BULIR bening penyesalan mengalir pelan melewati kedua bola cokelat terang. Gemetar tangannya mencoba mengusap, tetapi bagai hujan, air mata itu tetap saja menerjun. "Disha tidak mungkin menceraikanku. Tidak….!" Darrel menggeleng berkali-kali, dengan tatapan kosong penuh derita. Jonathan meraih surat yang dipegangi sang istri. Membacanya dengan mata jeli. Kemudian tertawa sumbang. "Akhirnya semua ini terjadi. Sekarang detik-detik kehancuranmu sudah dimulai, Darrel!" "John!" Elisa menjerit. "Bukannya prihatin kau malah berbicara seperti itu? Darrel itu putramu!" "Lalu aku harus apa, El?! Mengasihaninya? Dia sendiri yang melakukan kebodohan itu!" Sepasang suami istri itu malah berdebat. Sementara Darrel terus meratapi kesedihannya. Detik selanjutnya pria itu mengusap kasar bulir benin

