Jayyid POV
Jam di dinding sudah menunjukan jam dua lewat tiga puluh dini hari ah.. rasa aku tidur baru sebentar tapi tau-tau udah jam segini aja ku lihat Parsan dan mas Taslim sudah tidak ada di kamar, pasti mereka sudah berangkat ke masjid untuk bertahajud, mereka memang sangat rajin bertahajud.. aku pun yang sejak lulus tak pernah lagi tahajud kecuali bulan Ramadhan mulai mengikuti kebiasan mereka. tak bisa ku pungkiri ke dua makhluk itu memberikan dampak positif bagi kehidupan ku sekarang ini.. tapi mengapa mereka tak membangunkan ku. padahal biasa aku di bangunkan. apa karena aku baru sampai semalam, sehingga mereka menganggap ku lelah setelah perjalanan dari Bandung.
Mulai tahun ajaran baru ini aku mendapat tugas mengajar untuk mengajar kelas dua belas IPS, sedangkan untuk kelas dua belas IPA yang mengampu adalah Rahmah. ada tantangan tersendiri bagi ku untuk mengajar kelas dua belas karena aku punya tanggung jawab harus membuat murid-murid ku mendapatkan nilai yang memenuhi syarat untuk kelulusa, karena mata pelajaran yang aku pegang adalah Matematika yang merupakan. karena aku dan Rahmah sama-sama mengampu mata pelajaran matematika kelas dua belas ustadz Zakaria meminta ku dan Rahmah untuk sharing mengenai metode pelajaran yang efektif, karena kami berdua sama-sama baru pertama kali mengajar kelas dua belas. Tapi aku merasakan ada yang berbeda dari sikap Rahmah setelah dua minggu aku kembali dari liburan kemarin. pertama dari dia yang tak membalas pesan ku ketika aku dalam perjalanan ke Bandung kemudian akhir-akhir ini jika bertemu ada kesan sepertinya dia menghindar dari ku, jika bicara pun hanya seperlu nya saja. apakah aku ada salah.. ah engga juga kayanya,, tapi mungkin memang seharus nya seperti itu karena dia dan aku bukan mahram jadi aku mencoba untuk berpositif tinking aja kali ya...
"assalamualaikum Jayyid" ucapa mas Taslim menyapa ku yang sedang duduk sendiri di teras masjid
"waalaikumussalam mas Taslim"
"lagi ngapain sampeyan disini sendirian mas" tanya mas Taslim pada ku
"biasa mas ngadem aja.. sama cari inspirasi" jawab ku sambil tersenyum.
"udah makan belum, cari makan yuk" aja mas Taslim
"boleh ayu... tapi makan apa nih.. bakso aja gimna mas?"
"siiip yo jalan"
saat sampai di warung bakso l*******n kami, aku melihat di dalam sudah ada Rahmah dengan mba Rois dan yeni aku pun menyapa mereka bertiga. setelah itu aku dan mas Taslim memilih meja berjarak satu meja dengan meja meraka dan kami memesan bakso dan minum untuk kami berdua.
aku melihat ke arah Rahmah dan sesaat kami saling menatap namun sejurus kemudian kami saling menundukan pandangan kami, tapi tak lama setelah itu aku melihat Rahmah pergi sendri keluar dari warung bakso padahal bakso dan minuman yang dipesan nya belum habis... aku menatap heran kepergiannya "Ya Rabb aku punya salah apa sama dia.. kalo memang menjaga jarak menurutku, aku dan dia tidak berdekatan... aku pun sudah memilih meja yang lebih jauh dari meja nya dan disini tidak hanya aku dan dia berdua saja ada mas Taslim dan yang lain... tapi kenapa dia tiba-tiba pergi setalah melihat ku... apa dia merasa jijik dengan ku, apa aku tanyakan saja padanya.. aku telpon saja" monolog ku dalam hati
"mas... hoy... itu bakso pesenan dah sampe... dimakan jangan ngelamun aja tar keburu dingin" ucap mas Taslim membuyarkan lamunan ku.
bukan nya aku makan bakso ku, aku malah berdiri dan mengahampiri mba Rois dan yeni di meja nya
"maaf mba saya boleh tanya ses---"ucap ku tanpa basa-basi saat sudah ada di depan meja mba Rois
"kamu mau tanya kenapa dia menghindari kamu? kamu tanya saja langsung ke dia bisa lewat telpon atau kamu ketemu langsung. tapi kalo mau ketemu langsung kamu ajak teman jangan hanya berduan biar ga ada fitnah. karena mba ga bisa jawab pertanyaan kamu" ucap mba Rois panjang dengan wajah sendu setelah memotong pertanyaan ku"
"oke deh kalo gitu mba, maksih mba" ucap ku kemudian aku keluar dari warung bakso itu..
"woy mas... bakso nya belum di makan" teriak mas Taslim yang melihat ku keluar tanpa memakan pesanan ku
Tanpa ku sadari ada sepasang mata yang semejak tadi terus memperhatikan pandangan nya ke arah ku.
******
Author POV
jam di dinding sudah menunjukan jam 8 malam, namun Jayyid masih merasa gelisah.. pikiran masih melayang memikirkan mengapa Rahmah seakan jijik melihat nya.. ada keslahan apa dengan nya. bahkan telpon Jayyid semenjak tadi siang pun tidak di angkat, pesan Jayyid pun tidak di balas.
"baiklah aku akan kirim pesan sekali lagi, jika tidak di balas besok aku akan menemui nya"
Jayyid :
"assalamualaikum, Rahmah"
Jayyid :
"maaf mengganggu kamu malam-malam,"
"maaf Rahmah, apa aku punya salah ke kamu, sehingga kamu seperti menjauhi ku, jika ingin sekedar untuk menjaga jarak karena aku bukan mahram mu, aku bisa mengerti. tapi sikap menghindar mu ini ku rasa berlebihan dan menurut ku ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku? maaf jika aku menerka-nerka hal itu."
Jayyid :
"oh ya terkait pesan ku kemarin bahawa ada yang ingin aku bicarakan dengan mu sebetul nya aku ingin meminta ijin mu untuk datang kerumah mu karena aku ingin mengkhitbah mu"
setelah menunggu sekitar setengah jam namun tidak ada balasan pesan dari Rahmah, akhirnya Jayyid memilih untuk merebahkan tubuh nya di lantai yang beralaskan sebuah karpet bergambar pesawat.
ketika Jayyid baru saja akan memejamkan mata nya tiba-tiba handpone nya berbunyi, Jayyid pun melihat handphone dan dia melihat ada pesan masuk dari Rahmah, senyum pun terukir di wajah nya sehingga dia segera membuka pesan masuk tersebut
Ting
Rahmah :
"waalaikumussalam"
Rahmah :
"maaf Jayyid aku ga bisa, kamu bisa cari wanita yang lebih baik dari aku"
Rahmah :
"insya Alloh aku sudah ada yang punya"
DEG
Jayyid terkejut setelah membaca pesan dari Rahmah serasa ada batu besar menimpa d**a nya.
"Rahmah dah ada yang punya? siapa? apa ada yang sudah mengkhitbah nya? Ya Rabb apa dia bukan jodoh ku?" jika memang bukan maka jauhkan lah namun jika dia jodoh ku maka dekatkan lah" gumam ku lirih.
*******
selesai sholat shubuh dan membaca Al-qur'an Jayyid membuka laptop nya untuk mengecek laporan mingguan toko yang di kirim pegawai nya, karena hari ini Jayyid full mengajar sampai siang dan setelah itu akan kempus untuk mengambil pakaian wisuda nya karena waktu wisuda tinggal dua minggu lagi
Jayyid mengecek secara detail barang yang masuk dengan barang yang keluar serta angka-angka yang merupakan keuntungan yang di dapat dari toko nya.
"Alhamdulillah" ucap nya lirih.
Jayyid memijat pelipis nya, tiba-tiba dia teringat lagi pesan yang dikirim oleh Rahmah semalam, "baiklah, aku kan bersikap seolah tidak ada apa-apa" gumam Jayyid dalam hati. Jayyid mengambil handpone nya kemudian diam sejenak lalu dia mengetik sesuatu di handpone nya.
Jayyid :
"assalamulaikum Rahmah, lagi sibuk ga?"
Rahmah :
"waalaikumussalam, enggak. ada apa?"
Jayyid :
"aku mau pinjam, buku soal-soal kelas dua belas"
Rahmah
"loh kamu kan pegang nya dua belas IPS masa mau pinjam punya aku, kan punya aku IPA"
Jayyid :
"iya, soal nya kalo aku liat di buku soal-soal dua belas IPS tingkat kesulitan nya masih rendah, jadi aku mau pinjam yang dua belas IPA, karena menurut ku kalo dua belas IPA tingkat kesulitan nya lebih tinggi. kan ada beberapa yang materi nya sama, nanti akan aku bahas di kelas dua belas IPS supaya nanti mereka terbiasa dengan soal-soal yang lebih sulit.
Rahmah :
"oh gitu.. ya bagus juga tuh yid. ya udah nanti aku pinjam kan"
Jayyid :
"oke terima kasih ya"
Rahmah :
"sama-sama"
Jayyid :
"jangan lupa sarapan"
Rahmah :
"iya, kamu juga"
Jadwal mengajar Jayyid hari ini sudah selesai, hari ini Jayyid mengajar semua kelas dua belas IPS, Jayyid membahas soal-soal yang hari ini di pinjam dari Rahmah, Ya tadi pagi Jayyid sudah bertemu dengan Rahmah di kantor madrasah dan Jayyid maupun Rahmah sama-sama bersikap seperti biasa nya tidak ada kecanggungan antara mereka berdua.
"Assalamualaikum Rizki" ucap Jayyid saat melihat Rizki di ruang tunggu mengajar.
"waalaikumussalam"
"ada jam ngajar?" tanya Jayyid
"iya tadi, tapi udah selesai, ini lagi nunggu santri ngumpulin tugas, kamu masih ada jam lagi yid?"
"ga ada Ki, udah selesai, ini aku mau balik ke mess"
"oh ya Yid, kamu kemarin pas camping kamu ambil foto kegiatan kan?"
"oh iya... ada banyak di handpone ku" ucap Jayyid sambil Jayyid mengeluarkan handpone dari saku celana
"aku minta dong.. buat kenang-kenangan, tapi yang ada gambar akunya aja"
"ooh... ya udah kamu pilih sendiri nih, aku mau ke toilet dulu" ucap Jayyid sambil menyerahkan handpone nya ke Rizki
"password nya apa nih Yid?"
"ga ada langsung geser aja" ucap Jayyid kemudian berjalan menuju toilet guru.
setelah Jayyid kembali dari toilet Rizki mengembalikan handpone Jayyid dan Jayyid pun berangkat ke kampus seperti yang dia rencanakan tadi pagi.
******
Jayyid POV
hari ini adalah aku tidak ada jadwal mengajar, jadi aku lebih memilih untuk di kamar saja dan mengerjakan pekerjaan ku yang berkaitan dengan usaha toko ku. "Minggu depan aku wisuda, tapi sepertinya semua ga bisa sesuai rencana ku" ucap ku lirih sambil tersenyum getir teringat pada semua rencana ku beberapa minggu lalu.
DREET DREET DREET handpone ku yang ada di samping laptop bergetar, ku lihat sebuah nama yang muncul di layar handpone ku, Yogi. Dia sahabatku yang di kampus tapi kami beda program studi. dia sudah lulus lebih dulu, ya dia lulus kuliah empat tahun sedangkan aku lulus empat setengah tahun, benar-benar mahasisawa teladan kan aku... hehehe.
ku geser tombol hijau di layar handpone
"hallo bro apa kabar... lama amat angkat telpon nya" ucap suara cempreng di sebrang sana.
"Assalamualaikum... salam dulu napa bro" ucap ku
"eeh iya iya.. assalamualaiku bro"
"walaikumussalam..."
"emang ya kalo udah jadi guru di madrasah pondok mah beda, tapi bagus juga sih.. gimana kabar loe bro." ucap yogi
"alhamdulillah kabar gue baik, loe sendiri gmn? sukses ya udah ngajar di sekolah swasta favorit sekarang"
"alhamdulillah bro gue juga baik, berkat doa loe juga Yid"
"syukur deh... eh ngomong-ngomong ada apa nih telpon gue jam segini.. emang ga najar loe?"
"lagi ga ada kelas gue bro... gini bro, gue mau nawarin loe kerjaan nih"
"kerjaan apaan?
"jadi guru di sini.. di tempat gue ngajar... kebetulan salah satu guru matematika disini ada yang mau resign bro"
"ooh kayak nya ga deh bro.. kan loe tau gue dah jadi guru di madrasah ini bro"
"ya elah bro... enakan juga disini bro.. gaji nya gede, fasilitas nya oke.. pokok nya banyak plus nya lah di bandingn loe ngajar disitu, lagian nih ya bro.. entarkan kita bisa sering nongkrong bareng kaya dulu"
"eemm gimana ya... kalo secara materi sih emang menggiurkan tawaran loe Yog, tapi---"
"udah lah ga usah pake tapi-tapian Yid" ucap Yogi memeotong ucapan ku
"ya gue pikir-pikir dulu deh"
"duh bro... ga usah pake mikir segala lah.. udah pokok nya loe kirim surat lamaran sama CV loe.."
"tapi kan ijasah gue belum ada bro, terus gue juga ga bisa ninggalin sekolah ini begitu aja. paling engga tunggu ganti semester"
"masalah ijasah gampang nyusul kalo loe dah ambil tuh ijasah dari kampus, terus loe mulai ngajar nya juga semester depan karena guru yang mau resign itu juga harus nyelesei semester ini dulu.
"oke deh besok gue kirim lamaran sama CV gue"
"oke siiip, gue tunggu bro.. ya udah gitu dulu ya bro.. jaga diri baik-baik.. jangan kangen-kangen sama gue"
"rese loh"
"ya udah assalamulaikum"
"waalaikumussalam"
tut tut tut
setelah selesai menerima telpon dari Yogi, terdengar sesorang mengetuk kamar ku dan mengucapkan salam dan masuk kedalam kamar.
"assalamualaikum" ucap mas Taslim sambil masuk kedalam kamar.
"waalaikumussalam, udah selesai ngajar nya mas" ucap ku
"udah.. oh ya mas Jayyid., ada pesan dari Bu Ningsih, kamu suruh ke rumahnya, tadi aku ketemu pas selesai ngajar di gedung putri"
"aku,,, ada apa ya mas?"
"ga tau"
"kapan aku di suruh kesana nya?"
"habis Dzuhur"
"ya udah nanti aku kesana"
**********
"maaf Bu, tadi mas Taslim bilang ke saya kalo saya di suruh kesini" ucap ku pada Bu Ningsih, ya saat ini aku sudah ada di rumah Bu Ningsih dan sedang duduk di dalam ruang tamu nya Bu Ningsih dan Bu Ningsih dampingi oleh Adik nya"
"begini Jayyid Ibu langsung aja ya..begini Jayyid, saya minta kamu untuk menjaga jarak dengan Rahmah" ucap Bu Ningsih Tegas.
"menjaga jarak gimana maksud ibu?" tanya ku sambil menerka-nerka kemana arah nya pembicaraan ini
"Jayyid Rahmah kami jodohkan dengan Rizki"
DEG
"Rahmah di jodohkan dengan Rizki Bu" ucap ku kaget
"ya betul Jayyid, tapi kemarin saat kegiatan rajia rutin di asrama, kami menemukan beberapa surat cinta yang di kirim Rizki ke salah seorang santri putri, dan saat di introgasi ke santri putri tersebut dia mengakui bahwa sudah beberapa kali saling berkirim surat dengan Rizki. begitu pun ketika kami tanyakan ke Rizki dia mengakui nya, namun dia beralasan melakukan itu karena Rahmah di dekati sama kamu Yid, jadi saya minta mulai sekarang kamu bisa menjaga jarak dengan Rahmah supaya tidak merusak perjodohan ini" jelas Bu Ningsih panjang lebar.
"eemm baik lah Bu, saya mengerti.. saya juga tidak mau merusak nya dan maaf saya tidak tau" ucap ku dengan tetap menahan gemuruh di d**a ku karena harus menerima kenyataan yang seperti ini.
"terima kasih Jayyid kamu sudah mau mengerti.. sekarang kamu bisa kembali ke gedung putra.. sebentar lagi masuh waktu Dzuhur"
"sama-sama Bu, kalo begitu sama pamit, assalamualaikum"
"waalaikumussalam"
aku berjalan menuju motor ku dengan langkah yang guntai seperti kaki ku tak mampu menopang tubuh ku "aku butuh tempat untuk sendiri,, lebih baik aku aku enggak usah balik ke gedung putra dulu, nanti sholat Dzuhur di masjid terdekat yang aku temui saja" gumam ku dalam hati.
"Yid... Assalamulaikum" ucap mba Rois di temani Yeni menghampiri ku
"waalaikumussalam" jawab ku pelan..
"kamu bukan nya ga ada kelas hari ini, kok ada disini?" tanya mba Rois
"iya mba, aku abis ketemu sama Bu Ningsih"
"ada apa ketemu Bu Ningsih? kamu ada masalah?" tanya mba Rois yang menangkap kegelisahan di wajah ku
"ga ada masalah kok mba, cuma ada sedikit keperluan aja"
"oh ya Yid, kamu sudah tau tentang ----"
"maaf mba aku ada perlu, aku jalan dulu ya assalamualaikum" ucap ku memotong perkataan mba Rois,
"walaikumussalam, hati-hati Yid"