BAB 3 : TEMAN-TEMANKU

1468 Kata
Kantin siang ini memang tempat menyenangkan untuk makan dan bercerita banyak hal, ada nasi goreng kebetulan aku lapar sangat saat jam kosong dengan teman sohibku kita bercengkerama bersama sambil makan menu yang kita pesan di kantin ini, kita memilih menu yang sama nasi goreng dengan minuman juice begitu. “Huft, tahu tidak sih si Milla jadian sama Rio?” ucap Kara teman ekstrovert yang luar biasa heboh menceritakan gosip orang lain dengan ceria, Kara Joana adalah teman dekatku, biasanya aku selalu bersama jam kosong dengan Kara, Anha dan Kelvin. Ketiga teman dekatku adalah teman main, dan sesekali aku bersama Marie dan Mosa tetapi hanya di kondisi tertentu saja. “Pantas ya, kemarin se-motor bersama suka ke mall bersama jalan-jalan begitu di story gila Milla hebat deketin Rio nya,” ucap Kelvin, teman cowok yang sama heboh nya seperti Kara perihal menceritakan orang lain, Kelvin ini cowok tampan yang manis memiliki kumis agak lebat dan dia keturunan cina sehingga sipit sekali. Kelvin teman baik ku sama seperti Kara. “Hah? Tetapi bisa? Bukannya Rio bilang Milla cuma teman ya? pembohong Rio,” timpa temanku Anha sangat senang menimpa cerita mereka. Anha ini baru-baru ini sering bersamaku dan sama saja seperti Kara dan Kelvin cepat sangat koneksi ghibahnya sangat lancar, Anha ini kadang diam kadang bawel kaya cewek dan sangat peduli dengan sekitar sehingga nyambung dalam segi kondisi apa pun Anha ini tidak terlalu tinggi dan badannya sedikit berisi. Aku memang tidak terlalu tertarik dengan menceritakan orang lain aku hanya pendengar yang baik ketika orang lain meng-ghibahkan seseorang. “Rio tuh suka Milla dari dulu cuma pura-pura gak punya rasa saja,” “Tetapi Milla juga suka loh dari dulu tetapi memang pernah ga dibales sekali sama si Rio kayanya karma sih,” “Iya bener, si Milla nembak tahu duluan waktu awal-awal masuk kuliah dulu tetapi ditolak Rio,” “Ih parah Rio kenapa ditolak,” “Jadi si Rio tuh suka sama si Milla, cuma kan waktu itu temen si Rio suka juga sama si Milla makanya Rio menghargai temannya makanya si Milla ditolak Rio,” “Lah terus tetapi sekarang yang nembak siapa?” “Si Rio, soalnya aku liat begitu di HP nya si Milla selintas, Milla saat ketahuan dia sempat kaget juga karena terciduk sama aku,” “Kok bisa si Rio nya?” “Enggak tahu,” “Aku juga enggak tahu sih,” “Hm, kalian,” Rio datang ke kantin mendengar hal tersebut dan menimpa percakapan mereka “Apa nih ngomongin aku dari jauh ya kalian nih?” “Rio dengar-dengar udah jadian ya sama Milla, mengapa kamu bisa nembak Milla? Bukannya teman kamu suka dia ya?” tanya Kara “Sumpah ini to the point sekali Kara nanya tentang dia,” ucap Kelvin. “Tanpa basa basi ya nanya nya,” timpa Anha. “Oh itu, aku memang pernah nolak begitu karena teman aku suka Milla, cuman temen aku nyoba nembak si Milla cuma ditolak sama dia. Sudah begitu yang akhirnya temen aku tahu bahwa Milla suka aku entah mengapa dia tahu bahwa Milla suka aku dan malah temen aku dukung penuh aku buat jadian ama Milla,” ucap Rio “Wah happy end ternyata,” “Ga gampang loh bujuk Milla lagi saat ditolak sama aku,” “Kok bisa berjuang lagi?” “Karena aku sayang sama dia, ya Milla sakit hati aku tolak kan dia bisa aku deketin lagi pas dia benar-benar luluh lagi susah lah ya diceritakan,” “Mantap sih bisa begitu,” “Cinta itu butuh perjuangan tahu, lagian kalian memang betah ya menjomblo,” “Mentang-mentang jadian sama Milla,” “Haha, amor kamu tidak ada orang yang disukai apa?” Pertanyaan yang kini menyudutkanku “Tidak ada!” Memasang wajah datar dan tidak memandang Rio dengan baik. “Kan Amora sama Niko haha,” “Iya ayo terima, kesian ditolak terus niko haha,” “Tidak makasih banyak.” “Amora tuh judes nya kelewatan makanya jomblo terus,” “Iya bener,” “Engga begitu, memang gak suka pacaran saja,” “Ah bohong,” “Ih bener,” “Kembali ke kelas yuk, nih katanya dosen udah masuk,” “Yaudah ayo!”. Setelah makananku habis aku dan teman-temanku kembali ke kelas untuk belajar selanjutnya. *** Semua berkumpul ke kelas untuk mata kuliah selanjutnya setelah beristirahat siang dan ketika dosen masuk ke kelas aku sebagai sekretaris mengambil absen seharusnya ketua sih karena memang struktur dalam kelas itu tidak begitu penting makanya dosen selalu menargetkan ketua untuk mengambil absen dan yang berhubungan dengan kelas maupun pihak dosen, segala halnya beda dengan sekolah yang mementingkan struktur kelas dengan hanya ketua saja sudah cukup, Karena ketua nya tidak mau maka ketua nya yaitu Niko menyuruh ku untuk mengambil absen dia hanya ingin menghadap di depan dosen saja giliran tugas perintilan dia tidak mau melakukannya, daripada menunggu lama untuk berdebat lebih baik aku membawa absen ke ruangan atas meskipun aku kesal ya mungkin aku menerima-menerima saja karena aku sekretaris yang tiba-tiba dipilih saat menjadi Mahasiswa baru (Maba), karena kita terbiasa dengan aturan sekolah jadi tidak tahu tingkat urgensi dan aturan di bangku kuliahan seperti apa. Dosen sudah hadir ketua yang berdiam diri tidak mau mengambil absen tentu saja aku yang harus mengambilnya benar-benar menyebalkan. Saat di ruangan menuju tempat ambil absen aku bertemu seseorang yang pernah aku temui saat kelas gabungan yang ku sebut matahari ini, dia padahal jarang aku temukan tetapi jika tidak berharap tidak sengaja bertemu. Dia juga mengambil absen kelas C, tetapi kenapa dia yang ambil apakah dia sekretaris ataukah dia ketuanya atau mungkin dia hanya ingin mengambil saja dengan alasan lainnya entah apa yang aku pikirkan saat itu hanya saja aku di belakang dia tepatnya berada di belakang pintu, karena entah mengapa aku hanya tidak ingin terlihat olehnya karena dia memiliki aura yang kuat untuk sisi kesendirian dan seperti ada aura penghalang yang tidak bisa aku jelaskan, namun setelah dia sudah selesai memilih absen dan mengambilnya dia menuju ke arah jalan kanan yang dimana jauh dr kelas nya, bisa saja dia mengambil absen untuk jam-jam tertentu karena tiba-tiba dia ke jalan yang kanan entah mau ke mana kakinya berpijak. Bersyukur aku tidak dilihat dia jadi aku bisa dengan nyaman hadir tanpa dia lihat, karena aku lebih suka sebagai orang yang mengagumi tanpa terlihat oleh seseorang yang bisa jadi target ku, dia cocok aku targetkan selain tampan dia juga bersinar seperti matahari. Niko Jendra adalah teman sekelas yang sama denganku sekaligus ketua kelas yang menyebalkan itu, dia memiliki badan berisi dan ada sedikit kumis tipis dan tidak terlalu tinggi mungkin tingginya setara denganku dan dia lama menyukai ku hanya saja aku sama sekali tidak menyukai nya, dia menyebalkan dan egois banyak hal yang tidak aku sukai darinya. Namun dia baru-baru ini seperti mencoba mendekat lagi namun dengan cara yang menyebalkan yang bahkan tidak aku sukai, dua kali dia menembak ku tentu saja aku menolaknya bagaimana tidak dari sikap, sifat dan bahkan hal yang dari dia banyak yang tidak aku sukai, dan mungkin karena aku tidak terlalu tertarik berhubungan dengan orang lain jadi semakin tidak mau mencoba terbuka hatiku, mungkin saja aku berpikir harus aku duluan yang suka baru aku bisa menerima sedikit demi sedikit, pikir ku begitu. *** Aku berumur 19 tahun menuju 20 tahun, aku memang seharusnya mencari skill pada umur segini aku tidak menyukai umur ku bertambah karena sebenarnya umur yang sudah dilalui tepat pada kita lahir bukan bertambah tetapi berkurang dari masa kita menanti kematian, memang menurut ku sia-sia saja mengadakan acara ulang tahun dikarenakan merayakan bertambahnya umur yang sama sekali tidak seharusnya bahagia akan hal itu, seharusnya sedih dikarenakan umur kita tidak lama lagi dan aku masih segini saja tidak menambah pengetahuan baik agama maupun yang lainnya. Aku ingin memiliki motivasi agar bisa berkembang secara personal dalam segi mana pun dalam pencarian jati diri ini. Begitulah pikiran ku yang sangat mendalam seorang diri, aku juga tidak membuat diriku membaik mungkin baik secara hubungan dengan diriku sendiri atau bahkan hubungan ku dengan orang lain baik sebagai teman maupun pasangan. Aku sangat menyukai kesendirian dan teman dekatku hanya Mosa Leafa saja yang ingin aku genggam sebagai temanku yang baik selamanya, dan temanku lainnya hanya teman untuk melanjutkan hidup karena bagaimana pun kita butuh teman bersosialisasi mereka berharga tapi tidak spesial, aku yang susah berbaur dengan benar dan susah menjelaskan isi hati meyakini bahwa orang-orang yang tulus singkatnya dia akan terus berada di sekelilingmu meski ada duri yang tajam menerpamu maka dari itu aku akan deal masukin seseorang ke circle seperti Mosa jika mereka tidak terlihat tulus tapi real tulus sepertinya. Karena ada Mosa aku tidak butuh pacaran mungkin bisa tapi aku lebih nyaman hidupku tanpa pacaran yang suka mengatur dan mengganggu hidupku karena selain aku harus mencintai diriku sendiri aku juga harus mencintai pasangan ku juga itu masalahnya untukku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN