BAB 9 : KEPOPULERAN

1492 Kata
Aku selalu merasa lebih baik lagi bercerita dengan Mosa, aku harus mengatakan sebuah ambisi kecilku dan keinginan lainnya kepadanya seperti air yang mengalir. “Iya meski susah tetapi kalau aku coba bagaimanapun dan aku cukup memiliki ambisi dengan rasa penasaran ini aku tidak akan berhenti,” lanjut ucapanku yang sempat terhenti beberapa detik dengan berpikir bahwa apakah aman mengatakan hal-hal yang selalu aku pikirkan karena perasaanku sangat tidak nyaman sekarang ini. “Aku tidak akan melarangmu selama itu aman bagimu,” “Mosa sepertinya aku berpikir terlalu jauh terkait Afga, aku tidak pernah tertarik dengan para cowok tetapi aku lebih paham kalau aku itu takdir dari Afga sendiri,” “Kenapa denganmu Amor, tidak biasanya kamu seperti ini apakah kamu mencintainya melebihi rasa kagum itu?” “Itu benar, mungkin ada rasa ingin memiliki tetapi aku tidak mau berharap cuman di sisi lain aku punya hal yang hebat ketika aku bisa memilikinya, setiap aku memandang ponselku yang aku namakan Afga si matahariku, rasanya rindu ini menggebu-gebu, entah apa ini seperti ada yang menguasaiku,” “Kamu menyukai orang yang sama sekali tidak pernah mengobrol bareng atau sekedar menghabiskan waktu bersama?” “Aku juga merasa begitu, dia seperti orang baik makanya banyak yang suka dia tetapi aku tidak menilai hanya dari itu saja entah apa yang aku rasakan bahwa seperti yang aku bilang tadi, dia seperti terlahir hanya untukku itu pikirku atau mungkin rasa kagum itu masih ada,” “Jadi kamu tidak mau hanya berteman dengannya seperti niat awal?” “Tadinya mau begitu, aku akan ambil langkah cepat jika dia bisa meresponku atau bahkan mencintaiku balik, aku bisa merasakan bahwa dia itu belahan jiwaku Mosa,” “Aku tidak mengerti, tetapi jangan melewati batas Mor ingat dia akan risih,” “Aku akan berkeinginan jadi temannya dulu kok Mo,” “Itu bagus secara perlahan jangan terlihat olehnya,” “Baik, terima kasih ya Mosa sudah mendengar ceritaku,” “Sudah pasti,” “Sepertinya kita akan turun kebawah yuk, lebih baik kita menunggu dosen,” “Yuk!” Lalu kita berdua turun kebawah untuk berniat menunggu dosen selama itu aku jadi melihat ke sekitar berharap bertemu Afga. Berjalan di koridor yang sepi melintasi kelas demi kelas aku sama sekali tidak melihat sosok Afga sang matahariku ini, dia memang manusia yang unik nan tampan aku jadi semakin penasaran dengannya, tak kusangka aku melihat Afga melihat lapangan luas yang terbentang lebar di tengah kampus dengan fasilitas yang serba banyak dan di sana banyak yang berolahraga karena memang sesuai dengan jurusannya, dia melihat beberapa cowok berlarian memenuhi tempat finish dengan latihan yang complex di temani oleh Zora dan Justin, aku yang berjalan memperhatikan dia dari kejauhan sangat senang hanya dengan melihat dia baik-baik saja, dia tuh kalau berbicara dengan mereka berdua selalu bisik-bisik apakah ada percakapan rahasia diantara mereka ataukah memang pembahasannya sangat sensitif atau memang terbiasa seperti itu, kadang aku yang melihat pun terasa aneh. Sayang sekali ketika aku melihat sekeliling dengan baik bukan hanya aku yang melihat mereka bertiga berdiri diluar lapangan dengan memandang isi lapangan dan fokus pada mereka yang tengah berolahraga, tetapi sebagian cewek-cewek sangat semangat memandang mereka dan mulai membicarakannya. Afga terkenal dengan ketampanan dan kepintarannya dan disana aku penasaran apakah selain itu dia memiliki kelebihan lain, jika sampai aku terbuai olehnya hanya dengan kedua sifat umum yang selain Afga juga harusnya aku tidak sepenasaran dan seingin itu dekat dengannya, tetapi sulit sekali menghapus rasa ini dan kapan rasa ini tumbuh apakah saat aku menatap kedua bola mata cerah itu dan memandang senyum manis dari sosok dia yang berkilau seperti matahari itu ataukah karena nafsuku yang memang menyukai tipe cowok yang seperti itu. Di bandingkan dengan yang lain Afga lebih dari istimewa entah apa yang membuat dia di cap seperti itu oleh penilaianku, para cewek-cewek tidak meninggalkan tempatnya dan masih saja membicarakan Afga dengan bahasa rayuan dari harapan-harapan mereka. Sejak kapan mereka terpikat oleh pesona Afga ataukah hanya aku yang terlambat menyadarinya bahwa di sini ada sosok cowok yang memang cocok sebagai model hidup di penuhi oleh banyak fans. Aku mendekat ke mereka mulai mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan apakah ada aib dari Afga yang bisa aku peroleh atau apa yang membuat mereka menyukai sosok Afga yang membuat mereka tergila-gila oleh kharismanya sampai banyak sekali yang diam-diam suka kepadanya, terlihat oleh mataku yang di mana semua membicarakannya seakan dia aktor yang keluar untuk mempromosikan film yang sedang dibuatnya. “Afga terlihat hidup dengan jari jemarinya, aku melihat dia sangat keren sesuai dengan tipe aku, lihatlah bagaimana dia berkomunikasi aku penasaran apa yang dia bicarakan dengan teman dekatnya itu,” “Memang tidak salah aku menyukai dia, dia juga baik masa kelompok pemberontak yang jarang kuliah bahkan mengulang kelas hanya Afga yang mampu merangkul mereka, bukankah itu keren?” “Katanya cewek tercantik yang awal-awal jadi mahasiswa baru itu sempat menyukai Afga tetapi dia ditolak sama Afga, sayang sekali,” “Siapa? Di kelas C sendiri banyak cewek cantik jadi yang mana yang di maksud,” “Aku kira yang cantik di kelas C yang paling dominan itu kalau tidak salah Dea sama Rara, jadi yang mana?” “Entah sepertinya Dea deh kemarin aja Dea berani dekat-dekat dengan Afga terkesan mepet-mepet, itu sepertinya gosip tetapi kalau jadi lucu juga kalau beneran,” “Afga yang dingin seperti itu kalau di sandingkan dengan mereka berdua yang cantik terlihat cocok tetapi tidak dengan kepribadian dari mereka itu sendiri,” “Maksudmu apa?” “Kamu lihat kan kalau Dea dan Rara itu dekat dengan siapapun kalau tidak salah mereka juga punya pacar, agak terdengar aneh kalau sampai gosip itu bener, anehnya Afga menatap mereka berdua ketus dan dingin apa benar mereka bisa cocok ya,” “Aku tidak peduli yang penting sekarang ini Afga jomblo,” “Aku juga penasaran kenapa tidak ada cewek yang bisa mengetuk hati Afga ya,” “Meskipun mereka bertiga sama-sama tampan dan pintar bisa dibilang circle anak pintar, tampak jelas bahwa yang paling menarik hati hanyalah Afga,” “Aku sih tidak keberatan kalau memilih ketiganya,” “Serius mau sama Justin dan Zora, Aku sih enggak ya,” “Aku mau, selera kita berbeda,” “Zora udah punya pacar tahu, kalau Justin juga sepertinya sudah punya dia diam-diam kemana-mana,” “Cuman Afga ya yang belum, pastinya Afga punya aku sih,” “Bermimpilah kita bisa memenangkan hati manusia es itu,” Keluhan dari mereka yang sebatas mengagumi dari jauh dan berharap Afga bisa bersama mereka, bahkan aku mendengar Dea dan Rara saja dia abaikan dan salah satu ada yang di tolak selera seperti apa yang di sukai oleh Afga, aku penasaran pendapat mereka kalau sampai aku menyukai Afga apa aku bakal di cemooh dan di jelek-jelekin atau biasa saja dan menganggap kalau aku hanya lalat kecil dan derajat kami sama karena hanya sebatas fans saja, aku penasaran tetapi beresiko kalau sampai mereka tahu. Lagipula benar kata mereka kalau Afga itu dingin dan susah didapatkan harusnya sampai sini aku berhenti penasaran untuk mendekatinya. Aku dan Mosa masuk kelas tetapi di kelas tiba-tiba memperhatikan satu orang yang didepan, ternyata ketua kelas yaitu Niko memberitahukan sesuatu secara lantang di depan kelas dan ternyata dosen sudah memberitahu bahwa dia tidak bisa datang secara mendadak karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan terpaksa kelas bubar, aku juga sempat melihat grup kelas dan melihat Niko membagikan screenshot bukti dosen tidak akan masuk, tiba-tiba Niko mendekati aku setelah semua orang bersiap untuk keluar kelas baik berkeliaran di sekitar kampus maupun benar-benar pulang ke rumah, Niko langsung mendekati tubuhnya di dekatku dan bersikap genit seolah menggodaku dengan nada yang sedkit rendah. “Amora Amora Mora Latucia,” ucap Niko dengan menggeser tubuhnya ke pundak aku dan membuat keseimbanganku tidak stabil dan hampir terjatuh. “Apa sih pergi sana!” teriak aku kesal kepadanya “Mau pulang di antar sama aku?” “Kamu lupa aku punya motor?” “Besok jangan pakai motor aku jemput,” “Tidak Niko, terima kasih,” “Anak kelas sebagian mau ke kontrakan aku, kamu mau ikut?” kata Niko yang menawarkan aku ke kontrakan dia bersama dengan teman yang lain, Niko rumahnya sangat jauh jadi dia mengontrak di sekitar kota ini yang tidak jauh dari kampus, tetapi tidak bisa dibilang dekat juga karena kalau menggunakan transportasi umum seperti angkutan kota ini bisa tiga kali naik karena transportasi ini entah kenapa di ubah jalurnya, jadi kira-kira membuat jarak semakin jauh. “Tidak juga, memangnya ada acara apa?” tanyaku sedikit penasaran juga “Kita adakan makan bersama karena hari ini mereka daripada hanya pulang atau diam di kampus lebih baik main ke kontrakanku kan, hanya sekedar singgah atau berbagi cerita saja,” “Banyak?” “Banyak sih, mau?” “Enggak, aku pulang dulu ya,” Aku menolak tawarannya dan lalu langsung pergi dari hadapannya, aku melihat ke belakang untuk melihat Niko, dia sempat tertegun sebentar sampai menatap kedua bola mataku lalu pergi juga setelah aku pergi lebih jauh darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN