Pelajaran hari ini telah usai aku akan ke taman kampus untuk bertemu temanku berkumpul sebelum pulang, di sana ada Syani seorang cewek yang super feminim dari atas sampai bawah cewek semua dan ada juga Silly sama seperti Syani, Silly feminim dan trendy banyak cowok yang mendekatinya. Mereka berdua termasuk teman yang menyukai uang, jadi konsep dekat dengan cowok tanpa uang bukan gaya mereka, uang adalah segalanya, mereka juga jago mengelola uang maka dari itu cowok yang modal tampang tanpa uang hanya bisa mereka lewati ya seenggaknya bisa untuk jajanin mereka. Kita berkumpul membicarakan berbagai hal baik cowok maupun pelajaran yang sangat sulit, sangat mudah membahas pelajaran dengan Silly karena Silly termasuk wanita ambis dia mengupgrade dan membranding dirinya yang kuat dengan akademis karena dia juga termasuk wanita pintar, tetapi sangat sulit membahas pelajaran bersama Syani mungkin dia cenderung kebalikan dengan Silly hidupnya santai dan tidak mempedulikan akademis sama sekali tapi hidup emang ada dua versi manusia yang berbeda cenderung karena perbedaan dengan sifat yang sama maka dari itu mereka bertemu. Mereka berdua temanku yang kalau aku sendiri mereka suka mendekati seperti teman pada umumnya kadang kita suka bertukar pikiran, curahan hati dan lain sebagainya. Saat ini kita aku, Silly dan Syani berkumpul di taman kampus karena di depan kami banyak helm sepertinya laki-laki memang sengaja menaruh di sana karena sebelumnya tidak ada helm sama sekali dan dari arah kanan seorang laki-laki datang kearahku.
“Permisi saya mau ambil helm,” ucap seorang laki-laki yang tegap tinggi, putih, wajahnya bersih manis dan strukur wajah yang tegas dengan tatapan mata yang sangat lembut dengan bibir merah muda manis memengaruhi wajah tampan yang kalau dia datang aura sekitar sedikit dingin dan tenang. Dengan nada sopan, aku tercengang ada juga cowok yang kalem tetapi sopan ucapku dalam hati ketika belum melihat wajahnya itu.
“Iya” ucapku singkat, saat itu aku menghiraukan nya karena tidak kenal lalu aku melihat lagi orang itu ternyata seorang matahari itu, langkah kaki laki-laki ini dari belakang begitu gagah perawakan seperti pembalap dan sangat tinggi untuk ukuran pria memang orang yang sudah aku targetkan sangat banyak hal baiknya rasanya ada harapan kalau jodoh pengen seperti dia, tapi sepertinya tidak mungkin dia terlalu sempurna meski dia seperti cuek dan dingin tapi sifat dan aura nya sangat memengaruhi diriku untuk kagum padanya.
***
Entah mengapa firasat pada hari ini seperti salju di musim semi, sangat dingin namun indah karena seberapa membosankan hidupku yang datar di mana kehidupan hanya tentang rumah dan kampus saja namun ada saja sesuatu yang tidak terduga yang menyelimuti ku baru-baru ini, rasa kagum yang sama sekali belum pernah terbayangkan di hidupku ini cukup menarik sekali terlebih dengan bertemu matahari itu yang menggemaskan untuk setiap saat dibahas oleh diri sendiri, hanya saja memang selalu tiba-tiba datang dan pergi berlalu saja dirinya, mungkin karena dia tidak terlihat di mataku setiap hari karena banyak faktor antara lain beda kelas dan beda juga prioritasnya karena kan tidak selalu aku harus memantau dia dari jauh hanya karena ingin bertemu. Tapi sesekali jika aku melihat kehidupan ku ini aku selalu menggerutu kesal sendirian dengan isi kepalaku yang rumit dengan menggenggam kekesalan ketika aku menyelisik lebih jauh bagaimana aku bisa berteman dengan beberapa orang di hidupku dengan sifat mereka yang berbeda. Mungkin seperti aku mendapatkan teman seperti Mosa Leafa yang luar biasa royal dan sangat baik kepadaku dalam semua sisi membuat ruang penjagaan untukku supaya bisa saling dalam segala hal, sejauh ini dia yang terbaik sebagai teman dekat yang paling aku sayang dan juga aku memiliki teman saat waktu istirahat tiga serangkai yang menempel padaku Joseph Anhardian, Kelvin Pasha dan Kara Joana yang membuat hidupku ramai meskipun terkadang sedikit menyebalkan dalam mereka bersikap namun aku selalu memakluminya dan terkadang suka bertengkar juga sih dengan mereka sewajarnya teman. Lalu dua wanita yang sikapnya 90 derajat beda denganku, Silly Feronica dan Syani Diora, mereka selalu memikirkan popularitas, kecantikan, hubungan percintaan, kekayaan, kenikmatan dunia yang bahkan mereka sudah berpikir jauh denganku, dengan pemikiran-pemikiran absurd menurut ku dan normal bagi mereka menurut ku itu mengubah paradigma yang telah aku tanamkan pada diriku bahwa semua hal atau semua orang yang tidak sama denganku itu cukup unik dari pandangan berbeda-beda dan kesamaan dengan seseorang cukup bagus tetapi itu akan sangat membosankan dengan berteman mereka menawarkan diriku untuk berpikir bahwa semua orang punya sebuah pikiran yang bertabrakan atau bersamaan secara real-time dengan zona mereka masing-masing, jadi kita sebagai manusia tidak bisa memaksakan kehendak siapa pun dengan keegoisan diri bahwa semua orang harus sama. Dari semua orang yang sudah aku temukan dan aku kenal menanamkan untuk saling memaklumi perbedaan dan menerima sikap pada setiap orang, itu cukup memberi ku semua pengetahuan dan pembelajaran dari setiap individu nya ini penerapan terkadang aku berpikiran sembari melamun lama sekali di tengah-tengah mereka berdiskusi, berbincang ke sana kemari dan aku yang selalu menjadi pengamat paham bahwa orang itu spesial oleh diri mereka sendiri justru. Lamunanku dengan banyak pemikiran ini membuat aku merasa bersyukur memiliki mereka di sampingku dan senang mengenal mereka.
***
Baru saja aku memikirkan penerimaan diri dalam perbedaan dan mengucapkan rasa syukur mengenal mereka tiba-tiba aku terkejut mendengar dari Syani Diora yang sering aku panggil dengan nama kecilnya “Sya” ini tentang sebuah hal, Syani mendatangi ku dengan sebuah cokelat dan duduk berdampingan denganku sembari menawarkan cokelat nya dia memiliki dua cokelat dan dia membelikan ku satu karena dia sangat baik kalau tentang memberi makanan atau barang, karena aku suka cokelat maka aku menerimanya dan tidak lupa berterimakasih atas cokelat yang diberikan Syani.
“Amora tadi aku dijalan melihat Mosa bertengkar dengan Kara dan dilerai oleh Rio,” ucap Syani yang semangat bercerita kepadaku, lalu aku terkejut mendengar isi berita itu tanpa pikir panjang aku panik dan langsung berdiri.
“Di mana mereka Sya?” ucapku setelah berdiri dengan sangat panik tersemat di wajah ku.
“Mor jangan tinggalkan aku dong!”
“Enggak aku akan pergi denganmu kok Sya, jadi mereka di mana?”
“Aku aja belum cerita bagaimana mereka bertengkar Mor,”
“Tapi mereka masih bertengkar Sya?”
“Sepertinya masih Mor”
“Apa kamu cerita dijalan saja bagaimana mereka bertengkar, kita pisahkan mereka dulu,”
“Ok Mor,” jawab Syani lalu berdiri dan menuju lokasi mereka bertengkar nya.
***
Di sepanjang jalan Syani bercerita kalau mereka bertengkar karena Mosa ingin melindungi Amora yaitu aku dari Kara, Kara memang sosok yang baik suka memberi, royal dan sangat sering membantu Amora namun di sisi lain sayang sekali sifat yang suka mengumbar aib dan tidak ada rasa untuk mengerti perasaan orang lain sangat kurang sehingga Mosa merasa apa yang Kara lakukan sangat keterlaluan sampai rahasia Amora yang tidak seharusnya disebarluaskan ini sangat mudah sekali menyebarnya dan itu membuat Amora terluka dan Mosa terus menerus membelaku ke dalam peperangannya bersama Kara, Mosa memang ingin sekali menjagaku dan tidak suka ada yang mengusikku baik diam-diam maupun terang-terangan siapapun lawannya akan dia hadapi. Kara tidak menerima ucapan Mosa yang seenaknya menilainya seperti itu dan dia membela dirinya sendiri sekuat tenaga. Disisi lain Rio yang dekat dengan Mosa melerai mereka supaya tidak bertengkar, mungkin mereka adu mulut dan saling menajamkan pisau asahnya namun Rio jadi korban keributan mereka sehingga Rio kalah dalam permainan adu mulut yang para cewek ucapkan namun karena lawannya cewek Mosa tidak berani mengeluarkan bahasa yang kasar sehingga yang dia ucapkan hanya bahasa kesal dan kemarahannya yang mewakili ku untuk berkelahi dengan Kara, di sana aku mendengarnya bahkan tidak tahu apa yang sudah disebarkan Kara kepada publik jadi aku ingin segera sampai ke tempatnya mendengar langsung dari mulut mereka berdua.
“Lalu kamu kenapa tidak melihat mereka sampai selesai Syani?” tanyaku karena Syani santai sekali kelihatannya karena ketika orang lain bertengkar dia mengadu padaku.
“Enggak ah mereka berisik, aku juga tadi lihat mereka bertengkar sama Silly tapi harusnya Silly masih di sana sih enggak tahu ikut pergi juga sama Anha ya, di sana rame Mor ada Silly, Anha sama anak kelas B juga siapa enggak tahu namanya karena banyak yang lihat soalnya mereka tuh teriak-teriakan keras gitu, lebih baik nyari kamu sambil aku jajan dulu jadi kalau didiamkan Mosa semakin membludak marahnya dan itu seram sih,”
“Mosa memang galak dan seram ketika marah sih,”
“Kamu bertahan juga temenan sama Mosa,”
“Mosa itu baik tahu Syani kamu aja tidak dekat dengannya,”
“Kelihatan sih Mor tadi aja dia belain kamu habis-habisan aku yakin Mosa sesayang itu sama kamu Mor, Tapi ya Mor aku tuh sudah berusaha dekat sama Mosa tapi susah ih Mor dia tuh seperti ada dinding penghalang supaya tidak ada yang dekat dengannya syukur-syukur aku pernah ngobrol sama dia,”
“Emang susah sih Mosa tidak sembarangan menjadikan orang lain sebagai temannya sih, agak sensitif juga dia,”
“Oh dia orangnya begitu,”
“Iya,” Kita berjalan beriringan menuju ke tempat mereka bertengkar.