BAB 2 : PERTEMUAN

1395 Kata
Esok paginya dengan kekuatan penuh harus tetap bersemangat menyambut hari dengan aktivitas yang pastinya menguras tenaga, dengan kondisi cuaca ter-dingin menurut ku karena harus sangat pagi ke kampus jadwal yang sangat merepotkan, apalagi pukul 09:00 menurut ku bisa dibilang pagi bagi seorang mahasiswa seperti ku, ya mungkin memang jadi anak sekolah itu bukanlah pagi hari melainkan sudah siang. Aku menguap dan menggerakkan badan ku memulai perjalanan melelahkan padahal baru saja menyambut pagi, dan aku pun mulai bersiap-siap dan memastikan tidak ada yang ketinggalan. Aku memakai motor sebagai alat transportasi dan melihat pukul 09:00 di mana sekitar 15 menit sampai mungkin tidak terlambat dan berdoa semoga aku sampai di tujuanku. Aku pun sudah sampai dan menuju ke kelas, oke aku mulai memperhatikan sekitar tidak ada yang aneh sampai wajah-wajah yang tidak aku kenali bermunculan masuk ke kelas dan sudah waktunya belajar dimulai. Tanpa aku sadari kemarin dosen bilang akan ada kelas gabungan, kelas gabungan ini di mana (dua atau lebih) kelas digabungkan secara bersamaan di satu kelas dengan tujuan banyak hal, mungkin dosen pada saat itu hanya bisa mengajar di waktu yang telah ia tentukan atau mungkin banyak hal tergantung waktu, kondisi, cuaca dan lain sebagainya, karena kita hanya sebagai mahasiswa tidak pantas protes dalam keputusan dosen atau pihak staff yang telah menetapkan waktu. Mungkin bisa protes dengan banyak dalih hanya saja akan cukup memakan waktu dan kita hanya mengiyakan saja apa yang sudah ditetapkan pada dasarnya. Saat ini semester yang bisa dibilang dimaklumi karena semester baru dan dosen baru ingin berkenalan secara intens maka secara keseluruhan mahasiswa mulai memperkenalkan diri setelah dosen nya menyebutkan nama dan informasi mengenai mata kuliah yang kami ambil. Menyebalkan perkenalan diri dari aku yang pertama karena dimulai dari pojok kanan dan tepat aku berada di sana, perkenalan disampingku berjalan sampailah ke mahasiswa ke arah kiri mulai aktif menyebutkan namanya, yang tidak habis pikir aku mulai tertarik pada seseorang yang berada di pojok kiri. Dia bukan kelas ku tetapi kelas lain yang tergabung di kelas ini. Aneh karena dia cukup bersinar seperti matahari pagi, di mana yang lain gelap dan hanya dia yang cukup membuat ku mabuk. Hanya dilihat saja tetapi aku merasa ada feel baik saat menatapnya, padahal di sampingnya cukup tampan tetapi dia yang sama tampan bahkan lebih sudah cukup menyejukkan hati ini. Karena aku fokus pada visual nya sampai aku tidak mendengar namanya, sangat menyebalkan. Aku tidak peduli lagi karena aku tidak kenal dengannya, jiwa tertarik se-lintas ini mungkin karena faktor aku yang tidak pernah melihat seseorang bersinar seperti itu. Mungkin saja kita tidak akan bertemu lagi orang sepertinya yang jarang aku lihat pastinya bukan tipe yang mudah didekati apalagi beberapa orang yang aku kenal saja sering menampakkan diri, dan dia siapa juga terlihat sangat asing dan dingin. Kalau aku bertemu dengan dia lagi itu akan jadi sebuah keajaiban yang langka sih, ya mungkin. Sepertinya sistem kelas gabungan pada hari ini tidak menetap, bisa dipastikan akan berubah dan akan kembali belajar sesuai per-kelas lagi dilihat dari dosen yang tidak menetapkan satu keputusan jangka panjang hanya satu hari ini saja sudah dipastikan tidak ada lagi kelas gabungan, dan sudah dipastikan tidak akan bertemu lagi dengan dirinya yang tidak tahu namanya siapa, aku bisa check di daftar absen tetapi buat apa biarkan saja berlalu seperti angin hanya sedikit rasa penasaran saja tetapi selebihnya aku harus tetap tidak mempedulikan nya. Aku dan Mosa berbincang di koridor kampus sampai dilihatin oleh beberapa orang yang lalu lalang dan ada juga yang sampai lihatin dengan keheranan cap jahil oleh satu orang laki-laki dengan wajah klimis dengan rambut slick back, ialah Rio Paulus dia temanku dan Mosa yang beda kelas namun sangat receh dan ramai kalau berhubungan dengan dirinya. “Kalian suka sesama jenis ya?” ucap Rio yang tiba-tiba baru saja melintas di hadapan aku dan Mosa. Dengan wajah kesal Mosa melempar roti ke depan wajahnya namun Rio menghindari serangan tiba-tiba dari Mosa dan itu menambah kekesalan pada wajah Mosa karena tidak kena. “Kenapa bisa berpikir seperti itu Rio?” tanyaku yang kebingungan akan ucapannya yang tiba-tiba sekali menusuk. “Karena kalian selalu berduaan terus sih,” jawabnya dengan wajah sangat polos dan selalu jahil. “Urus lah urusanmu Paul!” teriak keras Mosa dengan wajah kekesalannya. “Kebiasaan kamu lempar barang, dasar wanita yang suka emosian,” ledek Rio yang tidak henti-hentinya. “Dasar cowok yang mulutnya tidak pernah mau di filter!” ucap kesal Mosa membuat Rio ingin terus bertindak usil lagi. “Ya aku kan bertanya bukan bilang kebenaran, atau memang kalian benar begitu?” “Kamu ini!” Mosa sampai berdiri memandang dan berhadap-hadapan dengan Rio dengan wajah yang begitu memendam kekesalan. “Aku tahu kamu kesal Momo, dan Rio tolong berhenti jangan usil yang membuat Momo kesal, dan kalian berdua jangan bertengkar di sini nanti kalau dosen lewat kan repot juga!” ucapku berhati-hati karena Mosa sedang kesal dan aku mencoba merelai mereka sebelum Mosa mengamuk karena wajahnya sedang menatap Rio dengan tatapan mematikan. “Kamu terlalu baik Amora sampai berteman dengan paus seperti dia,” ledek Rio yang makin menjadi-jadi. “Kalau bukan Amora yang merelai mungkin aku akan mematahkan kakimu dan menonjok mulutmu supaya tidak bisa mengganggu ku lagi,” “Aku cuman ledek begitu kamu sudah emosi Mosa, pantas jomblo!” “Oh, mau aku doakan yang buruk-buruk?” “Mau kamu doakan apa Mosa?” ledek Rio sembari menjulurkan lidah, dan Mosa yang bertambah kesal padanya. “Aku tidak masalah jomblo, semoga kamu tidak diselingkuhi ya Rio b***k cinta!” teriak kesal Mosa. “Selingkuh? Siapa? Pacar ku enggak mungkin melakukan hal itu, kita kan duo bucin!” “Terserah saja, kalau sampai dia selingkuh aku akan tertawa puas!” “Hah, kalau dia selingkuh kamu bantu aku untuk mengungkapkannya dong,” “Mana sudi, urusi saja masalahmu!” “Oh aku baru tahu Rio sudah punya pacar Momo,” tanyaku di sela-sela pertengkaran mereka yang memanas ini. “Eh kamu tidak tahu Mora?” Reaksi Mosa sangat terkejut karena dia pikir semua orang sudah mengetahuinya. “Belum sih, memang siapa?” tanyaku lagi “Ya memang aku sudah di publish minggu ini sih, baru kemarin juga orangnya sudah aku upload supaya siapa pun tahu, mungkin kamu tidak melihat sosial media ku ya Mora?” “Oh tidak, kita kan tidak saling follow” “Kadang Mora punya sisi jahat tidak follow sosial media ku,” “Iya maaf kan aku hanya suka follback saja,” “Baik, nih mana sosial mediamu tulis lalu kamu follow sendiri pakai akun ku,” ucap Rio sembari memberikan ponselnya dan di sana sosial media ku difollow olehnya. “Nih selesai, nanti aku follback,” “Oke,” “Sudah selesaikan, Ayo Amora kita pergi dari hadapan manusia ini!” ucap Mosa dengan menarik tanganku dengan erat dan membawamu pergi dari hadapan Rio dan sembari menjulurkan lidah setelah berhasil pergi dengan menengok ke belakang lalu Rio juga membalas menjulurkan lidah. “Kamu ini masih saja emosional,” ucapku kepada Mosa yang sedang kesal. “Habisnya bocah itu menyebalkan,” mimik wajah Mosa sudah menjelaskan semuanya. “Kalau saja dia beneran diselingkuhi bagaimana? Kan biasanya yang bercanda-bercanda begitu terkadang takutnya kejadian Mo,” “Ah betul juga ya Mor, aku akan merasa bersalah sih walau kesal kepadanya ya bagaimana pun sikap dia yang menyebalkan dia tetap temanku Mor,” “Waduh, kamu kesal tetapi ternyata hati kamu sangat baik Momo,” ucapku sembari memeluk Mosa dengan erat. “Tentu saja, aku tidak tegaan meski pun aku sangat keras pada orang lain,” ucap Mosa so angkuh namun memang sedang bercanda, sembari memeluk kembali diriku. “Dari awal saja kamu baik, kerasnya kamu juga watak kamu kan aku tidak pernah peduli bagaimana kerasnya kamu kepadaku, aku hanya berpikir bahwa kamu peduli kepadaku selama kamu masih ada disampingku,” “Ah jangan begitu Mora aku jadi malu tahu," "Bisa malu juga kamu," "Mora, siang ini kamu ke kantin ya?" "Iya benar, oh kamu mau pergi lagi ya?" "Iya nih aku mau ke suatu tempat, kamu baik-baik saja kan sendiri?" "Tidak apa-apa kan masih ada mereka," "Oh iya juga ya aku jadi lega," "Jangan lupa makan Mosa," "Aku sudah kenyang dengan jajanan tadi, tetapi tenang nanti kalau aku lapar akan makan dengan cepat tidak menunda kok," "Syukurlah," Aku dan Mosa berpamitan di tengah jalan menuju ke kantin karena Mosa ada urusan yang lain sedangkan aku akan makan siang dengan teman lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN