Aku dan Mosa makan di hotel yang ada restorannya dan kami memesan set Wagyu A5 dengan tingkat kematangan medium rare dan kita juga set minum yang enak disana kita pun membahas banyak hal sampailah kita membahas kembali mengenai Afga dan teman-temannya.
“Amora, terkait Afga kamu mau coba deketin dia kah?” tanya Mosa sembari mengunyah daging dimulutnya.
“Aku sepertinya bakal sih Mo, mending aku berusaha dulu maksudnya seenggaknya aku pengen deket sebagai temannya bisa aja kan dia seru diajak ngobrol, kenapa nih seorang Momo merestui aku dengan cowok kah?”
“Kalau itu membuat kamu bahagia dan senang dengan dia aku dukung Mor, kembali lagi kamu pastiin juga apakah dia punya pasangan apa enggak jadi kalau kamu berusaha lalu berharap enggak bingung, lagi pula kamu juga tidak pernah punya pacar jadi aku pikir dengan kamu yang tanpa pengalaman apapun takutnya dia yang jadi mempermainkan kamu, dia kan terkenal dan enggak pernah tercium dekat sama cewek,”
“Dia normal enggak ya Mo,”
“Entah, kalau dia punya prinsip bagus sih tetapi sampai dia enggak normal aku enggak mau deh kasih dia ke kamu mending awal-awal kamu berharap temanan saja,”
“Ide bagus Mo,”
“Jadi apa rencana kamu Mor,”
“Rencana aku itu ya mau minta nomor Afga ke Zora,”
“Zora ya, kalau gagal sekalian juga minta ke Justin untuk pilihan keduanya,”
“Siapa Justin?”
“Teman dekat Afga, jadi di kelas C yang sering bersama Zora hanya Justin dan Afga,”
“Oh begitu aku pikir siapa Justin,”
“Aku juga enggak tahu yang mana Zora atau Jutin, apa Justin tuh yang wajahnya china banget ya?”
“Itu Zora kayanya Zora kan wajahnya chinese banget, aku enggak tahu Justin yang mana tetapi pernah dengar namanya,”
“Yaudah cepat minta ke Zora nomor Afga,”
“Tahan dulu, aku justru mau menghubungi Zora dulu dengan begitu aku bisa menjalankan rencana selanjutnya, tetapi jangan sekarang nanti aku dirumah saja kirim pesannya”
“Baik aku tunggu kabar baiknya ya,”
“Terima kasih ya Momo selalu ada untuk aku,”
“Sama-sama juga Mora, kamu pun,”
Setelah pulang dari restoran bersama Mosa, aku yang diantar oleh mobil Mosa karena dia memiliki supir pribadi selepas mengantar aku dengan berpamitan lagi dengannya aku masuk kerumah dan aku pun segera menjalankan rencana pendekatanku lebih ke aku penasaran dengannya karena dia sangat menarik di mataku, Dengan meminta nomor temannya maka kita bisa mencari celah, oke dia dekat dengan Zora dan Justin mereka berdua sering menempel pada Afga lalu langkah selanjutnya aku akan memilih di antara mereka dan mungkin aku dan Justin tidak saling kenal dan aku malah lebih kenal ke Zora karena kita satu organisasi oke aku akan mencobanya berhubung aku memiliki nomor Zora ini adalah kesempatan.
“Selamat pagi Zora, apa di kelasmu ada tugas dosen Pak Hary yang sempat mereview beberapa hal yang berhubungan dengan dunia teknologi? Boleh aku minta referensi dari semua hal itu,” Kita lihat apakah dia terpancing dengan umpan ku
“Selamat pagi, Iya ada sih, tetapi maaf Mora aku tidak memiliki referensi nya aku belum mengerjakannya oh iya tanyai saja sama Afga dia sepertinya sudah selesai,” Dia memakan umpan ku? Baik langkah selanjutnya, “Afga siapa itu, Kalau begitu boleh aku minta nomor Afga?” Hatiku gusar tanpa basa-basi sekali, “Ini aku sudah kirim lewat chat ya,” Dia cepat juga ya, “Terima kasih banyak Zora!”. Aku berhasil, meminta dengan alibi. Aku tahu ini akan berhasil karena pertama Afga itu adalah mahasiswa terpintar di kelas C dan dia ketua yang sangat rajin dan bersemangat, kedua kelas C selalu mengandalkan Afga maka dari itu pilihan mereka adalah mengalihkan beberapa orang dan tertuju pada Afga. Dan terakhir karena teman dekat Afga adalah pilihan yang mendominasi maka dari itu jika kita bisa mendekati angka dominan lebih besar peluang yang kita dapatkan. Baik aku ada alibi tugas kepada Zora dan Afga pun adalah terusan alibinya. Aku mulai gugup untuk berkirim pesan pada Afga, ayo Amora kamu pasti bisa.
“Selamat pagi Afga ini dengan Amora kelas A, aku memiliki nomormu dari Zora karena Zora bilang kamu sudah selesai mengerjakan tugas dari Pak Hary maka dari itu bolehkan aku meminta referensi tugasnya?” Berdegup kencang jantung ku saat ini semoga bisa.
“Boleh, sebentar ya.” ucap Afga dalam pesan itu, beberapa saat kemudian referensi tugas dari dia sudah terkirim padaku dan sontak membuat ku senang.
“Terima Kasih atas referensi nya!”
“Iya sama-sama,” Aku sangat senang bisa berkirim pesan meskipun cuman sekedar nanya tugas saja, aku tidak sabar ingin memberitahukan Mosa terkait hal ini. Mungkin aku hanya ingin berteman dengannya tetapi ada rasa kagum yang melebihi rasa hanya ingin berteman, namun jangan terlalu terburu-buru aku akan mencoba membuka kunci pertemanan saja selayaknya dengan yang lain lagipula siapa juga aku yang berani menyukainya pasti akan terjadi hanya satu orang yang berharap dia tidak menetralisir perasaan itu terjadi maka aku tidak berharap lebih banyak meski ingin.
Besoknya aku menemui Mosa di kampus, ketika pagi hari yang cerah menembus langit biru yang ku lihat dengan lebih baik dibandingkan hari sebelumnya yang dipenuhi rasa bosan yang berkesudahan, aku mencari dirinya tetapi pesanku belum dibalas Mosa jadi aku bingung dia ada di mana padahal ini sangat menarik untuk diceritakan, ketika aku melewati tangga menuju lantai tiga di mana lantai yang jarang aku kunjungi karena di sana jarang sekali kelas ku ditempatkan di area itu, namun benar saja di sana aku melihat dua orang yang sering bertengkar sedang bersama duduk di luar melihat langit-langit dan bercengkarama seakan dunia sangat baik mempertemukan mereka, Rio dan Mosa seperti berdiskusi sesuatu wajah mereka terlihat sangat serius aku pun menghampiri mereka dan tidak berteriak memanggil namanya karena akan sangat mengganggu orang lain jika aku melakukan hal tersebut, tampak kejauhan aku mendengar sedikit pembicaraan mereka.
“Sepertinya memang kamu harus mengayomi dan lebih sabar lagi sama dia,” ucap Mosa kepada Rio, aku hanya menguping di tengah pembicaraan yang berlanjut itu di mana mereka belum tahu keberadaanku.
“Dia itu kan punya aku Mosa, harusnya dia tahu bahwa selama ini aku tidak mengawasi dia karena aku percaya padanya tetapi kalau suka sama orang lain memang susah sekali di hentikan apalagi kan dia akan marah juga kalau sampai aku tegur dia menurut aku,”
“Kamu lebih takut kehilangan dia ya dibandingkan-” ucap Mosa terhenti setelah aku datang menghampiri mereka, namun mereka terkejut ketika aku hadir lalu Rio melihatku dengan tatapan seperti kenapa tiba-tiba dia datang kemari.
“Eh Amora, tumben kamu ke lantai tiga apakah kamu mau menemui seseorang?” tanya Mosa santai ketika dia berbicara seperti itu kemungkinan dia belum membuka ponselnya ketika aku berkirim pesan kepadanya.
“Aku mencarimu Mosa,” jawabku
“Oh cari aku, sepertinya kamu mengirimku pesan ya maaf Amora saat aku sampai ke kampus Rio mengajakku mengobrol membahas sesuatu jadi kemungkinan aku silent ponselku dari semua notifikasi,”
“Kenapa kamu tahu dia mengirimu pesan Mosa,” tanya Rio kepada Mosa
“Iya kan berkabar dulu aku dimana pastin ya masa tiba-tiba mencari,” jawab Mosa
“Oh begitu, maaf ya aku mengganggu kalian kalau kalian sudah selesai mengobrol hubungi aku, aku akan segera pergi kok,”
“Ih tidak perlu kamu khawatirin kok, Sebentar Amor,” Mosa pun melihat Rio, “Bagaimana masih mau mengobrol lagi denganku?” tanya Mosa kepada Rio.
“Aku sudah selesai, jadi Mosa jika ada perkembangan mungkin aku hubungi kamu lagi, bye Mosa bye Amora,” ucap Rio sembari pergi dari hadapanku dan Mosa.
“Aku jadi tidak enak sama kalian berdua obrolan kalian terhenti karenaku,” ucapku cemas
“Tidak mengapa Amora lagipula apa yang Rio ingin sampaikan sudah semuanya kok, sisanya hanya respon-respon saja jadi kamu tidak harus merasa bersalah, oh iya ada apa kamu mencariku apakah tentang kemarin yang terkait Afga?” jawab Mosa dengan santainya menanggapiku, seperti membuat hatiku tenang meski merasa bersalah sedikit.
“Iya tentang Afga sih Mosa,”
“Lalu kenapa kamu masih berdiri, ayo duduk lagipula Rio sudah pergi, atau kita mau pergi ke tempat lain?”
“Tidak Mosa disini saja,”
“Ok baik,”
“Jadi kemarin aku meminta referensi tugas ke Zoro kan, lalu dia bilang belum mengerjakan tugas itu lalu dia mengirim nomor Afga katanya sepertinya orang ini sudah jadi tanyakan saja padanya akhirnya dengan alibi seperti itu aku bisa mendapatkan nomor nya cuma-cuma,”
“Hebat-hebat, terus terus kamu kirim pesan ke Afga,”
“Tentu saja, aku mengirim pesan padanya responnya seperti teman lainnya yang memberiku referensi sesuai mauku dengan mengambil nama Zoro,”
“Wah hebat, lalu kalian saling berkirim pesan lagi?”
“Cukup segitu sih,”
“Yah sayang sekali kamu tidak memperpanjang obrolan,”
“Bukan bakatku lagipula dia bukan tipe yang friendly lebih ke cuek dingin dan akan dibalas jika itu penting, menurutku dia tipe seperti itu,”
“Aku juga mikir begitu sih jadi lebih baik perlahan ya mendekatinya,”