Ketika kita bertiga sama-sama fokus dengan ponsel masing-masing, karena di ujung meja ada terminal kebetulan aku membutuhkannya untuk charger ponsel, maka aku pun berpindah tempat tetapi jadinya aku dan Syani Silly sejajar bedanya mereka di tengah aku di ujung karena terminal nya tidak bisa di pindahkan. Beberapa selang kemudian s eorang laki-laki yang aku kagumi matahari ku ini berjalan lewat di depanku dengan membawa helm dan tangan kanan membawa sarung tangan motor, aku memperhatikkan punggung itu yang tinggi tegap dan tegas sekali perwatakannya. Cowok itu mau turun tangga-tangga kecil tiba-tiba sarung tangannya jatuh ke tanah, cowok itu tidak menyadarinya dia berjalan berbelok ke arah kanan. Aku ingin mengambilkan nya tetapi aku ragu dan akhirnya aku pun memutuskan untuk mengambilnya dan aku turun ke bawah dengan kaki yang agak feminim, feminim seperti ini bukan gaya ku tetapi ada yang aneh dengan diriku yang turun kaki sangatlah cewek sekali pikir ku yang biasanya tidak santai ini dan bertindak gegabah, dari arah depan aku juga melihat cowok itu pun kembali ke tempat sarung tangan ini jatuh mungkin dia mencari-cari di sekitar dia tapi tidak menemukannya maka dari itu dia kembali ke belakang dia. Benar saja dia melihat ku dan aku pun memberikan sarung tangan itu dan dia pun terima kasih sembari tersenyum manis, aku sampai ter hanyut senang karena dia begitu manis senyumnya, aku tidak tahu apakah wajah ku memerah dan aku reflex senyum juga. Baru kali ini melihat cowok yang sangat manis senyumnya aku pun sepertinya mulai menyukai nya. Bahkan terhitung selain kagum level nya sudah bertambah jadi suka dan dia membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama di mana aku yang belum pernah berinteraksi tiba-tiba di sambut dengan penambahan level suka dan semoga dia jadi yang terakhir untukku sesaat aku memikirkan kemungkinan aneh itu. Sehabis itu aku kembali ke Syani dan Silly dengan wajah bahagia dan mereka berdua yang melihat aku yang membantu dia akhirnya mereka langsung menggoda ku karena aku seperti terlihat manis di depan cowok.
***
Pagi hari besok nya aku melihat di luar jendela pepohonan yang hijau dan bersinar karena sinar matahari yang masuk walau sedikit dengan alarm yang berdering sekitar dua kali setiap 15 menit membawa ku di pagi yang sangat cerah ini, aku langsung mengingat kejadian kemarin, dia tersenyum selayaknya pangeran yang turun dari kastil, aku benci situasi ini makin aku mengingat senyum itu makin aku menyukai nya dan saat dia mengambil helm nya pun sangat sopan dan berkharisma tinggi aku makin yakin bahwa dia adalah orang yang membuat hatiku luluh, aku tidak suka karena sebuah senyuman yang manis dan indah bisa-bisanya aku masih kepikiran akan hal itu di pagi hari ini dan tatapan dia yang berbinar itu sangat mengangguku kenapa juga dia memiliki wajah yang tampan dan aku takut jika saat itu pipi ku merona dan refleks aku tersenyum balik mungkin itu senyum keramahan yang dibalaskan karena dia tersenyum tapi aku sangat ke bawa perasaan pada saat itu. Di setiap aku melangkah kakiku terasa manis di penuhi bunga di antara tubuhku ini, kenapa dengan kepalaku ini dipenuhi dengan adegan senyum nya laki-laki itu terngiang-ngiang, aku menyukai bagaimana dia bersinar dan sekarang senyumnya membuatku penasaran dengannya, aku jadi rindu ingin bertemu dengannya. Saat ini aku libur yang aku nantikan ketika aku lelah berkuliah namun kenapa aku merasa kecewa ya dengan hari libur ini, padahal aku berniat ingin beristirahat dari banyaknya aktivitas namun kenapa aku tidak senang, apa jangan-jangan aku ingin melihat cowok itu lagi ya, di luar dugaan aku menginginkan hal itu tanpa sadar, dan aku tidak mau suka sendirian aku tidak mau ini hanya kenangan aku akan membuat strategi di mana situasi yang memungkinkan agar aku bisa dekat dengannya secara intens aku akan menargetkan sesuatu apa ya, mungkin aku harus tahu nomor ponsel nya tanpa aku mempermalukan diriku dengan meminta namun harus ada sebuah pengalihan, jika ini berhasil sesuai yang aku rencanakan GG (Good Game) sih ini. Aku berpikir dulu bagaimana cara mendekatkan diri kepada cowok itu aku merenung dan semakin aku memikirkannya pada akhirnya kesalahan pertama adalah aku tidak tahu namanya, siapa dia ya aku bahkan tidak ingat jelas ini membuatku kesal sungguh dari awal pertama harusnya aku tahu siapa nama cowok yang aku incar, bagaimana caranya aku tahu nama dia ya apakah aku minta bantuan Mosa, sepertinya aku akan menanyakan pada Mosa terkait cowok itu, Aku pun telepon Mosa dan akhirnya diangkat Mosa.
“Halo Mor?” Teleponku diangkat oleh Mosa tetapi disekitar dia sangat berisik sehingga aku tidak bisa menjawab teleponnya dengan benar. Dan aku mematikan teleponnya dan berkirim pesan kepadanya di mana aku ingin bertemu dengan Mosa di Taman Panglima dekat rumah ku jam 2, Taman Panglima adalah tempat yang sering aku dan Mosa kunjungi ketika kita ingin bermain atau sekedar belajar bersama.
Akhirnya aku menunggu Mosa sekitar 5 menit dan dia baru muncul di arah kanan dengan membawa kunci mobil di tangannya, ketika ke arahku dia memasukkan kunci mobil ke tas nya lalu seketika melambaikan tangan kepadaku dan duduk di sampingku.
“Yo Amor, kenapa nih tidak angin tidak ada hujan minta bertemu, ada tugas ya?”
“Tugas ada sih, ada yang lebih penting dari tugas Mo,”
“Apa emang, kamu punya teman baru?”
“Engga bukan itu,”
“Kamu pindah rumah?”
“Bukan Mo, makanya dengerin aku sampai selesai jangan dulu panik,”
“Iya baik, jadi apa?”
“Aku suka seseorang Mo,”
“Cowok?”
“Mo, seenggaknya aku jomblo dari lahir pun aku suka cowok lah masa aku selama ini suka cewek,”
“Aku terkejut kamu bisa suka orang, ya maksudnya adalah kamu kagum sudah biasa aku dengar, kamu incar cowok mungkin sudah biasa tapi ini suka cowok itu aneh dan sangat asing di telinga aku jadi aku terharu Mor, lihat aku mau nangis nih,” ejek Mora dengan segala drama lucunya itu
“Iseng ya kamu, aku serius nih Mo beneran,”
“Jadi siapa orangnya?”
“Cowok itu,”
“Itu siapa?”
“Jujur aku enggak tahu namanya Mo,”
“Hah kamu aneh sih, suka orang tetapi enggak tahu namanya,”
“Makanya bantuin aku Mo,”
“Baik akan aku bantu, aku sekarang akan menelepon temen-temen aku dulu,”
“Hah, siapa?”
“Tergantung crush kamu dia kelas mana?”
“C,”
“Jadi sekarang aku hanya harus menelepon teman yang dikelas nya, tetapi apa ciri cowok yang kamu maksud itu?”
“Tampan, bersih, berkulit putih, entah ketua atau siapa tetapi dia ada pengaruhnya di kelas nya itu, dia bersinar dia-” ucapanku terhenti oleh Mosa, “Cukup Mor, maksud aku kek apa ya teman dia siapa aja yang dekat?”
“Dia sepertinya teman dekat Zora,”
“Zora ya, kalau kamu bilang teman dekat artinya yang sering bersama Zora aku pikir aku akan menelepon teman aku yang di kelas C sekarang, sebentar ya Mor,”
Mosa pun menelepon temannya yang berada di kelas C dan menanyakan cowok yang aku sukai itu tidak lupa menanyakan siapa saja teman dekat Zora dan cocok dengan spesifik yang aku kasih dan mereka mengerucutkan semuanya lalu terciptalah satu nama yang tepat dialah bernama Afga Nicholas. Akhirnya telepon mereka berdua terhenti dan informasinya akan disampaikan padaku.
“Jadi Mor, namanya Afga Nicholas dia memang berpengaruh dikelas nya karena dia ketua kelas dan dia tuh tidak mengikuti organisasi jadi akan susah juga kamu sering bertemu dia, banyak sekali yang suka dia dan itu tantangan juga karena dia termasuk cowok populer karena dia dingin dan hangatnya cuman ke teman dekatnya saja dia enggak pernah deket sama cewek manapun maka nya dia disebut tampan idaman, susah kan Mor? Masih yakin sama dia?” tanya serius dilontarkan Mosa dengan menatap penuh harapan padaku.
“Yakin sih Mo,”
“Mor tolong ini aku enggak mau menghancurkan harapan kamu tetapi jika kamu terluka berharap sama cowok cari aku ya, dia tuh bener-bener populer dan ada saatnya dia akan mengabaikan kamu karena dia itu ya begitu dia-” ucapannya terhenti karena dipotong olehku
“Kamu tuh kenapa, aku tuh baik-baik saja kok lagi pula aku tidak berharap banyak padanya hanya penasaran saja dan mungkin kalau disebut jatuh cinta iya tetapi aku tidak akan sejauh itu juga kok Mo aku sadar diri mana mau sih dia sama aku,”
“Aku takut tetapi aku sadar kamu juga bisa menjaga diri Mor, jangan lupakan aku ya setelah rasa penasaran kamu terpuaskan jangan mencari lagi apa yang bukan menjadi kendali kamu,”
“Siap Momo!”
“Bagus!”
“Aku lapar Mo cari makan yuk!”
“Dasar, ayo aja aku juga mau makan berdaging,”
“Steak ya,”
“Ok wagyu A5,”
“Mana ada uang beli daging mahal itu,”
“Kamu lupa ya aku kan Mosa Leafa,” Aku pun tersenyum, dan akhirnya aku dan Mosa pergi makan di hotel dan restoran yang menyajikan Wagyu A5 dibalutkan dengan makanan mahal lainnya, susah untukku menolaknya, temanku terlalu kaya.