ya mohon Doa nya agar Jayyid di beri kemudahan dan kelancaran"
"iya nak ibu pasti Doakan kamu, jangan lupa tahajud sama senin-kamis nya ya nak... ibu senang kamu sudah banyak perubahan pulang kali ini"
"iya bu..."
"nak kalo gadis yang mau kamu khitbah itu sholehah ibu dukung kamu, nanti ibu bicarakan lagi dengan bapak mu"
"iya bu terima kasih" Jayyid pun mencium tangan ibu nya dan beralih ke pada pak Herman
"pokok nya bapak mau S-2 dulu baru nikah"
"udah toh pak.. kalo gadis yang mau Jayyid khitbah sholehah harus nya kita dukung.. harus nya bapak seneng Jayyid udah bisa lebih baik dari sebelum"
"udah ah jangan ribut udah jam sembilan nih nanti aku ketinggalan kereta pak-bu" Jayyid pun mencium tangan pak Herman
"assalamualaikum" ucap Jayyid sambil melambaikan tangan ke pada kedua orang tua nya
"waalaikussalam hati-hati" ucap kedua orang tuanya.
Dalam perjalan Jayyid masih memikirkan permintaan bapak nya agar dia melanjutkan S-2 nya, namun Jayyid pun tak ingin sampai di dahului oleh orang lain dalam mengkhitbah Rahmah, karena dia sadar gadis seperti Rahmah pasti banyak yang mengingkan nya untuk di jadikan istri.
"apa aku coba ceritakan kepada Rahmah saja ya barang kali dia bisa berikan masukan. lagi pula aku sudah lama tak komunikasi dengan nya.. sejak aku akan sidang dan selama liburan anak-anak santri yang hampir satu bulan ini. baik lah aku chat aja Rahmah...bissmillah" ucap Jayyid dalam hati
"asslamualaikum, apa kabar Rahmah?'
"ada yang aku sampaikan ke kamu"
"oh ya aku mungkin dua hari lagi baru sampai ke madrasah soal nya aku mau cari barang-barang dulu untuk toko"
"barang kali kamu mw titip sesuatu kabarin aja ya"
setalah bolak-balik Jayyid melihat handpone nya menunggu jawaban dari pesan yang dikirim ke Rahmah tak mendapat balasan akhirnya Jayyid memutuskan untuk tidur, Jayyid berfikir mungkin Rahmah sedang sibuk mengajar karena hari ini adalah hari pertama dia masuk mengajar"
******
Rahmah merasa berat untuk berangkat ke madrasah hari ini, dia masih bingung karena belum mendapatkan jawaban atas istikharah nya. namun tadi selesai sholat shubuh Rahmah mendapat pesan singkat bahwa jam sepuluh siang ini dia di tunggu oleh ustadz Zakaria dan akan di pertemukan dengan Rizki dan harus memberikan jawaban nya.
"assalamualaikum Rahmah" sebuah suara menyapa Rahmah ketika dia sudah sampai di parkiran motor gedung santri putri
"walaukumussalam" ucap Rahmah sambil menaruh helm di motornya dan melihat ternayata yang menucapkan salam adalah mba Rois.
"ada jam ngajar hari ini Rahmah?" tanya mba Ros setelah berada di dekat Rahmah
"ga ada mba, saya di panggil sama ustadz Zakaria."
"kamu harus kasih jawaban hari ini ya Rahmah? kamu dah dapat jawaban dari istikharah mu?" ucap mba Rois sambil menatap sendu Rahmah
"belum mba, makanya sejujurnya aku masih bingung mba, tapi---" Rahmah tak dapat melanjutkan ucapan nya hanya suara tangis yang keluar dari Rahmah mba Rois pun memeluk Rahmah untuk memberikan ketenangan
"Jayyid ga pernah hubungi kamu?" ucap mba Rois sambil mengusap lembut punggung Rahmah
"enggak mba" ucap Rahmah masih dalam pelukan mba Rois
"kamu juga ga pernah mengubungi nya" tanya mba Rois sambil melepaskan pelukan nya karena tangisan Rahmah sudah berhenti
Rahmah hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"mba tau gimana kabar nya Jayyid?
"mba juga ga tau Rahmah, semenjak liburan ga pernah komunikasi lagi"
"aduh-aduh.. ada drama apa nih... apa ada kucing tetangga yang mati ya" ucap mas Tuslim yang ternyata sudah dari tadi ada di parkiran tanpa di sadari oleh Rahmah dan mba Rois.
"sejak kapan ada disini mas Taslim?" tanya mba Rois yang melihat ternyata tidak hanya ada mas Taslim tapi juga Rizki
"ya dari tadi lah... habis kalian peluk-pelukan dah kaya tetetubis" jawab mas Taslim sambil tertawa kecil.
"Oh kalian sudah ada disini.. silahkan masuk.. mas Taslim dan mba Rois seklian ikut saja"
suara ustadz Zakarian dari teras rumah nya"
"baik ustadz" ucap mas Taslim
setelah ada di dalam rumah ustadz Zakarian yang ternyata juga di dalam sudah ada ustadz Yahya dan Bu Ningsih istri dari Ustadz Yahya Rahmah duduk di samping mba Rois sedangkan mas Taslim duduk di samping Rizki.
"alhamdulillah sudah berkumpul semua disini, mas Taslim dan mba Rois bisa sekalian ikut menjadi saksi ya" ucap ustadz Zakaria
"maaf ustadz saksi apa ya, kalo saya boleh tau? ucap mas Taslim yang merasa bingung karena tidak paham apa yang di sampaikan ustadz Zakaria.
"begini mas Taslim, sebelum liburan ustadz Zakari sudah menyampaikan ke Rizki dan Rahmah bah kami akan menjodohkan mereka berdua dan hari ini adalah hari mereka memberikan jawaban" pertanyaan mas Taslim di jawab oleh ustadz Yahya
"HAAAH, eh maaf ustadz" ucap mas Taslim kaget tidak menyangka perjodohan ini, padahal setau nya mas Taslim Jayyid lah yang sering memberikan perhatian kepada Rahmah.
mas Taslim mengarahkan pandangan nya ke mba Rois yang di jawab endikan bahu mba Rois yang memeliki bahwa mba Rois tak bisa berbuat apa-apa.
"baik kalo sudah paham semua saya akan langsung beratanya kepada Rizki, bagaimana Rizki apa kamu bersedia dengan perjodohan ini?" ucap ustadz Zakaria kepada Rizki
"insya Alloh saya siap dan bersedia ustadz" ucap Rizki sambil mengembangkan senyum nya.
"alhamdulillah Rizki sudah bersedia, lalu bagaimana jawaban nya dengan Rahmah?" ucap ustadz Zakaria yang kini menanyakan jawabannya kepada Rahmah.
"maaf ustadz sebelum saya memberikan jawaban, saya memiliki pertanyaan untuk Rizki, apakah boleh ustadz" ucap Rahmah tegas.
"silahkan" ucap ustadz Zakaria
"maaf mas Rizki jika saya menyetujui perjodohan ini kapan mas Rizki akan datang ke rumah saya untuk mengkhitbah saya?"
"bagaimana Rizki?" ucap ustadz Zakaria kepada Rizki
"eeemm insya Alloh bulan depan" ucap Rizki yang di tangkap oleh Rahmah ada keraguan dalam ucapan Rizki tersebut.
"baik ustadz, selanjutnya saya ada 2 permintaan untuk ustadz, Rizki dan semua yang ada disini" ucap Rahman melanjutkan
"apa itu" ucap Rizki dengan ekspresi sedikit kaget karena tak menyangka Rahmah mengajukan permintaan
"tenang mas Rizki, permintaan saya tak akan memberatkan kamu" ucap Rahmah yang melihat ekspresi Rizki
"pertama, saya ingin perjodohan ini di rahasiakan sampai Rizki datang untuk mengkhitbah saya.
"kedua, jika sebelum saya di khitbah iada hal yang membuat saya tidak dapat meneruskan perjodohan ini maka saya boleh membatalkan perjodohan ini begitupun sebalik nya apabila Rizki merasa ada sesuatu yang membuat Rizki merasa tidak dapat melanjutkan perjodohan ini maka Rizki boleh membatalkan nya. karena sejatinya ini baru sekedar perjodohan belum sampai mengkhitbah jadi tidak ada ikatan apa-apa antara saya dengan Rizki dan sebetul nya menurut saya waktu satu bulan itu terlalu lama, tapi tidak apa-apa saya menyetujui nya ustadz. itu saja permintaan saya" ucap Rahmah panjang kali lebar kali tinggi namun tegas.
"bagaimana Rizki apa kamu setuju dengan permintaan Rahmah" tanya ustadz Zakaria kepada Rizki.
"iya ustadz saya setuju dengan permintaan Rahmah" jawab Rizki pelan.
"baik ustadz karena Rizki setuju dengan permintaan saya maka saya menyetujui perjodohan ini"
"alhamdulillah kalo begitu, semoga semua nya di lancarkan. aamiin" ucap ustadz Zakaria
"aamiin" ucap semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"baik kalau begitu kalo behitu terima kasih atas waktu nya ustadz Yahya, Bu Ningsih, mas Taslim dan mba Rois, kalo ada kepentingan silahkan boleh keluar duluan" ucap ustadz Zakaria.
******
Rahmah POV
setelah sholat dzuhur di masjid komplek gedung putri, aku memutuskan untuk beristirahat di asrama putri tepat nya di kamarnya mba Rois, entah mengapa aku merasa lelah sekali hari ini padahal aku belum ada kelas mengajar hari ini, ya mungkin lelah ku ini karena lelah pikiran ku. aku masih belum dapat mempercayai bahwa Rizki akan mengkhitbah ku di bulan depan, ku pikir setelah mendapat jawaban dari perjodohan ini Rizki akan mengkhitbah ku satu miggu kemudian, kenapa harus menunggu selama itu ya Rabb semoga keputusan ini adalah yang terbaik dan mendapatkan ridho mu.
"assalamualaikum" ucap mba Rois sambil masuk kedalam kamar
"walaikumussalam"
"kamu mba telpon beberapa kali kok ga di angkat?"
"oh maaf sepertinya handpone ku di silent mba" ucap ku sambil mengeluarkan handpone dari saku gamis ku dan setelah kulihat ternyata ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari mba Rois dan ada pesan dari Jayyid juga kemudian ku buka pesan dari Jayyid di aplikasi berwarna hijau.
"asslamualaikum, apa kabar Rahmah?'
"ada yang aku sampaikan ke kamu"
"oh ya aku mungkin dua hari lagi baru sampai ke madrasah soal nya aku mau cari barang-barang dulu untuk toko"
"barang kali kamu mw titip sesuatu kabarin aja ya"
membaca pesan dari Jayyid membuat ku terdiam sejenak dan bermonolog dalam hati "tumben Jayyid mengirimi aku pesan bukan kah sudah sekitar satu bulan dia tidak pernah menghubungi ku, tapi aah.. siapa aku, kita tidak ada hubungan apa-apa jadi wajar kalau dia tak mengirimi aku pesan, tapi sejujur nya ada perasaan senang dalam hati ku... aaah astaghfirullah aku tidak boleh memikirkan nya aku harus menghargai perjodohan yang sudah aku terima ini.. ya walaupun aku belum di khitbah"
"hey Rahmah kok malah ngelamun sih...." ucap mba Rois kesal karena melihat Rahmah yang malah melamun saat diajak bicara.
"eemm anu E-enggak ko mba... ini lagi baca pesan aja" ucap ku gugup
"pesan dari siapa?, dari mba Lina? kamu di suruh pulang?"
"bukan mba, dari Jayyid?" lalu aku pun menyerahkan handpone ke mba Rois agar mba Rois bisa ikut membaca nya.
"astagfirullah" ucap mba Rois lirih setelah melihat isi pesan nya..
"kenapa mba?" tanya ku karena mba Rois tiba-tiba beristighfar saat membaca pesan ku.
"Rahmah, mba mau tanya boleh?"
"tanya apa mba?"
"di pesan itu kan Jayyid bilang ada yang mau di sampaikan ke kamu, seandainya di menyatakan perasaan nya ke kamu dan mengatakan akan mengkhitbah mu bagaimana?"
DEG
"kenapa aku ga berpikir sampai kesana" gumam ku dalam hati dan tmengapa hati ku terasa sakit....
"A--aku akan menolak nya baik-baik mba.. dan mungkin aku akan merekomendasika wanita yang jauh lebih baik dari aku kepada Jayyid karena aku harus menghargai perjodohan ini walaupun saat ini aku belum bisa mencintai Rizki tapi aku yakin setelah dia mengkhitbah aku aku bisa membuka hati ku untuk nya" ucap ku ragu sambil menahan agar air mata agar tak keluar
dari mataku, entah mengapa tiba-tiba mata ku teraa panas.
"mengapa kau terlambat Jayyid.. ya Alloh aku ikhlas dengan takdir ku, aku hanya memohon yang terbaik kepada mu ya Rabb" gumam dan doa ku dalam hati
"kamu yang sabar ya... mba doa kan kamu mendapatkan yang terbaik. jangan lupa untuk mengadu sama Alloh untuk setiap masalah mu, karena Alloh itu sebaik-baik nya tempat mengadu dan teruskan istikharah mu Rahmah masih ada waktu satu bulan"
"iya mba... makasih ya mba.. mba selalu support aku"
"sama-sama Rahmah.. mba siap denger cerita kamu.. kamu ga usah ragu buat cerita kalo ada apa-apa"
"iya mba..makasih. kalo gitu aku pulang dulu ya aku mau sholat ashar di rumah saja"
"ya udah kamu hati-hati ya"