DISHA melangkah sempoyongan memasuki ruang kerja. Hendak ke arah suaminya dengan bantuan sebuah tongkat yang setia menemaninya. "Darrel!" "Disha!" Darrel langsung memapaknya. Memberi kode pada sang supir untuk meninggalkan Disha bersamanya. "Darrel, dengan siapa kau berbicara? Dan siapa yang hamil?" Pertanyaan Disha itu membuat Darrel meneguk ludah. "D-dia… dia…." "Tara!" Tara menyela cepat perkataan Darrel yang gagap. "Iya, dia Tara. Sebenarnya dia hamil, tapi perusahaan masih membutuhkannya untuk projects iklan. Jadi aku memaksanya tadi." Napas Darrel memburu saat mengatakan kebohongan itu. "Darrel, kenapa kau memaksa Tara yang sedang hamil untuk bekerja. Aku tidak mau perusahaan ayah menjadi beban bagi orang lain." Kini wajah Disha beralih ke arah Tara. "Tara, bisa kau kemari,

