ADITYA berjalan gontai, menyusuri jembatan panjang yang sepi. Tangan kanannya memegang sebotol minuman beralkohol yang masih penuh. Malam itu hujan turun lebat sekali, tetapi tak juga menggertak tubuh pria itu untuk bernaung. Air menerjangnya tiada henti, menyerap pori-porinya, tetap saja tak mampu membuatnya menggigil kedinginan. Tubuhnya itu rapuh. Seakan tak punya semangat hidup lagi. Ditinggal orang yang amat dicintainya, membuatnya serupa bunga layu yang sebentar lagi akan tumbang. Aditya berhenti. Menatap ke bawah. Menyaksikan air hujan yang bersatu dengan air laut. Pemandangan itu membuatnya tersenyum miring. Jika hujan di atas sana mampu melebur dengan laut di bawah sana, lalu kenapa dia tidak bisa bersatu dengan orang yang dia cintai. Padahal mereka selalu bersama. "Hidup mema

